29 April 2014

Dilarang Membuang Klakson ke Sembarang Telinga



Di sebuah lajur, di kota kabupaten, terdapat beberapa deretan mobil diparkir paralel. Ada pula beberapa orang yang berjalan kaki di atas aspal karena trotoarnya tidak bisa lagi leluasa untuk digunakan karena ditempati pedagang kaki lima. Ketika itu, sebuah becak melaju. Posisinya pun jadi agak ke tengah karena mendahului para pejalan kaki yang juga agak ke tengah karena ada mobil-mobil yang parkir. Roda kanan becak itu bahkan melewati garis marka.

Beberapa puluh meter di belakang becak, ada sebuah mobil. Ketika sudah dekat, mobil mengerem sebab posisi becak masih di tengah. Lajur kanan di memang kosong tetapi mobil tidak bisa melaju karena ada becak di depannya dan terhalang separator. Mobil membunyikan klakson panjang. Tujuannya adalah agar becak segera minggir, padahal itu itu jelas tidak mungkin karena posisi becak juga sedang mendahului orang-orang yang sedang berjalan dan mobil yang diparkir.

Inilah contoh “membuang klakson ke sembarang telinga”. Memang cuma merenungkan penciptaan jagat raya saja yang harus mikir? Mencet klakson pun juga perlu berpikir, Bro!

Karena ketika kita membunyikan klakson itu merupakan pertanda bahwa kita sedang butuh perhatian dari orang lain, maka mari kita berpikir bahwa orang lain itu juga membutuhkan perhatian kita. Kurangi sifat arogan dengan cara tidak terlalu sering minta perhatian orang lain. Berikan sikap mengayomi dengan cara tidak terlalu sering minta perhatian, seperti ngebut di jalan sempit atau padat dan ramai sambil membunyikan klakson bertubi-tubi. Orang-orang itu jelas tidak suka jika disuruh mendengarkan bebunyian yang tidak merdu itu: bunyi klakson.

3 komentar:

corn.calmancal@gmail.com mengatakan...

Saya membayangkan; ketika orang-orang lebih bangga dengan mengemudi kendaraan pribadi dengan klakson yang bervariasi, betapa sesaknya jalanan... Betapa ramainya dunia dengan kesenangan pribadi yang enggan terbagi. Saat semua orang tak peduli, pulanglah ke Kormeddal! Rumah tempat memperbaiki diri.

Raedu Basha mengatakan...

cerita yang hampir sama dengan status tadi. Ya, klakson adalah "simbol" sekaligus "tanda", simbol sebagai animals symbolic dan tanda sebagai benda mati. Inilah yang menurut Hussel sebagai kesadaran yang membedakan antara benda mati dan benda sosial.

M. Faizi mengatakan...

@Corn dan Edu: terima kasih atas komentar.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog