30 Agustus 2009

Warung Betis


Bulan puasa seperti sekarang, di daerahku, warung-warung makan biasanya pada tutup. Pemilik warung menyadari, mayoritas penduduk di sini merupakan pemeluk agama Islam dan tentu saja mereka—umumnya—berpuasa. Jalan raya di sini juga bukan jalan provinsi yang tentu tidak begitu ramai dilalui orang-orang yang punya “Surat Izin Tidak Berpuasa” karena sedang dalam perjalanan jarak-jauh (musafir) dengan kompensasi/rukhshah (diperbolehkan buka/tidak berpuasa dengan syarat harus menggantinya suatu saat, di lain hari).


Tetapi, di terminal-terminal, umumnya di kota, tetap saja ada “Warung Betis” yang online. “Warung Betis” ini merupakan kedai makanan kaki lima yang hanya bertabir kain memanjang. Mereka tetap buka siang-siang (meskipun di antara para pelanggan itu ada yang benar-benar mengantongi “Surat Izin Tidak Berpuasa”, tetapi bukan berarti memang ada pula yang benar-benar tidak mau berpuasa). Di warung ini, wajah para penyantap saja yang di-klik_kanan>properties>attributes>hidden pada orang lain, kaki dan betisnya, tetaplah kelihatan. Asap rokok, bau rempah-rempah, dan aroma makanan pada umumnya tetap mengumbar dari sana.


Catatan: hanya ada bagian kecil dari anggota tubuh seseorang yang dapat ditandai sebagai bagian “rawan dan malu jika ditampakkan”, antara lain adalah “wajah/muka”. Rupanya, betis tidak termasuk pada bagian ini. Kasihan kau, betis!


27 Agustus 2009

Paragraf


Kali ini, Kormeddal tampil untuk edisi bahasa, khususnya seputar paragraf deduktif dan induktif.


DEDUKTIF (Inti kalimat ada pada bagian awal paragraf)

Nahas benar hari-hariku belakangan ini. Sepupuku menabrakkan bumper Suzuki Carry ke tembok gudang tadi malam. Bumper jadi penyok dan lampu seinnya retak. Siang hari esoknya, atap pojok kamar mandi mushalla yang baru saja diperbaiki diserempet atap mobil tamu. Patahlah papan kayu bercat meni merah itu. Sore harinya, pojok kanan bokong Colt T-120 milikku ditabrakkan Jauhari, sopir yang kukenal paling hati-hati dalam mengemudi, ke tugu pembatas. Akibatnya, hancurlah dempulan bodi colt tua itu sebesar peci nasional ukuran 10. Kocekku pun harus dirogoh lebih dalam. Belum selesai: esok hari berikutnya, sopir adik iparku, saat memundurkan kendaraannya, menabrak pohon klengkeng kesayanganku hingga patah. Pohon ini merupakan tanaman terakhir alhamrhum bapakku, dua tahun yang lalu, dan tumbuh baru sejengkal setengah saja.


INDUKTIF (Inti kalimat ada pada bagian akhir paragraf)

“Padahal, ceritanya begini, Pak. Setelah bumper Carry itu penyok, dibawalah ia ke Pak Muntasir untuk diperbaiki. Sebetulnya, Pak eMMon ini bukan bengkel mobil, tetapi dia merupakan “kakek segala tahu”-nya kami. Dia ini bisa mengerjakan kabel, karburator, las, cat, dan apa saja sesuai permintaan pasiennya. Demikian pula, Si Titos yang baru saja nyeruduk tugu, harus opname di “As’ari & Dulla All Stars”. Colt Titosku ini harus melalui tahap pengecatan ulang pada beberapa sisinya. Kedua cerita di atas ini tidak sekadar butuh dempul dan cat, tetapi juga butuh uang. Nah, apakah Sampeyan ini sedang ada uang? Mari, beri saya pinjam.


Catatan: seseorang cenderung menggunakan paragraf induktif ini untuk meminjam uang. Hal ini sesuai dengan kata pepatah: "Berbasa-basi dulu, berinti-inti kemudian..."


19 Agustus 2009

Hukum Karma

“Jika kita tidak dapat berbaut baik pada orang lain, berusahalah untuk, sekurang-kurangnya, tidak mengusik orang lain.”

Ini pesan seseorang padaku. Dia, meskipun mungkin tidak percaya karma, tetapi menyadari kalau perbuatan baik itu akan diganjar dengan kebaikan juga. Seorang kawanku yang lain (dia ini bapak-bapak dan punya dua anak) sering mentraktir aku sewaktu kost dahulu di Jogja. Beliau ini juga sering memasakkan mie plus mentega plus kornet buatku. Aku merasa sungkan (tapi enak, sih) karena seharusnya akulah yang berlaku demikian. Suatu saat, aku tanya mengapa ia lakukan hal-hal semacam ini? “Aku ini perantau,” jawabnya. “Aku tinggalkan anak-istri di rumah. Jika aku berbuat baik pada orang, maka orang lain akan berbuat baik padaku, atau keluargaku yang ada dirumah.” Begitu kepercayaannya.

Hukum karma adalah hukum sebab akibat. Yang belajar akan pintar, yang malas tak naik kelas. Begitu hukum umumnya. Atau, versi yang lain adalah seperti yang disampaikan seseorang kepadaku, tadi sore. Begini katanya:

“Dulu, kita selalu dibikin antre panjang saat mau masuk feri Ujung-Kamal. Sekarang, sejak diresmikannya Suramadu, giliran feri yang nunggu kita. Rasain.”

Capo’ tola itu…

12 Agustus 2009

Jujur Kukatakan: Aku Tak Suka "Jujur"



Pada suatu saat di tahun 2005...

“Mana ini, Mas?” tanya saya sambil kucek-kucek mata. “Pulo Gadung,” jawab lelaki berseragam warna terong itu melintas.
“Pool tidak jauh lagi, kan?” Saya mengajukan konfirmasi, tanpa perasaan maksud bertanya, dan dengan air muka orang yang seolah-olah berpengalaman di Jakarta.
“Nggak begitu jauh...”

 Segera saya telepon adik sepupu, memberikan perintah agar segera meluncur dari kost untuk menjemput di Lebak Bulus, pool Lorena-Karina. Tapi, karena kantuk mata mengalahkan segalanya, tertidurlah saya pun dengan asyiknya. Handphone di saku celana pun melorot tanpa terasa.

 Entah berapa lamanya kemudian, baru saya terjaga. Bus melaju dengan kecepatan, dalam perkiraanku, 80 KM per jam. Saya bangkit dari kursi dan maju ke depan sambil kulihat sisi kiri-kanan jalan. Ah, sepertinya, kok?

* * *

“Pool masih jauh?” Kali ini, saya bertanya dengan nada agak sumbang, dengan air muka mengandung keraguan.
“Hampir…” jawab salah satu dari awak bis itu dengan sekali toleh, dingin.
Saya duduk kembali, tak berani tidur. Cukuplah sisa perjalanan 22 jam dari rumah, dengan segala acara bonus macetnya, dinikmati saja.

Bis masuk keramaian. Tapi, perasaan ini kok memberontak bahwa saya sedang dalam arah yang salah? Ah, ini tampaknya bukan pemandangan yang pernah saya lihat beberapa tempo sebelumnya. Dan ternyata… ini Bogor. Ya, Karina mau masuk pool Bogor, karena tadi (mungkin) sudah masuk Lebak Bulus dan saya tertidur.

* * *

Meskipun saya datang dari Madura memang mau pergi ke Bogor, tapi karena acara masih esoknya dan saya harus ke Ciputat lebih dulu di hari itu, saya pun balik jalan. Dengan rasa capek yang membuncah, saya ikut bis—kalau tak salah—Agra Mas dari Baranangsiang dengan tujuan Lebak Bulus. Saat masuk bis, ternyata saya adalah penumpang satu-satunya, yang masuk pertama. Saya pikir, berapa lama lagi, ya, bis ini akan berangkat? Musik mengalun, “Jujur”. Itulah saat pertama kali saya mendengarkan lagu—yang belakangan diketahui dari—band Radja yang kebetulan berada di pamuncak kemasyhurannya. Capek dan kesal campur aduk.

Makanya, sampai sekarang, setiap kali mendengar lagu ini mengalun, memori saya langsung terbawa pada hal-hal yang mengandung capek dan kesal: ketiduran, Baranangsiang, Karina. Itulah mengapa pula harus dikatakan: “Jujur, aku tak suka “Jujur”!

11 Agustus 2009

Tilang Berhadiah

Setiap kali melihat anak muda ngebut sembarangan, atau tak memakai lampu di malam hari, belok tiba-tiba tanpa lampu sein, berhenti mendadak tanpa lampu rem, atau, intinya, ugal-galan di jalanan raya, ingin rasanya Saya jadi polisi dan akan kuberi tindakan dan penyadaran mereka semua itu (makanya, dulu aku mengidolakan Chip's dan suka kartun Police Academy).

Namun, sejak pukul 09:15 (14 Mei 2009) keinginan itu pupus sudah...

Mobil Titos (Colt T-120) yang kujalankan, dengan penumpang 4 orang, diberhentikan polisi dalam sebuah operasi lalin di Jalan Panglegur, Pamekasan, seberang jalan RSUD yang baru.

Kami sempat adu mulut; saya bicara sopan, tapi perwira polisi berinisial DH itu marah-marah (masih sopan tidak kutulis “membentak-bentak”).
“Malu sama peci haji Anda..” (ketika itu aku pakai peci haji)
“Alasan Anda itu biasa, modus operandi sopir-sopir di sini...”

(Perwira itu menghindar ketika saya desak dan menyatakan bahwa saya membuka sabuk pengaman itu karena mau turun. Sabuk itu copot ketika sang perwira menyentaknya). Maklumlah, semua safety belt (sabuk keselamatan) beginian (yang “dipasang sendiri” di mobil-mobil tua, atau mobil baru sekalipun tetapi bukan dari pabrikan) lebih bersifat simbolis, tak ada artinya. Seharusnya, sabuk keselamatan akan menahan badan secara otomatis dari benturan dengan stir jika terjadi hentakan/tabrakan. Tapi sabuk-sabuk keselamatan macam di mobilku itu, mana mungkin dia berfungsi seperti itu. Ya, pasti melorot lah, karena memang tidak berpegas.

“Anda itu harus minta maaf!”

Tapi, karena hujjahku masuk akal, dan agar tidak lebih panjang urusan, saya minta maaf. Akhirnya, permintaan dikabulkan meskipun dengan berat hati, begitu kelihatannya. Saya tidak jadi kena tilang. Sementara anak buahnya bilang selamat jalan dengan hormat...

Istriku dan beberapa penumpang perempuan yang lain merasa tidak terima atas sikap tidak sopan sang perwira polisi tersebut terhadapku. Saya mengajak mereka buru-buru pergi karena khawatir akan terjadi cek-cok dan adu tensi tinggi. Dengan gaya suami siaga yang sok bijak, saya bilang, “Mungkin bapaknya itu punya masalah dengan istrinya sebelum pergi bertugas. Akibatnya, ya, emosinya tumpah di jalanan..” Masuk gigi 1, lepas kopling, tancap gas, dan kami melaju. Mobil Titosku menderu…

Saya tiba di tujuan dalam keadaan capek pikiran, tapi masih bersyukur karena daftar tilang saya masih nihil. Alhamdulillah..

Namun, tiba-tiba...

Saat merogoh sak baju, kedapatan duit 20.000 yang tak jelas silsilahnya di dalam saku. Saya itung ulang semua uangku: lengkap, kap, kap! Lalu, milik siapakah uang 20.000 itu? Saya menduga, uang-bernasib-malang ini milik pelalu-lintas lain yang melanggar yang tak mau ditilang dan memilih nyogok. Astaghfirullah. Siapah tuan pemilik uang haram ini?
Saya membatin, “Apakah milik muda-mudi tak berhelem, ya? Ataukah punya sopir colt pick up yang muatannya berjibun itu-kah? Entahlah, yang pasti, saat saya ambil SIM/STNKB-ku dari meja kap sedan mobil polisi itu memang tergeletak bersama SIM/STNKB kendaraan-kendaraan lain yang kebetulan juga kena tilang.

Waduh..

Saya serahkan uang itu kepada seseorang sambil berkata, “Terserah mau dibagaimanakan,” kataku sambil menyerahkan uang itu. “Tapi, jangan sampai perutmu, perut istrimu, dan perut anak-anakmu, kemasukan makanan dari uang yang tak jelas silsilahanya ini.”
“Kalau masuk ke telinga?” tawarnya.
“Maksudnya?” Saya balik bertanya.
“Dibelikan pulsa, misalnya, buat nelepon?

Makin pusing kepalaku dibuatnya!

Catatan Tersisa:
1. Image Colt T-120 adalah omprengan. Jadi, mobil plat hitam pun dikira ngompreng.
2. Barangkali, saya juga disepelekan karena perwira itu melihat SIM-ku yang “masih A” dan saya dianggap baru belajar mengemudi (meskipun sudah 3 kali bikin SIM A). Menyesal saya tak ambil SIM B-2 saja biar dikira sopir bis/tronton.
3. Bukan hanya kanker yang berbahaya, cara pandang bahwa pengemudi lebih rendah derajatnya daripada aparat polisi itu juga tak kalah berbahaya.
4. Lain kali, kalau mau ke kota aku bawa Grandis atau Mazda RX-ku saja, ah, meskipun DURNO! :-)

[tulisan di atas diambil dari blog-ku juga]

07 Agustus 2009

Tamu


Menghadapi tamu dalam jumlah banyak dan kekerapan yang tinggi ternyata butuh ketelatenan, kesabaran, persiapan mental, dan bahkan juga kewaspadaan yang tinggi pula. Sebab, para tamu memang (seharusnya) datang dengan maksud yang sama, tetapi mungkin dengan budaya dan etiket yang berbeda. Tamu mungkin seluruhnya berniat baik, tetapi sepersekian persen darinya ada pula yang jahat, kadang juga usil.


Pengalaman ini kuangkat berdasarkan pengalaman meladeni tamu, yang datang bergerombol atau satu lawan satu. Mereka, yang mutakhir, adalah para tamu yang datang untuk menghibur dan melipurku karena kebagian jatah sedih untuk kali keempat dalam 24 bulan terakhir, yaitu kepergian mbah putriku yang notabene menjadi “ibu angkat”-ku sejak kecil hingga baligh (sebelumhya, secara berurutan: mertua, ayah, si mbah laki-laki).


Tamu-tamu itu:

Ada yang benar-benar mau takziyah (datang menghibur, melipur)

Ada yang datang dan langsung nyantai ngobrol lain hal (tapi cukup menghibur juga, sih)

Ada yang datang langsung pencat-pencet HP dan telepon sana-sini dan tidak peduli diajak ngobrol oleh si aku secara tuan rumah

Ada yang diam saja dan hanya punya “iya-tidak” untuk jawaban bagi setiap pertanyaan yang dilontarkan.


Semua tamu di atas masih bisa dimaklum, kecuali tamu yang datang untuk menipu.

Beberapa waktu lalu, di rumah pamanku, kisah ini terjadi. Seorang pengemban misi “berbuat kejahatan dalam perjalanan”, nyamar dalam gerombolan tamu. Lalu, karena ada handphone terbiar dan tergetlak tanpa perhatian, diembat pulalah. Namun, ada, lho, tamu yang nawaitu-nya dari rumah memang sudah mengemban misi “perjalanan untuk berbuat kejahatan”, seperti tamuku yang satu ini. Dia mengajukan kuitansi pembayaran untuk sebuah transaksi tidak jelas, dengan diskon 50%, dan kelebihan-kelebihan lain. Aku diminta mengeluarkan uang untuk membayar sesuatu yang barangnya tidak ada, tidak jelas minimalnya. Untung kuberi dia “sambal gertak” yang kebanyakan cabe-nya sehingga dia pulang kepedasan.


Kukira, telaten dan sabar bukan berarti mau untuk ditipu dan diperdaya. Dan orang sabar itu bukanlah orang yang …

ah, kok malah ngelantur…

maklum, ini hari jumat! Efek khotbah masih tersisa begitu kuat.

Maaf!

05 Agustus 2009

Lampu Sein

Rupanya, ada (mungkin banyak) orang yang bisa bawa sepeda motor, nyetir/nyopir, punya SiM, tetapi belum tahu fungsi dari lampu sein (turn signal/reting). ini buktinya...


* * *


Pada hari Kamis, kira-kira jam 08.38, tanggal 30 Juli 2009, terjadi kecelakaan lalu-lintas di depan rumahku. Seorang anak muda berseragam pramuka (maaf) yang membonceng seorang anak muda lain dan tidak berseragam, menabrakkan Suzuki Smash-nya (berplat “B”) pada sebuah Toyota Kijang Super warna biru berplat DK. (saya masih ingat kedua nomor polisi kedua kendaraan ini tetapi sengaja tidak ditampilkan demi menjaga nama baik).


Sang anak muda sedikit terluka, dan si kijang pun ada beberapa memar di sisi kanan bodinya. Menurut saksi mata, ada 3 orang, jelas sang sopir telah menyalakan lampu sein kanan, sekitar 50 meter sebelum berbelok. Akan tetapi, meskipun semua saksi mata menyalahkan si pengendara sepeda motor karena dianggap teledor, tapi sang sopir memberi maaf. Akhirnya: Damai. Tak ada masalah.


Dalam pikiranku, tesisa percakapan imajiner seperti ini, beberapa waktu kemudian:


Sopir: kamu dari mana?

pengendara sepeda motor: Moncek

Sopir: apa kamu tidak melihat lampu sein saya? kan saya sudah nyalakan dari jauh!

pengendara sepeda motor: lihat

Sopir: kok kamu masih nyerobot jalan saya?


[ini yang betul-betul imajiner....]


pengendara sepeda motor: emang apa makna lampu sein?

Sopir: lho, kok tanya? emang kamu tidak tahu? itu kan buat tanda kalau saya mau berbelok??! emang kalau mau berbelok ke kanan apa saya harus melambaikan tangan kanan sebagai ganti bendera semapor karena kamu anak pramuka?

pengendara sepeda motorr: bukan, bukan, saya kira itu lampu disko karena keberkedap-kedip

Sopir: PALANG!! usa tompo' ka lambhana mun oreng enga' reyya! (batinnya dalam bahasa daerah yang nyaris punah karena makin sedikit penggunanya itu...)


Catatan:

Jika "memiliki SIM" untuk menjalankan kendaraan bermotor hukumnya adalah WAJIB, maka hal-hal yang menjadi syarat pengetahuan terhadap tata tertib lalu-lintas itu juga WAJIB. Artinya, Samsat WAJIB menguji pengetahuan calon pemilik SIM dalam hal bertata-tertib lalin.


Enggi napa enggi?

04 Agustus 2009

Panggilan Shalat

Speaker TOA merupakan merek speaker yang melegenda. Produknya terkenal di mana-mana. Biasanya, di ruang takmir masjid, di lingkungan rumahku, selalu ada perangkat audio ini. Dan biasanya lagi, ia dibeli serangkai dengan tape (non-recorder) bermerek Philips made ini Holland, diperkuat dengan dorongan tenaga amplifier bermesin Matahari. Di samping perangkat sandingnya, di masjid/surau tersebut, ini biasanya lagi, ada satu kaset, yakni Pengajian Al-Quran terbitan Lokananta Solo dan isinya tartil Mahmud Al-Husari.


Nah, speaker ini, dinyalakan, sekurang-kurangya, lima kali sehari: yakni untuk mengumandangkan panggilan (adzan) Subuh, Duhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Tapi, Kiai Abdul Basith di seberang rumahku, menyalakannya juga, untuk panggilan yang lain, yakni “panggilan Shalat Dhuha!”. Ya, banyak panggilan untuk shalat (fardhu), tetapi jarang sekali ada panggilan untuk shalat Dhuha.


Setiap pagi, beberapa saat setelah matahari terbit, berkumandanglah panggilan dari loud speaker (kata orang tua, lospiker) yang memanggil-manggil:


”shalatat dhuha...”

“shalatat dhuha…”


Namun, belakangan, sang kiai memodifikasi panggilan tersebut menjadi lebih kreatif, dan seolah-olah sedang sound check:


[tes.. tes..]

SATU ..

DHUHA…

SATU ..

DHUHA….

[tiga]


Cara dakwah, untuk lebih efektif, memang harus lebih kreatif!


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog