Berceramah atau berbicara secara monolog di depan orang banyak merupakan salah satu tugas yang tidak bisa saya lakukan. Terbukti, saya pernah berceramah dalam bahasa Madura. Namun kurang dari 10 menit, bahan-bahan omongan sudah habis. Berbeda dengan penceramah yang ahli, mereka bisa berbicara berjam-jam dan tanpa merasa keder untuk mengulik bahan sekali pun sambil jalan.
Ceramah adalah suara satu arus. Tugas penonton hanya mendengarkan, ya the audience is listening. Maka dari itu, materi-materi yang disampaikan dalam ceramah, di satu sisi, akan selalu aman mengalir sampai ke telinga pendengar. Namun, pernyataan ini bukan berarti penceramah boleh semena-mena dengan gagasan yang disampaikannya.
Di Madura, sering kali ada acara yang menampilkan lebih dari seorang penceramah. Bahkan, pada acara-acara haflatul imtihan atau kegiatan tutup tahun sebuah madrasah, atau maulid nabi, ada yang menampilkan tiga penceramah sekaligus. Suatu peristiwa terjadi berkaitan dengan hal ini: seorang penceramah secara berapai-api mengungkapkan gagasannya di atas panggung. setelah satu jam lebih, ceramah selesai dan dia turun dari panggung.
Mungkin, karena statemen dari si penceramah pertama ini dianggap membahayakan atau khawatir disalahpahami, waktu dimanfaatkan oleh penceramah kedua untuk memberikan tanggapan balik. Sayang, tanggapan baliknya ini cenderung mengadung kritik terhadap pesan yang telah disampaikan oleh penceramah pertama tadi.
Di sana, di bawah panggung, penceramah pertama yang kini duduk di sofa baris depan bersama tuan rumah, tampak mulai gelisah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, berbisik kepada teman duduknya. Ia sampaikan bahwa yang tadi telah disampaikananya telah disalahpahami oleh penceramah kedua. "Padahal saya tidak bermaksud demikian," katanya. "Saya tidak sembarangan begitu."
Siapa yang bingung? The audience is listening.
Labels:
kisah nyata


Kejadian dimana ini?
Kecamatan Rubaru, Sumenep
kalo gitu pasti serru, ra...
subaidi: tidak terbayangkan :)