Ada seseorang—saya kenal dan saya tahu persis; seorang anggota takmir masjid dekat rumahnya—yang akhirnya pindah rumah gara-gara tidak tahan pada keberisikan pengeras suara masjidnya. Rumahnya memang sangat dekat dengan masjid, bisa disebut hanya sepelongokan leher. Masjid yang merupakan tempat ibadah dan kedamaian justru menjadi momok menakutkan karenanya.

“Bukan saya tidak suka bacaan-bacaan, mana mungkin ada seorang muslim yang tidak suka mendengarkan lantunan ayat suci Alquran?” keluhnya suatu waktu, “namun jika itu dikumandangkan dengan sangat keras dan sepanjang hari lamanya, siapa yang tahan?” katanya suatu waktu.


Sebetulnya, ia sudah bermusyawarah dengan anggota takmir yang lain agar pengeras suara masjid hanya digunakan untuk azan. Boleh juga digunakan untuk dzikir menjalang iqamah shalat berjalamah dan atau pada waktu-waktu pendek-pendek saja. Hal ini dimaksudkan agar suara yang baik tidak menjadi gangguan yang pada akhirnya akan membuat orang menganggap semua suara yang baik adalah gangguan, sejenis gara-gara ‘nila setitik rusak susu sebelanga’, atau pars pro toto; sebagian namun lantas dianggap mewakili keseluruhan (yang terakhir ini kurang pas, ya?).


Memang, ada yang tak suka mendengarkan panggilan kebenaran?

“Capek,” katanya, “kalau harus melayani orang yang bertanya begitu sementara dia sudah tahu kasus yang saya alami.”

Dia kelihatan sudah lelah. Pertanyaan retoris seperti itu seolah menganggapnya, bagi dia, tidak setuju dengan suara-suara yang oleh banyak orang dianggap suara kebaikan, suara kebenaran, padahal kasusnya tidak demikian simpel. Masa jika tidak setuju pengeras suara diputar keras dalam waktu tertentu lantas dicap makar dan menentang perintah tuhan? Ia mengeluh. Ia capek.

Sepintas, sungguh rasanya tidak masuk akal ada orang yang pindah rumah gara-gara tidak tahan mendengar TOA. Iya, ini terjadi betulan dan saya saksinya. Rupanya, tidak semua panggilan kebaikan itu menjadi baik jika tidak disampaikan dengan baik-baik.





Labels:




Ustad

Kamis, Desember 03, 2015


Di terminal, makelar punya kecepatan mengidentifikasi calon penumpang berdasarkan busananya. Acapkali mereka memanggil dengan sebutan yang menyiratkan keakraban, sekiranya pas karena dianggap tepat. Orang-orang pasar juga punya keahlian serupa, tukang becak dan penjual, misalnya. Intinya, di banyak tempat umum, pengalaman dalam mengidentifikasi cepat seperti ini sering terjadi.

Jika ada seorang berusia 40 atau 50-an dan mengenakan peci haji, ia akan disapa dengan “Mau ke mana, Pak Haji?” di terminal dan atau “Cari apa, Pak Haji?” di pasar. Tentu, makelar dan pedagang tidak perlu melakukan wawancara lebih dulu apakah orang yang melintas tersebut sudah haji atau belum. Mereka hanya memindai secara cepat terhadap salah satu simbol busananya; peci atau jubah atau surban yang dikenakan.

Adanya sinetron, filem, juga sosial media yang menokohkan seseorang yang (kelihatan seperti) ahli dalam agama berdasarkan busananya membuat definisi ‘ustad’ menjadi luas. Maka dari itu, jika ada orang yang kalau ngomong sebentar-sebentar membumbui ucapannya dengan bahasa Arab dan atau juga kutipan hadits akan dengan mudah disebut ustad oleh sekelompok orang tertentu. Memang, penggunaan panggilan atau sebutan macam ini bukan hal yang salah. Akan tetapi, apa benar ia seorang ustad, seorang ahli, seorang pakar (di bidangnya)?

Kita maklum, karena nongol belakangan, wajar jika bahasa Indonesia mengunduh kosa kata dan lema dari bahasa berbagai bangsa. Yang paling banyak tentu dari bahasa daerah, bahasa serumpun, dan dari Bahasa Arab (karena faktor kitab dan penyebaran Islam), juga dari Bahasa Belanda (karena pernah menjajah dalam kurun yang lama), dan tentu saja, yang terakhir dari Bahasa Inggris (karena penggunaan istilah-istilah mutakhir/teknologi).

Dalam proses itu, terjadi pergesaran makna; baik menyempit, meluas, atau bahkan ‘menyimpang’. Di sini, saya akan membicarakan lema yang berasal dari Bahasa Arab saja agar tidak kebablasan ngomong ke mana-mana. Sebut saja satu contoh: ‘amal’. Kata amal mengalami penyempitan. Arti asal amal adalah berbuat/perbuatan, tapi kini disempitkan hanya untuk perbuatan baik. Jika ditulis; “Umumnya, maling beramal di malam hari”, jadi wagu, kan?

Yang meluas juga ada, dan inilah yang sedang kita bicarakan. Sebut contoh: ustad. Di Indonesia khususnya, makna kata ustad telah meluas, bahkan nyaris salah kaprah. Mestinya, sebutan ustad itu istimewa karena ia adalah gelar kepakaran yang disematkan untuk ahli di bidang ilmu tertentu, semacam profesor. Penggunaan gelar dalam jagat akademik, ustad adalah pakar. Penyebutan ‘al-ustad fi al-falsafah’ adalah guru besar filsafat, dst.

Di Madura, mungkin pula di daerah lain, kini, jika yang sedang melintas adalah seorang remaja usia 30-an tahun, bersarung dan berpeci, baik putih maupun peci hitam, orang cenderung langsung menyapanya dengan sebutan ‘ustad’. Sebutan ini adalah identitas bagi seorang pengajar, guru di pondok pesantren, ataupun santri senior. Ustad mengalami perluasan makna dari kata asalnya yang memiliki arti guru ahli atau profesor. Saat ini, khususnya di Indonesia, kata ‘ustad’ dipahami sebagai guru agama atau mereka yang ahli di bidang agama.

Bagian yang ‘menyimpang’ (saya mengapit kata ‘menyimpang’ ini dengan dua tanda kutip dengan maksud bahwa kata tersebut dinaturalisasi dengan kesalahpahaman dari kata asalnya) ada juga, lho. Contohnya adalah ‘kalimat’. Kalimat berasal dari bahasa Arab ‘kalimah’ atau ‘kalimat’ yang berarti ‘kata’, namun di sini ia bermakna: sebuah susunan kata yang memiliki satu pemahaman atau pengertian (kalam), alias sebuah susunan yang dapat dimengerti dan predikatif.

Kasus demi kasus kebahasaan semacam itu dimaklumi saja. Namanya juga akulturasi dan asimilasi, wajarlah, mau apalagi? Toh, bahasa itu terbentuk berdasarkan konvensi. Andai kita bersepakat memahami ‘chair’ sebagai verba ‘meleleh’ pun tidak apa-apa meskipun dalam bahasa Inggris itu bermakna ‘kursi’. Di sisi yang lain, terkadang kita cenderung menggunakan kata tertentu hanya karena sudah paham terhadap artinya harfiahnya, bukan paham secara istilah, sehingga sesekali kita mendengar ada orang yang menggunakan kata ‘al-hafidh’ (makan: penghafal) untuk gelar penghafal Alquran, padahal secara istilah ia merupakan gelar terhadap penghafal hadits.

Kembali ke ustad, tentu kita tidak perlu menyalahkan wartawan atau pakar dan pengguna bahasa yang telah terlibat aktif dalam melakukan tindak perluasan dan penyempitan makna ini, atau pula yang menyimpangkannya. Semua itu merupakan sunnah bahasa. Yang jadi masalah adalah apabila membiarkan kata-kata yang telah meluas ini digunakan secara sembarangan tanpa dasar pengetahuan.

Ada cerita anak-anak muda (atau siapa pun) yang karena kebanyakan nonton sineteron dan daring di Facebook lantas dengan mudah latah dan ikut-ikutan. Kacaulah jika mereka begitu mudah terpedaya oleh penampilan tokoh melalui identitas fisiknya yang dalam televisi dan sinetron-sinetron kerap ditunjukkan dengan tokoh yang sedikit-sedikit ngomong Arab serta mengutip ayat dan hadits. Beban moral dan pengetahuan ustad tidak seenteng itu. Apa masalah? Jika ada “ustad tertentu” yang neko-neko dan dengan mudah memfatwa-fatwa sesat dan kafir, misalnya, atas amalan yang telah dikerjakan nenek moyang semenjak dulu (padahal mereka juga telah melakukan amalan atas landasan yang ada hujahnya), pada akhirnya “semua ustad” pula yang bakal kena getahnya, bukan? Gara-gara sesat-takfir setitik, rusak ustad semuanya.


Labels:




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (22) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog