23 Juni 2012

Petugas SPBU versus Mobil Bergincu

Sabtu pagi menjelang siang, 2 Juni 2012, saya masuk ke SPBU Kangenan, Pamekasan. Letak stasiun pengisian bahan bakar umum ini berada di sebelah barat ruas jalan Pamekasan-Larangan Tokol. SPBU ini tergolong SPBU tua di Madura mengingat sejak saya ingat, di masa kecil dulu, jika kami hendak bepergian ke Jawa, biasanya sopir mobil selalu mengisi bahan bakar di SPBU ini.

Saat saya antri di pompa bensin sisi kiri, seorang petugas tampak bercakap dengan pengemudi Suzuki Carry 1.5 berwarna biru, plat merah. Petugas tampak senyum-senyum, tapi yang diajak bicara menampakkan wajah serius, bahkan cenderung tegang. Saya tidak mendengar tema pembicaraan itu karena saya masih di atas kendaraan. (saya menyesal tidak mencatat nopol. mobil karena saya memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan).

Saat tiba giliran saya, mesin dimatikan, tutup corong bensin dibuka, sambil menyodorkan selembar uang 50.000-an, saya mencoba mengulik.
“Tadi kok kelihatan tegang, Pak? kenapa?”
“Itu lho, bapak yang nyopor Carry tadi minta diisi premium. Saya ledek, ‘biasanya kalau plat merah harus isi pertamax, Pak’, kata saya kepada dia. Eh, malah dia emosional. Dia bilang, ‘suka-suka saya’. Tapi saya bantah, ‘saya sih hanya petugas biasa. Tugas saya hanya menerima uang dan memasukkan bahan bakar sesuai dengan jumlah uang itu.”
“Kok bisa sampai marah?” Saya menyela.
“Mungkin karena saya bilang begini, ‘saya kan hanya petugas, Pak. Mau pertamax, mau premium, itu terserah bapak. Cuma apa bapak nggak malu dengan perarutan yang telah ditetapkan?’

Petugas itu tertawa sambil menarik nozzle dan menautkannya ke mesin pompa. Saya tersenyum memberikan respon. Dan dia berkata lagi ketika saya menutup corong bensin dan menguncinya

“Ya, gitu, Mas. Repot kalau berhadapan dengan orang yang kurang tahu malu. Mungkin dia gengsi karena terlanjur emosi.”

Saya pun pergi dari SPBU itu sambil membayangkan andaikan saya menjadi petugas SPBU itu, atau andaikan saya menjadi sopir Suzuki Carry dengan plat nomor bergincu merah itu.

07 Juni 2012

Andaikan Anda Tak Punya Anak

Saya pernah dibikin sakit hati oleh seseorang. Pasalnya, baru kenal dia langsung ceramah di depan saya. Topiknya masalah rezeki. Kala itu, saya baru menikah, ya, mungkin sekitar 1 tahun. Dia tahu, kami belum dikaruniai momongan, sedangkan tamu ini, sebut saja namanya Jojon, sudah punya seorang anak. Usianya mungkin 3 tahunan.

Jojon mengantar istrinya bertandang ke rumah saya. Kebetulan, istri Jojon dan istri saya dulu teman sekolah. Kami duduk berhadapan. Camilin dihidangkan. Basa-basi dimulai.

“Sudah punya putra berapa?”

“Belum.”

“Wah, gimana?”

“Ya, nggak tahu. Saya sudah berusaha, tapi belum keparing sama Gusti Allah.”

“Eh, kamu ndak usah takut, ya. Rezeki anak itu ada tersendiri. Jangan khawatir.”

Ceramahnya ini disampaikan dengan intonasi seolah saya sangat bodoh. Nah, coba Anda bayangkan jika kalimat di atas ini diucapkan oleh orang yang baru saja kita kenal. Meskipun itu pernyataan yang benar, tapi dia telah menyampaikan dengan cara yang tidak benar. Bukan hikmah yang didapat, malah marah.

Belum cukup sampai di situ, si Jojon ini malah mengutip ayat Alquran, Surat Hud, ayat ke-6, yang menyatakan jaminan rezeki dari Allah untuk semua dabbah (binatang melata, termasuk manusia). Hari itu, saya benar-benar tampak sebagai orang awam di hadapannya.

“Iya, Anda kok bilang begitu,” kata saya mulai naik pitam. “Emang anak Anda itu Anda yang bkin? Cuma titipan to? Nabi Zakariya saja sampai usia 125 tahun belum dikarunia putra.”

“Iya, tapi itu kan nabi?” Orang ini ngeyel.

“Lah, iya. Seperti Nabi Nuh. Bagaimana jika anak kita membangkang kelak, seperti Kan’an misalnya. Apa Anda sanggup?”

Jojon terdiam. Saya benar-benar sakit hati dibuatnya. Baru bertamu sudah berfatwa. Suasana baru mereda ketika kami akhirnya makan bersama.

Mengolok-olok orang yang tidak dikaruniai keturunan (anak) sungguh merupakan olokan yang paling menyakitkan, terutama apabila yang mengolok-olok itu sudah ketibaan rezeki anak lebih dulu. Namun, banyak orang yang secara kormeddal ngomong sembarangan dan menganggap olokan macam ini termasuk dari jenis basa-basi semata. Saya menghindari cara itu karena saya sudah tahu betapa sakit hati orang yang tidak punya keturunan ketika mendapat olok-olok tentang kemandulan justru dari orang yang sudah punya anak.

* * *

Beberapa waktu yang lalu, setelah cerita di atas terjadi sekitar 8 tahun yang silam, istri Jojon menelepon istri saya dan bertanya, sudah punya anak apa belum? Kami lama tidak saling berkomunikasi. Istri si Jojon ini curhat karena dia ingin anak lagi, tetapi anak baru satu sejak dulu. Ekonominya kurang bagus sehingga ia harus merantau ke tempat yang jauh. Istri saya bilang alhamdulillah kalau kami sudah dikaruniai dua momongan, laki-perempuan.

Bagaimana kabar si Jojon sekarang? Saya ingat dia. Saya kasihan kepadanya, sekarang.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog