Kecerdasan untuk Lampu Jalan

Selasa, Februari 28, 2012


Sering saya melihat ada lampu jalan yang menyala sepanjang siang. “Lampu jalan yang dulu menggunakna lampu jenis gas merkuri itu tentu banyak sekali menghabiskan daya,” pikir saya. “Masih mendingan sekarang, lampu jalan sudah menggunakan lampu hemat energi (LHE).” Tapi, yang menjadi persoalan adalah: mengapa lampu jalan ini, di tiang-tiang yang tidak menggunakan otomat, selalu menyala di siang hari?

Betul, tiang lampu jalan umumnya berdekatan dengan rumah penduduk, sehingga, atau semestinya, mereka bisa ikut merawat lampu jalan jalan ini. Namun, seringkali mereka, atau kita, merasa tidak perlu memperhatian nasib lampu jalan ini. “Itu urusan dishub, itu urusan orang lain, itu bukan urusan saya.” Maka, lampu jalan itu pun menyala sepanjang malam dan sepanjang siang. Ia menyala dalam seminggu, terus-terusan, dan seterusnya. Toh, meksipun tiang bersaklar itu berdekatan dengan rumah penduduk, namun si pemilik ruamah, atau ketika ada orang yang kebetulan lewat di dekatnya, tidak punya inisiatif untuk memadamkannya saat pagi tiba.

Hal ini menunjukkan bahwa rasa kepemilikan kita tehadap fasilitas umum masih rendah. Tidak hanya soal lampu yang biayanya diambil dari rekening kita, masih banyak fasiltias lain yang tidak bisa dijaga, antara lain halte, telepon umum yang nyaris tidak berfungsi lagi, dan sebagainya. Apakah perhatian kita akan muncul hanya jika ada bayaran yang secara khusus dibebankan pada kita?

Di sisi lain, sebenarnya pemandangan buruk ini berhubungan juga dengan etiket dan kebiasaan kita. Sungguh masih sangat banyak orang yang karena dia mampu, dia berani menghambur-hamburkan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Contoh, menyalakan lampu lebih banyak dan tidak perlu memadamkannya (ini di rumah sendiri) hanya karena dia mampu membayar tagihan listrik. Atau, dia mampu berjalan kaki untuk jarak tertentu tetapi dia menggunakan sepeda motor hanya karena mampu membeli premium. Sungguh, hemat itu bukan takdir untuk orang miskin. Hemat itu adalah etiket, atau anjuran agama.

Jika ada orang yang sudi memadamkan lampu jalan ketika dia lewat di dekat tiang itu pada saat hari sudah siang, pasti dia punya kecerdasan yang berbeda dengan orang yang tidak memadamkannya meskipun tiang lampu jalan itu ada di dekat rumahnya, bahkan lampu itu untuk menerangi lingkungan tempat dia tinggal. Nah, jika kecerdasan jenis ini ada skornya, saya yakin bahwa jenis orang yang pertama akan mempunyai kecerdasan yang lebih baik daripada orang yang kedua. Namun, saya tidak tahu, kecerdasan apa ini namanya.



Labels: ,




Cari Kerja

Rabu, Februari 22, 2012



“Saya mohon sambung doa, saya mau cari kerja ke Malaysia,” kata lelaki 40 tahunan itu kepada kiai.
“Kenapa kami tidak bertani saja?”
“Saya sudah bertani berkali-kali. Untungnya tidak seberapa, tidak cukup untuk anak istri.”
“Sudah mencoba yang lain, beternak ayam, misalnya? Mungkin kamu cocok jika beternak ayam petelur,” Kiai mencoba membujuk agar dia tak berangkat ke Malaysia meninggalkan anak istrinya. Banyak kasus, di daerah situ: si suami pergi merantau, anak istri ditinggal. Eh, setahun kemudian datang mengirim kabar kawin lagi.
“Tapi saya sudah terlanjur berniat mantap, kiai. Sekali lagi, saya mohon sambung doa mau cari kerja di negeri tetangga saja. Karena saya lihat teman-teman saya lebih bagus perekonomiannya sepulang dari sana.”
Kiai menarik napas dan berkata, “Baiklah, jangan lupa, kalau sudah dapat rezeki, segera kirimkan uang ke rumah, untuk anak dan istrimu.”

Setehu kemudian, lelaki 40 tahunan itu kembali sowan kepada kiai.

“Lho, kapan datang?”
“Kemarin pagi, Kiai.”
“Kok sudah pulang dari Malaysia? Ada rencana kembali?”
“Tidak kiai, kapok. Saya rugi. Kerja 11 bulan dan hanya 7 bulan yang dibayar ringgit. Sisanya ditunda pembayarannya, entah sampai kapan.”
“Oh, apes nasipmu, ya. Kasihan.”

Lelaki 40 tahunan itu terus menunduk. Kini ia ingat, saat dulu sebelum berangkat, di tempat itu, ia pernah berkata kepada kiai bahwa kepergiannya ke Malaysia adalah untuk “cari kerja”, bukan cari duit. Seperti tampak sepele, namun rupanya ia baru sadar bahwa setiap ucapan sejatinya merupakan doa.


Labels: ,




Knalpot dan Klakson

Minggu, Februari 05, 2012



Saya tinggal di dekat jalan desa, mungkin kelas III-B. Jarak dari pintu depan dengan jalan kurang dari 15 meter. Jika ada sepeda motor yang dipacu hingga lewat RPM 3000, suara knalpotnya akan terdengar sangat bising sampai ke dalam kamar. Kalau diklasifikasikan, ada tiga suara penting di jalan itu; knalpot, klakson, dan mesin. Bagi saya, deru mesin hanya berada di urutan ketiga dalam tingkat kebisingannya.

Saya termasuk orang yang tidak suka dengan suara klakson. Di lampu merah (APILL), sering saya mendengar orang membunyikan klakson berbarengan dengan lampu yang berubah menjadi hijau. Bunyi klakson itu sama artinya dengan “Ayo jalan, cepat. Tuh sudah hijau!”. Tapi, ada pula orang yang suka membunyikan klakson di mana pun ia berkendara. Saya mengherankan cara ini. Bagi saya, kebiasaan ini diawali oleh cara awal yang salah dalam mengmudi, baik mengemudi sepeda ktoor ataupun mobil. Akhirnya, kita cenderung menggunakan klakson sebagai bagian penting dan vital dari berkendara. Sebentar-sebentar klakson. Suatu waktu, saya pernah mendengar orang membunyikan klakson mobilnya sebanyak 11 kali hanya pada jarak kurang dari 700an meter. Gila, kan? Saya pikir. Betapa telinga kita akan stress mendengar bunyi itu. Padahal, pada saat itu jalan tidak begitu ramai.

Itu soal klakson. Bagaiamana kabar knalpot? Setiap mesin memproduksi kebisingan. Teknologi otomotif menciptakan inovasi demi inovasi pada knalpot untuk meredam kebisingan itu. Namun, kita juga tahu ada knalpot “telo”, knalpot yang bentuknya seperti ubi kayu itu. Knalpot macam ini sangat bising. Lalu, apa cita-cita dari knalpot seperti ini, ya?

Jika semakin hari jumlah penggemar knalpot telo ini semakin bertambah, bukan tidak mungkin pabrik kendaraan bermotor (terutama sepeda motor) akan mengeluarkan varian khusus sepeda motor dengan knalpot yang bising. Buktinya? Bengkel memodifikasi sepeda motor bebek dengan rem cakram, maka keluarlah varian sepeda motor bebek dengan rem cakram. Bengkel lain memodifikasi sepeda motor bebek dengan kopling ganda, keluar pula varian seperti itu dari dealer. Contoh, FIZ-R dan Supra XX.

Sebelum varian sepeda motor berknalpot bising diluncurkan, ada baiknya saya usulkan kepada pabrikan agar nanti, jika varian ini benar-benar diluncurkan, corong knalpotnya diletakkan di tengah, yakni dari manifold mesin langsung ditekuk ke atas, dekat dengan telinga si pengendara. Dengan cara ini, pengendara akan dapat menikmati suara knalpot dengan sempurna. Bahkan, saya akan mengusulkan agar knalpot tersebut dilengkapi dengan “manual equalizer”, sehingga pengendara dapat menentukan selera dan tingkat kebisingannya: mau nge-bass ataupun cempreng sama-sama bisa.

Selamat berinovasi. Teruskan cita-citamu, Knalpot!

referensi lain tentang klakson yang ramah telinga: di sini


Labels: ,




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (22) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog