06 Maret 2015

Oleh-Oleh dalam Kardus

Saya masih ingat, dulu sewaktu saya masih muda, ketika hendak kembali ke pondok atau ketika sudah remaja, manakala saya akan kembali ke kampus dari libur panjang, sering kali—jika tidak bisa dibilang pasti—saya pergi dengan membawa kardus. Isinya adalah barang bawaan yang kurang layak masuk ke ransel, misalnya beras atau gula. Kardus tersebut umumnya seukuran 8” x 10”  atau lebih kecil, semacam kardus bungkus air kemasan atau mi instan.

model oleh: saya (M. Faizi); foto oleh: Ahmad Faisal Imron
Saya tak pernah ambil urusan, mengapa banyak orang membawa kardus-kardus semacam itu dalam perjalanan, terutama mereka yang berangkat dari Madura atau hendak ke Madura? Itu baru terasa penting untuk diingat dan diperhatikan saat ini, yakni setelah saya mulai jarang melakukannya lagi. Saat hendak naik bis, misalnya, selalu saja saya bertemu dan melihat orang-orang seperti itu, membawa kardus, dari Madura pergi ke Jawa atau sebaliknya. Di perjalanan, saya benar-benar tidak sendirian. Di halte atau partelon tempat perhentian bis antarkota, selalu saja saya temukan orang yang selau membawa kardus untuk membungkus barang bawaannya. Bagi kami, kardus adalah semacam ‘koper yang tertunda’. Ia terkadang dimasukkan ke dalam bagasi atau juga setara dengan penumpang lainnya; masuk ke dalam kabin bis. Orang Madura nyaris identik dengan pemandangan ini. Oleh karena itu, andaikan Anda menemukan pemandangan tersebut di, misalnya, Bandar Udara Frankfurt atau di Schiphol, cobalah langsung disapa dengan Bahasa Madura…

Ada sebuah perusahan otobis yang melayani trayek Jakarta-Madura. Dari  pembicaraan yang bersumber dari salah satu krunya, saya mendengar keluhan bahwa ia terkadang stress menghadapi penumpang Madura karena terkadang satu penumpang bisa membawa kardus berjibun, sebanyak satu Carry bak terbuka: entah ini hiperbola atau memang sejumlah itu banyaknya. Yang pasti, bahwa kerap ada barang bawaan penumpang yang lebih berat daripada berat badannya sendiri. (Kembali ke kru…) Di sisi lain, PO mereka tersebut justru menjadi laris dan menjadi pilihan penumpang Madura karena tidak mengenakan tarif barang (kecuali tip biasa), berbeda dengan armada pesaing yang mengenakan tarif barang untuk jumlah di luar batas normal.

Melihat kenyataan, saya lantas berpikir bahwa masyarakat Madura (atau mana pun) yang percaya pada filosofi ‘oleh-oleh’, cenderung akan membawa oleh-oleh dari rumahnya dengan pengutamaan jenis buah tangan yang tidak ada atau jarang ditemukan di tempat tujuan. Akan tetapi, pada praktiknya, kriteria oleh-oleh yang demikian itu sudah susah sekali dipegang karena banyak faktor, salah satunya adalah ‘globalisasi’ seiring makin ‘sempitnya dunia’: Dodol Garut dengan mudah diperoleh di Madura sebagaimana Jenang Kudus pun dapat ditemukan di mana-mana. Maka, filosofi yang terus bertahan sehingga oleh-oleh itu selalu ada dan selalu dibawa adalah karena oleh-oleh itu disyaratkan menempuh perjalanan panjang. Contoh: orang Madura tetap membawa oleh-oleh beras dan gula, misalnya, walaupun di saat mengunjungi sanak saudaranya yang tinggal di Jatiroto, yakni tempat pabrik gula terbesar di Indonesia itu berada.

(Kembali ke kardus…)

Dari gambaran ini, dapat dimengerti bahwa oleh-oleh yang dibawa di dalam kardus oleh orang-orang Madura itu biasanya cenderung berupa ‘barang kasar’, seperti buah kelapa, dll, dan telah menempuh perjalanan jauh, bukan sekadar barang yang akan diberikan kepada tuan rumah atau sanak yang hendak dikunjungi atau keluarga yang menunggu di rumah namun dibeli di dekat tujuan. Buktinya, sering saya jumpai orang yang  membawa ayam dari Madura ke Jember sebagai oleh-oleh, padahal… masa’ di Jember tidak ada ayam? Filosofinya: ayam Jember akan berbeda dengan ayam Madura meskipun ras-nya sama, sebab ayam Madura yang dibawa ke Jember sudah pengalaman naik AKAS. Intinya: jarak dan perjalanan juga menentukan nilai oleh-oleh sebagai buah tangan.


4 komentar:

Wahyu Alam mengatakan...

Selalu suka baca tulisan Ra Faizi. Ini juga hal sederhana yang sering kutemukan di Bandara, bedanya ngga berani kusapa dg bahasa Madura.

Jadi beneran, waktu ke Jerman, ketemu orang Madura yg bawa kardus? Hahaha

M. Faizi mengatakan...

@wahyu Alam: hahaha, tidak, saya tidak bawa kardus

Edi Winarno mengatakan...

Dan kardus yang naik bis itu akan makin banyak jumlahnya saat musim mudik dan balik Lebaran. Sebagaimana kaleng Khong Guan yang isinya berubah menjadi jagung goreng atau kripik singkong, kardus mi instan atau kardus air mineral itu isinya menyalahi tulisan yang tertera. Bisa gula/kopi, atau juga kembang turi. Hehe...

M. Faizi mengatakan...

cerita kondektur DAMRI, katanya kalau lebaran bisa oleng itu bis

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog