12 Agustus 2009

Jujur Kukatakan: Aku Tak Suka "Jujur"



Pada suatu saat di tahun 2005...

“Mana ini, Mas?” tanya saya sambil kucek-kucek mata. “Pulo Gadung,” jawab lelaki berseragam warna terong itu melintas.
“Pool tidak jauh lagi, kan?” Saya mengajukan konfirmasi, tanpa perasaan maksud bertanya, dan dengan air muka orang yang seolah-olah berpengalaman di Jakarta.
“Nggak begitu jauh...”

 Segera saya telepon adik sepupu, memberikan perintah agar segera meluncur dari kost untuk menjemput di Lebak Bulus, pool Lorena-Karina. Tapi, karena kantuk mata mengalahkan segalanya, tertidurlah saya pun dengan asyiknya. Handphone di saku celana pun melorot tanpa terasa.

 Entah berapa lamanya kemudian, baru saya terjaga. Bus melaju dengan kecepatan, dalam perkiraanku, 80 KM per jam. Saya bangkit dari kursi dan maju ke depan sambil kulihat sisi kiri-kanan jalan. Ah, sepertinya, kok?

* * *

“Pool masih jauh?” Kali ini, saya bertanya dengan nada agak sumbang, dengan air muka mengandung keraguan.
“Hampir…” jawab salah satu dari awak bis itu dengan sekali toleh, dingin.
Saya duduk kembali, tak berani tidur. Cukuplah sisa perjalanan 22 jam dari rumah, dengan segala acara bonus macetnya, dinikmati saja.

Bis masuk keramaian. Tapi, perasaan ini kok memberontak bahwa saya sedang dalam arah yang salah? Ah, ini tampaknya bukan pemandangan yang pernah saya lihat beberapa tempo sebelumnya. Dan ternyata… ini Bogor. Ya, Karina mau masuk pool Bogor, karena tadi (mungkin) sudah masuk Lebak Bulus dan saya tertidur.

* * *

Meskipun saya datang dari Madura memang mau pergi ke Bogor, tapi karena acara masih esoknya dan saya harus ke Ciputat lebih dulu di hari itu, saya pun balik jalan. Dengan rasa capek yang membuncah, saya ikut bis—kalau tak salah—Agra Mas dari Baranangsiang dengan tujuan Lebak Bulus. Saat masuk bis, ternyata saya adalah penumpang satu-satunya, yang masuk pertama. Saya pikir, berapa lama lagi, ya, bis ini akan berangkat? Musik mengalun, “Jujur”. Itulah saat pertama kali saya mendengarkan lagu—yang belakangan diketahui dari—band Radja yang kebetulan berada di pamuncak kemasyhurannya. Capek dan kesal campur aduk.

Makanya, sampai sekarang, setiap kali mendengar lagu ini mengalun, memori saya langsung terbawa pada hal-hal yang mengandung capek dan kesal: ketiduran, Baranangsiang, Karina. Itulah mengapa pula harus dikatakan: “Jujur, aku tak suka “Jujur”!

6 komentar:

a-chen mengatakan...

maab mampir dulu, mata udah nggak kuat mbaca, udah ngantuk

A. Dzaki Nuhaiz AS mengatakan...

"jujur kukatakan: aku suka kejujuran"

M. Faizi mengatakan...

@achen: sudah bangun?
@Dzaki: beda

a-chen mengatakan...

hehehhehehe....ini ngantuk lagi pak....
hihihihiih...kalo gitu jujur aku suka judi (rhoma irama)...^_^

isma mengatakan...

hihihi "jujur" itu nomor kesekian, yang penting pede...

M. Faizi mengatakan...

@Achen dan Isma: komentar baru ditemukan, hahaha... jujur lho saya ini

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog