06 Januari 2014

Termakan Provokasi

Dalam perjalanan ke Surabaya, kemarin (4 Januari 2014), saya terjebak macet di beberapa titik. Pelebaran dan perbaikan jalanlah penyebabnya. Penanggulangannya menggunakan sistem buka-tutup. Namun begitu, banyak juga—ternyata—yang tidak sabar ketika arusnya tersendat. Apa boleh buat, yang dilakukannya adalah menyerobot dan melawan arus.

Di sebuah ruas jalan, selepas Gunung Gigir (sebelah barat Blega, Bangkalan), terjadilah peristiwa ini: ketika itu arus lalu lintas tersendat-sendat. Antrian sudah mengular, panjang sekali. Saya lihat ada banyak orang di halaman rumahnya, duduk-duduk atau berdiri di pinggir jalan, menonton kemacetan ini. Ya, rupanya, kemacetan lalu lintas menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.

Nah, pada saat mobil-mobil sudah tidak bergerak, tiba-tiba saya melihat sebuah mobil nyerobot, masuk lewat jalur kanan, muncul begitu saja dari belakang. Eh, malah ada seorang lelaki berkoar-koar, mirip seorang supporter.

“Ayo, Pak. Masuk, masuk, masuk!”

Lelaki yang berdiri persis di tepi jalan samping saya ini mengaba-aba dengan tangannya, mempersilakan mobil-mobil yang berjejer dalam antrian agar melanggar, yaitu dengan melawan arus, ambil kanan, mengikuti mobil yang tadi sudah buka jalur lebih dulu. Tak ayal lagi, seperti mendapatkan lisensi untuk melanggar, beberapa kendaraan pun menerobos masuk, menyalip mobil-mobil lainnya yang berbaris rapi di jalur kiri. Orang yang terburu-buru atau terbiasa menerobos pasti tergoda dengan tawaran ini.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Begitu mobil-mobil para pelanggar itu sudah menerobos masuk, mungkin ada 7 atau 10 mobil, orang yang tadi berteriak itu mendadak tertawa terbahak-bahak. Dia lantas balik badan, menghadap ke muka, sambil beteriak tak kalah nyaringnya.

“Pak polisiii… pentungin itu orang-orang, biar kapok. Dasar!”

Rupanya, perbaikan jalan di lokasi itu dijaga oleh beberapa orang aparat yang membawa pentungan. Sepertinya, pelanggaran dan penerobosan seperti ini sering terjadi di sana dalam beberapa hari ini sehingga banyak petugas yang berjaga-jaga. Saya tidak tahu, ada berapa orang yang kena semprot atau terkena pentungan. Yang pasti, saya melihat seorang polisi sedang memegang pentungan; saya juga melihat beberapa mobil kelabakan dan berusaha masuk jalur kembali (ke kiri) namun dihalang-halangi oleh mobil lainnya. Lumayan, setelah agak lama merengut, akhirnya saya tersenyum melihat komedi jalan raya ini.

Demikianlah, orang-orang di sekitar kita memang suka melakukan tindakan yang berbeda pada saat berada dalam pengawasan dan di luar pengawasan. Siapa yang mendidik cara munafik seperti ini? Yang jelas, pendidikan di dalam keluarga tidak pernah mengajari seorang anak untuk berlaku begitu. Tindakan curang seperti ini jelas bersumber dari tindakan serupa yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka, juga aturan yang plin-plan karena uang sogokan, juga dari ketidakjujuran hanya demi hawa nafsu yang sementara saja sifatnya.

Di bawah ini adalah foto-foto yang saya cuplik dari video kualitas rendah:

Minta jalan

mau nyerobot, masih ragu

menggunting

di kejauhan, di depan, tampak seorang polisi

9 komentar:

MasMaoe mengatakan...

wah semoga ini tidak merefleksikan karakter masyarakat madura dewasa ini ya..

M. Faizi mengatakan...

@Mas Maoe: iya, semoga tidak seperti yang Anda sebutkan. Cuma, yang seperti ini memang terjadi di mana-mana, di Jakarta apalagi. Saya perhatikan, dulu-dulunya, di Madura, yang model begini masih belum ada. Sekarang malah ada di mana-mana

Zyadah mengatakan...

Lapor: Di Mlandingan juga macet yang disebabkan oleh pelebaran ruas jemabatan.

Eh, jujur, setiap saya mudik ke Madura, perjalanan yang teramat membosankan adalah di sepanjang Bangkalan. Hhh... Suasana pasar yang semrawut dan tak enak dipandang, membikin macet jadi sangat membosankan. Kapan ini akan berakhir?

M. Faizi mengatakan...

@Zyadah: saya tidak tahu, memang begitu kok, pasar-pasar dibangun dekat jalan raya sementara terminal yang mestinya di tengah kota malah dipindah ke tengah sawah.

mudhar asyik mengatakan...

Banyak sekali yanag membiasakan diri memakan hak orang lain, termasuk memakan arus/jalur di jalan raya. Kecelakaan biasanya dipicu hal2 seperti ini....

san san mengatakan...

keep sharing dan posting yg berkualitas gan :)

Addarori Ibnu Wardi mengatakan...

esssippp itu... Orang madura mimang selalu bikin greget.

Ahmad Sahidah mengatakan...

Kita memerlukan pengajaran akhlak di ranah umum. Bukankah begitu Mas Kyai?

M. Faizi mengatakan...

@mudhar asyik: kalau dalam acara walimah, tahlilan, seminar, contoh ngeblong adalah biasanya sudah berdiri ketika penata acara baru berkata, “demikianlah, acara demi acara telah dilewati…” dan belum sempat shalawat dibaca, orang-orang sudah bubar

@san san: terima kasih atas komentar

@Addarori: dalam banyak hal iya, tapi dalam hal yang lain mereka ulet dan bertenaga. Biar imbang, kita pasang dua-duanya

@Ahmad Sahidah: iya, Pak Cik. Untuk kasus seperti ini, saya sedang menyusunnya dengan bahan baku hadits. Tunggu saja, ya!

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog