07 Agustus 2009

Tamu


Menghadapi tamu dalam jumlah banyak dan kekerapan yang tinggi ternyata butuh ketelatenan, kesabaran, persiapan mental, dan bahkan juga kewaspadaan yang tinggi pula. Sebab, para tamu memang (seharusnya) datang dengan maksud yang sama, tetapi mungkin dengan budaya dan etiket yang berbeda. Tamu mungkin seluruhnya berniat baik, tetapi sepersekian persen darinya ada pula yang jahat, kadang juga usil.


Pengalaman ini kuangkat berdasarkan pengalaman meladeni tamu, yang datang bergerombol atau satu lawan satu. Mereka, yang mutakhir, adalah para tamu yang datang untuk menghibur dan melipurku karena kebagian jatah sedih untuk kali keempat dalam 24 bulan terakhir, yaitu kepergian mbah putriku yang notabene menjadi “ibu angkat”-ku sejak kecil hingga baligh (sebelumhya, secara berurutan: mertua, ayah, si mbah laki-laki).


Tamu-tamu itu:

Ada yang benar-benar mau takziyah (datang menghibur, melipur)

Ada yang datang dan langsung nyantai ngobrol lain hal (tapi cukup menghibur juga, sih)

Ada yang datang langsung pencat-pencet HP dan telepon sana-sini dan tidak peduli diajak ngobrol oleh si aku secara tuan rumah

Ada yang diam saja dan hanya punya “iya-tidak” untuk jawaban bagi setiap pertanyaan yang dilontarkan.


Semua tamu di atas masih bisa dimaklum, kecuali tamu yang datang untuk menipu.

Beberapa waktu lalu, di rumah pamanku, kisah ini terjadi. Seorang pengemban misi “berbuat kejahatan dalam perjalanan”, nyamar dalam gerombolan tamu. Lalu, karena ada handphone terbiar dan tergetlak tanpa perhatian, diembat pulalah. Namun, ada, lho, tamu yang nawaitu-nya dari rumah memang sudah mengemban misi “perjalanan untuk berbuat kejahatan”, seperti tamuku yang satu ini. Dia mengajukan kuitansi pembayaran untuk sebuah transaksi tidak jelas, dengan diskon 50%, dan kelebihan-kelebihan lain. Aku diminta mengeluarkan uang untuk membayar sesuatu yang barangnya tidak ada, tidak jelas minimalnya. Untung kuberi dia “sambal gertak” yang kebanyakan cabe-nya sehingga dia pulang kepedasan.


Kukira, telaten dan sabar bukan berarti mau untuk ditipu dan diperdaya. Dan orang sabar itu bukanlah orang yang …

ah, kok malah ngelantur…

maklum, ini hari jumat! Efek khotbah masih tersisa begitu kuat.

Maaf!

4 komentar:

partelon mengatakan...

Bhuh, 'tamu' jenis huru-hara, musibah tersendiri, Ra... Hehehe...
Eh, kaule selama namuy ka dhalem sobung se daddi songkan panggheliyen engghi?

M. Faizi mengatakan...

Alhamdulillah Aman....Amien...

Dzaki Nuhaiz mengatakan...

tamu yang pembawa musibah...

A. Dzaki Nuhaiz AS mengatakan...

maaf, salah nulis...

"tamu yang membawa musibah..."

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog