Bonceng Mania

Minggu, Juli 28, 2013


Pada tahun 1999, pada suatu hari, saya sempat diburu waktu untuk tiba di suatu tempat. Sementara angkutan umum yang lewat sangat jarang di kala itu. Waktu mendesak, saya kepepet. Apa boleh buat, akhirnya saya nekat mencegat seorang bapak tua yang bersepeda motor dan kebetulan melintas. Alhamdulillah, dia berhenti. Saya bilang izin nunut, dia mengangguk. Saya pun mengangkangi sadel Yamaha Alfa-nya. Di perjalanan, saya sampaikan alasan saya kenapa mencegat dia. Dia paham dan akhirnya saya sampai di lokasi tanpa terlambat.

Berdasarkan pengalaman pertama di atas, maka pada tahun-tahun berikutnya, ‘bonceng mendadak’ seperti ini, selama beberapa waktu, nyaris jadi kebiasaan saya. Setiap pergi kuliah, saya selalu membawa helem. Seringkali saya cegat orang yang naik sepeda motor sendirian, di tempat yang ramai tentu, tersenyum manis, agar saya tidak diduga penjahat. Kalau dia mau, saya nunut, mengeluarkan helem dari tas. Kalau ogah, ya, biarkan saja dia lewat karena saya tetap menunggu angkutan umum yang akan lewat.

Nah, tahun-tahun setelah itu, saya masih ingat ketika dulu, sebelum Jembatan Suramadu diresmikan, sering sekali saya numpang bonceng orang yang akan turun dari ferry di Pelabuhan Kamal. Perlu diketahui, dari dermaga ke tampat parkiran taksi (sub-terminal) di Pelabuhan Kamal itu lumayan jauh, ya, sekitar 400-an meter. Kalau berjalan kaki jelas capek, apalagi jika kita sedang bawa barang berat. Ketika geladak kapal tinggal berapa meter dengan dermaga, mesin-mesin sepeda motor dinyalakan. Nah, pada saat itu saya amati, siapa saja orang yang hanya sendirian. Minta izin numpang tentu, maksudnya, “Pak, nunut sampai pintu gerbang!”

Setelah sekian lama hal itu tidak saya alami, kemarin sore, 27 Juli 2013, ia terjadi lagi:

Saya menghadiri acara Haul Kiai Abdul Hamid bin Itsbat di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, Sabtu 18 Ramadhan 1434 (27 Juli 2013) kemarin. Sesiangnya, saya berpesan kepada Nirul, sopir yang membawa kami berangkat secara rombongan, agar parkir di bagian terdepan karena saya mau pulang cepat. Nirul tahu saya punya tugas menjadi imam tarawih setiap malam tanpa pemain pengganti. Adapun jarak lokasi haul ke rumah saya itu kira-kira 30-an km atau perjalanan 45 menit. Karena itu, waspada dan sigap, habis buka puasa saya mesti langsung mancelat (pergi berbegas).

Namun, begitu saya sampai di lokasi parkir, astaga. Manusia dan mobil tumpek blek. Bis lebih seratus dan entah berapa puluh mobilnya. Manusia nggak terhitung lagi. Saya hampiri Nirul dan bilang padanya, “Maaf, Rul. Saya pulang duluan. Kamu pulang belakangan saja, ya, setelah macet selesai.”

Sebetulnya, saya tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana mengingat ini bulan puasa, sudah adzan Maghrib pula. Angkutan umum, di situ, pada hari-hari biasa saja susah, apalagi sekarang. Namun karena tuntutan harus tiba di rumah sebelum Isya, maka saya pun memakai jurus lama (seperti di atas), yakni mencegat sembarang orang naik sepeda motor yang tidak berboncengan.

Seorang lelaki bersepeda Supra lewat.
“Pak, numpang ikut sampe pertigaan!”
“Wah, maaf, saya bonceng dua,” katanya setelah sempat memperlambat laju sepeda motornya. Dua-tiga sepeda motor lewat tanpa bisa distop. Lalu, seorang lagi, agak tua, lewat dengan sepeda motor Vega.
“Pak, ikut sampai pertigaan.”
Dia berhenti. “Nah, pasti ini dia pahlawannya,” batin saya di dalam hati.

Senang dan tanpa basa-basi, langsung saya kangkangi saja sadelnya. Sepeda berjalan, saya bertanya, “Ini Sampeyan mau ke mana, Pak?”
“Palengaan.”
Putar haluan, nggak jadi cuma sampai pertigaan, pindah jalur saja.
“Ah, kalau begitu, saya ikut sampai Palengaan.”
“Loh, memang Sampeyan ini mau ke mana?”
“Guluk-Guluk.”
“Wah, jauh itu.”

Bapak ini agar oportunis. Tanjakan-tanjakan panjang atau pun mengular dilahapnya begitu saja. Gayanya ambil kanan terus,  karena kebetulan malam itu banyak sepeda motor yang pulang dari tempat yang sama, Banyuanyar. Di tengah perjalanan, saya sampaikan padanya bahwa saya punya tugas jadi imam tarawih. Saat itu, jam menunjukkan pukul 17.45. “Berarti, waktu saya tinggal 45 menit lagi,” kata saya yang sontak membuat ia mendadak menarik gasnya. Gawat!

Saya menelepon orang rumah agar dijemput ke Bandungan. Saya berjaga-jaga. Dan setelah saya bertanya perihal kemungkinan adanya tukang ojek, dari Palengaan ke Bandungan, juga dari Bandungan ke Guluk-Guluk. Nggak ada ojek, katanya. Dan dia pun langsung menawarkan diri untuk antar saya langsung ke Bandungan.  Saya tahu, jarak dari Palengaan ke Bandungan itu lumayan jauh, sekitar 7-8 kilometer. Saya berbasa-basi dengan rasa kasihan. Saya tahu, Pak Trisno—namanya saya ketahui belakangan—ini pasti ingin cepat sampai di rumahnya. Tapi, saya juga sedang kepepet, kan? Repot.

Tak terasa, tibalah kami di Palengaan. Dan orang itu, langsung  ambil  kanan menuju Bandungan tanpa banyak bicara. Jalan sepi membuatnya makin gairah untuk ngebut. Saya minta sedikit pelan karena jalan tidak rata dan banyak berlubang. Semua perjalanan ini sungguh lancar.

Setelah tiba di Bandungan, saya kasih dia 20.000 serta berkata,
“Pak ini, buat ganti bensin.”
“Terima kasih,” katanya.

Tak lama setelah dia pergi, saya shalat Maghrib di sebuah mushalla tepi jalan. Habis itu, sekadar ngobrol dengan penjual kembang api dan petasan, saya bertanya perihal tukang ojek yang biasa mangkal di pertigaan Bandungan. Jawaban mereka sama: tidak ada tukang ojek. Apa karena faktor bulan puasa atau karena memang tidak ada pangkalan ojek di sana?

Beruntung, sebentar kemudian, datanglah jemputan dari rumah. Budi nongol dengan sepeda motor Honda Astrea Prima. Pukul 18.18, kami meluncur ke timur. Saya hubungi Nirul untuk melaporkan perjalanan; dia bilang baru bebas macet pada saat saya sudah sampai di Bakeong. Akhirnya, bertepatan dengan dikumandangkannya adzan Isya, saya tiba di rumah, ambil wudu, langsung meddal ke langgar untuk Isya dan tarawih.







Menguji Puasa di Jalan Raya

Kamis, Juli 11, 2013



Puasa itu artinya tidak makan, tidak minum, tidak bersetubuh, tidak memasukkan sesuatu pada lubang-lubang anggota tubuh yang intinya menyebabkan batal, di siang hari bulan puasa. Namun, makna lebih dalam dari puasa itu bukanlah demikian saja. Berpuasa itu merupakan latihan menahan hawa nafsu dari berbuat yang bukan-bukan.

Sejatinya, di luar definisi di atas, puasa adalah menahan diri dari segala niat busuk yang biasanya selalu muncul dari dalam diri. Menahan diri dari marah, menahan diri untuk tidak menghasud, menahan diri untuk tidak sombong dan dengki, misalnya, merupakan ejawantah dari puasa itu. Kiranya, yang begini ini jauh lebih sulit daripada sekadar menahan makan-minum di siang hari di bulan Ramadhan.

Sekarang, mari kita pergi kita ke jalan raya. Bagi saya, jalan raya adalah medan paling tepat untuk menguji seberapa kuat kita berpuasa. Mengapa? Di jalan raya, perilaku kita sebagai manusia muncul dengan serta-merta, berbeda dengan di tempat lain. Di kantor, misalnya, seseorang bisa munafik dengan menyampaikan yang baik-baik kepada teman kerja meskipun dia sendiri menjilat atasan sambil korupsi pada saat yang sama. Di rumah, kita bisa menampak sok soleh pada tetangga, namun di saat yang sama berlaku dzalim pada orangtua. Tidak, di jalan raya kita sulit melakukan itu. Di jalan raya, perilaku dan tabiat kita cenderung muncul apa adanya.

Menggunting jalan, belok mendadak, merampas hak pelalu lintas lain, masih sering kita lihat bahkan di bulan puasa. Lihatlah bagaimana kesemrawutan lalu lintas jalan raya kita. Orang-orang yang melanggar dan arogan tersebut bukannya tidak paham pada pelanggaran yang dilakukannya, mereka justru merupakan orang yang sadar dan tahu, namun tak mau menyadari dan tak mau tahu-menahu. Jika perbuatan serampangan dapat mengurangi nilai puasa seseorang, maka sesungguhnya sangat banyak di antara kita yang sejatinya memaknai puasa dengan sekadar menahan diri dari makan dan minum, namun tak mampu menahan diri untuk mengambil hak orang lain, terutama di jalan raya.

Terus terang, bagi saya, jalan raya tetap menjadi tempat yang tepat untuk menguji emosi dan kesabaran, terutama di bulan puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa di semua tempat; di kantor, di rumah, juga di jalan raya. Semoga kita bisa benar-benar menjadi orang yang menjalankan ibadah puasa secara sempurna.


Labels:




Karnaval, Imtihan, Kemacetan

Selasa, Juli 02, 2013


Di beberapa madrasah (pondok pesantren) di Madura khususnya, bulan-bulan Sya’ban (Juni-Juli) seperti sekarang merupakan masa tutup tahun pelajaran. Untuk ini, ada lembaga yang menggunakan istilah ‘haflah akhir sanah’ dan ada pula yang menggunakna istilah ‘halaltful imtihan’. Intinya, haflah atau perayaan atau festival itu adalah bentuk ungkapan rasa syukur anak didik dan awak pendidikan atas telah berakhirnya proses belajar-mengajar selama satu tahuan di sebuah lembaga pendidikan.

Perayaan, namanya perayaan, biasanya selalu dipungkasi dengan lomba-lomba selama beberapa hari sebelum hari-H. Di dekat lokasi, biasanya juga ada bazar alias pasar dadakan. Pada malam puncaknya, malam penganugerahan juara kelas dan siswa teladan, ‘hiburan’-nya .yang umum adalah ceramah agama. Ya, di tempat saya, ceramah agama adalah sejenis ‘hiburan’ bagi masyarakat, bukan konser dangdut atau yang lain.
Namun, hiburan sesungguhnya untuk rakyat biasanya dilangsungkan pada sore hari-H, yaitu karnawal di jalanan. Karnaval ini berupa kirab atau pawai. Biasanya, kelas per kelas menampilkan lakon, seperti happening art, atau semacam drama berjalan. Di awal, atau di ujung  kirab, biasanya ada kelompok drum band.

Di musim seperti sekarang ini, banyak orang males bepergian di sore hari. Soalnya, kirab akan menghadang. Itulah hiburan masyarakat setempat tetapi juga sekaligus mengganggu masyarakat yang lain, terutama mereka yang berlalu lintas. Tidak semua memang, tapi rata-rata, kirab dan pawai macam ini jelas memacetkan jalan. Yang lebih menyebalkan adalah apabila penanggap tidak mau tahu-menahu bagaimana menguraikan kemacetan, seperti turut memikirkan area parkir penonton, lokasi titik akhir dan pembongkaran karnaval, ruang untuk papasan mobil, dan seterusnya.

Apakah karnaval jalanan seperti ini telah mengantongi izin keramaian dari kepolisian? Dalam beberapa kali kesempatan terjebak macet, sama sekali saya tidak melihat adanya pihak kepolisian yang tampak untuk membantu menguraikan kemacetan. Saya maklum karena jumlah aparat yang terbatas sementara jumlah karnaval bisa saja berlangsaung secara bersamaan dalam hari dan jam yang sama. Tapi, mengapa tak satu pun yang datang? Kemacetan seperti ini mungkin tidak dianggap masalah serius bagi masyarakat sekitar yang sudah mengetahui jadwal dan situasi jalan jauh hari sebelumnya. Namun, bayangkan jika yang mengalaminya adalah ambulan atau sejenisnya.



Labels:




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (22) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog