Minyak Wangi dan Konsentrasi

Selasa, Agustus 16, 2011



Saya sangat suka parfum ini, Silver Stone. Aromanya segar. Maaf, ini bukan iklan. Sekitar 15 bulan yang lalu, paman saya mengirim parfum ini dari Makkah, dua satu kotak sekaligus. Pafum bikinan Abdul Rahman Qurban Parfume Factory ini berisi satuan, per botol isi 8 ml. Kotak yang satunya berisi versi 3 ml-an. Meja saya seperti warung penjual minya wangi.

Tiga hari yang lalu, saat saya menyelenggarakan shalat tarawih, tiba-tiba sajadah saya menyemburkan aroma parfum. Namun, yang ini beda, bukan silver stone, karena saya memang tidak mengolesi sajadah itu. Yang ini, baunya sangat tajam, lebih tajam daripada wangi hajar aswad. Mungkin dari keluarga misik. Saya akui, saya terganggui dengan aroma tersebut. Siapakah yang mengolesi sajadah saya tadi? Apa maksudnya? Saya berbaik sangka, barangkali salah seorang anggota shalat tarawih ingin berbaik hati. Sayang, ia melakukan cara yang keliru.

Esoknya, sajadah itu dicuci dan saya menggunakan sajadah yang lain. Eh, ternyata, tadi malam, begitu saya bersujud untuk rakaat pertama shalat Isya’, astaga, wangi parfum menyengat itu muncul lagi. Rupanya, seseorang telah mengolesi parfum itu pada waktu antara Maghrib dan Isya’.

Konsentrasi langsung buyar. Apa boleh buat, selesai shalat Isya’ dan sebelum shalat tarawih, saya langsung melipat sajadah berparfum tersebut dan menggantinya dengan sajadah yang lain yang juga saya tinggal di mushalla. Saya tidak tahan, concentrated parfume itu telah mengalahkan konsentrasi saya yang lain. Saya berharap, semoga si pengoles parfum itu tidak mengolesi parfum kebanggaannya di sajadah saya, nanti malam.


Labels: , ,




Keinginan teman saya ini sederhana, tetapi butuh spekulasi yang tinggi: menang undian/lotere sekitar 1 milyar. Semua duitnya akan didepositokan dan dia tidak akan bekerja atau investasi apa pun. Dia hanya akan menikmati hidup dengan duduk baca koran di pagi hari, siang nonton tivi, dan jalan-jalan sampai malam. Ia hanya ingin hidup dari bunga bank. Cukup.

Ada pula seorang yang sungguh sangat kagum dan bernafsu menjadi pegawai. Pokoknya pegawai, apalagi pegawai negeri. Karena dengannya, kata dia, hidup dia akan terjamin setiap bulan. Kelak, dia juga akan tenang menghabiskan hari-hari di masa tua. Namun, kasihan yang ini: dia belum meraih cita-cita itu sampai sekarang meskipun telah banyak menghilangkan sawah dan ladang orang tuanya. Entah untuk apa.

Satu lagi. Dia yang ingin menjadi orang terkenal. Keinginan ini berdasar pada faktor dendam. Dan dia tidak tidak main-main untuk ini. Ia belajar menyanyi, bersengau-sengau kalau bicara, dan sangat mencintai cermin. Rambutnya selalu rapih, pakaian bersih, dan punya hobi bersisir. Ia ingin jadi sejenis artis, sekurang-kurangnya masuk tabloid showbiz lah. Tujuan akhirnya bukanlah duit, melainkan dengannya dia berharap bisa memilih pasangan yang paling cantik lalu menunjukkan kepada perempuan-perempuan desanya yang telah menolak cintanya.

Ada yang lurus-lurus saja; ini beda lagi. Jalan hidupnya seperti kereta api. Serongnya tidak diketahui. Pikirannya seperti kubus: kotak-kotak. Ia seoalah-olah tidak pernah punya cita-cita. Nasib membuatnya menikah dengan tunangannya yang kebetulan kaya mendadak. Lalu, kebetulan lagi, si putri anak tunggal yang didukung oleh kebetulan lainnya lagi; baru menikah, mertua meninggal. Lelaki itu kini belajar mengemudi, punya mobil mendadak. Dia itu sangat mencintai kebetulan.

Sungguh, ini adalah macam-macam keinginan, pekerjaan, dan nasib. Kiranya, tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Saya menulis catatan ini hanya karena tiba-tiba menyadari, betapa banyak cara pandang orang untuk mengetahui cara memperoleh rezeki, bahkan termasuk dengan cara yang jahat, seperti korupsi. Masih mending jika itu hajat dasar hidup, seperti makan. Yang aneh adalah tetap menempuah cara yang haram hanya untuk bermewah-mewah.

Satu lagi: di antara semua teman yang saya kenal, keinginan Udin yang paling remeh. Ini buktinya: “Perempuan seperti apa yang kamu inginkan, Din?”/ “Tidak perlu cantik karena aku juga tidak tampan. Tidak perlu kaya karena aku juga masih pengangguran. Yang seimbang lah. Tapi kalau boleh berharap…” / “Iya, apa harapanmu menyangkut perempuan calon istrimu itu, Din?” / “Punya rumah di tepi jalan.” / “Hanya itu?” / “Iya. Karena aku sudah bosan tinggal di pedalaman selama 20 tahun, jauh dari jalan raya dan lalu lintas kendaraan.” Sungguh. Ini keinginan beneran dari manusia beneran.

Terus terang, karena saya bukan pekerja kantoran, tidak memperoleh pendapatan yang pasti setiap bulan, maka wajar jika saya selalu khawatir, sudah murnikah makanan yang saya telan? Apakah rezeki itu saya peroleh dari jalan yang suci dan benar-benar bebas dari sogokan? Nah, di bulan suci ini, kiranya masih banyak yang menikmati rezeki dari jalan yang kotor. Bahkan, terkadang untuk kepentingan suci di tanah suci, benar-benar ada orang yang membiayainya dari rezeki yang tidak benar-benar suci.


Na’udzubillahi minas sogok, ya, Rabbi..



Labels: ,




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) becak. setiakawan (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (4) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (21) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog