06 April 2016

Manajemen Popok

Popok itu, saking remehnya, sampai tidak pernah diperhatikan dalam keseharian kita. Gonjang-ganjing politik, kesemrawutan lalu lintas, penipuan, buruknya pelayanan publik, lebih menarik menjadi tema gosip dan keluhan. Sisanya, kita sibuk mencari uang, uang, uang; kerja, kerja, kerja. Saya yakin, semua keluarga yang punya anak pasti punya urusan dengan yang remeh-temeh ini: popok. Ketika seseorang memberi tahu saya bahwa ia menghabiskan uang 5 juta rupiah hanya untuk buat beli popok anaknya hingga berusia 2 tahun, saya berkesimpulan bahwa kita harus bikin manajemen popok. Dalam taksiran saya, ya, memang segitu kira-kira habisnya, yakni 5 jutaan. Ruwet juga ngurus popok ini ternyata.

Membuang popok ke keranjang di depan atau di belakang rumah, apalagi di selokan, nyatanya bukanlah sebenar-benar bentuk tanggung jawab, itu hanya pekerjaan memindah; dari kamar mandi ke tempat sampah. Pernahkah Anda berpikir, bagaimana nasib popok anak Anda itu pada akhirnya? Diurai tanah (setelah puluhan tahun kemudian), dibakar petugas, terikut banjir ke sawah ladang orang? Bagaimana?

Saat saya masih kecil, saya mengenakan popok “rambing”, yaitu sobekan kain, kadang perca, atau kain tidak terpakai yang dibentuk sedemikian rupa, dilipat, dan dibungkus plastik (untuk urusan ini saja saya berhutang banyak pada orangtua yang membesarkan saya). Saya menirunya sekarang untuk anak saya. Adanya penemuan teknologi gel yang menyebabkan ditemukannya “popok sekali pakai” membuat orang lebih senang membeli daripada bersusah payah membuat popok sendiri. Berapa pun harga pasti terbeli karena ia membuat kita lebih santai, tak perlu mencuci. Lantas, pernahkah kita berpikir, betapa seremnya sampah popok?

Seorang sahabat yang lain, beberapa hari lalu, becerita bahwa salah seorang tetangganya nyaris baku pukul dengan tetangganya yang lain karena soal popok. Si tetangga satunya ini sering membuat popok anaknya ke sebuah jurang. Benar jurang itu tanah tak bertuan, namun karena jurang tersebut dilewati pipa ledeng, yang mungkin sebagiannya bocor dan rembes, si tetangga merasa jijik sebab pipa tersebut dilalui air minum yang mengalir ke rumah-rumah penduduk. Masalah lainnya; jika hujan lebat turun, popok akan hanyut, dibawa air, lalu berserakan di ladang-ladang, mungkin pula dengan gel yang berubah warna hitam kekuningan.

Dengan menggunakan popok sendiri, atau membeli popok yang bisa dicuci, kita bisa hemat biaya. Lebih dari itu, kita telah berbuat lebih baik untuk alam, yang selanjutnya tindakan itu akan lebih ramah terhadap lingkungan. Saya menggunakan kedua-duanya; popok buatan sendiri dan popok yang bisa dicuci. Hanya kalau kepepet saja, seperti pergi kondangan atau dalam perjalanan jauh, saya menggunakan popok sekali pakai. Berikut cara-cara membuat popok (dalam gambar-gambar di bawah) yang dimaksud: 1. Ambillah kain bekas 2. Potong segi empat (sesuai ukuran) 3. Lipat memanjang 4. Letakkan di dalam bekas popok habis pakai (atau beli yang berbahan plastik) 5. Rekatkan pada dedek bayi 6. (pilihan; boleh diterapkan boleh tidak) Lapisi bagian luar dengan plastik untuk lebih aman dari kebocoran

Sekarang kita tahu, capek, kan, mengurus popok itu? Iya, jelas iya, namun jika kita lalukan, ia akan membuat kocek kita lebih lama susutnya dan jelas-jelaslah kita sudah berbuat lebih baik pada lingkungan. Dan inilah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia, bukan sekadar sebagai orangtua. Masalah sesungguhnya, kekayaan, adanya dana, sedikitnya kesempatan, juga rasa jijik, cenderung membuat orang ingin praktis selagi dia bisa membeli popok sekali pakai, selagi dia punya duit.

Ketika ada orang enggan atau menolak untuk menggunakan popok sekali pakai karena orientasi lingkungan, masih ada pula yang berpikiran bahwa orang yang begitu itu pastilah orang pelit atau kurang kerjaan. Komentar seperti ini tidak perlu dilayani kalau tidak ingin stres. Mereka berkomentar begitu karena mereka tidak pernah bertanya; entah berapa tahun lamanya popok—yang sebagian besar bahannya berbahan plastik—itu dapat diurai oleh tanah? Apakah kita tega meninggalkan bumi ini yang sepenuhnya berisi popok bekas untuk anak cucu kita nanti?

Kalau kita duduk agak lama, tenang, berpikir dengan jernih, urusan dana buat beli popok ternyata urusan yang tidak besar-besar amat. Yang jauh lebih besar adalah ngurus “popok habis pakai sebagai sampah”. Nah! Sebagai orangtua, Anda mampu dan bertanggung jawab membeli popok, tapi mengurus dan mengurai popok habis pakai sebagai sampah, sanggupkah? Cara lainnya adalah dengan membaringkan dedek bayi pada “perlak” (karpet plastik). Anak bebas pipis kapan saja dan orangtua hanya mencuci perlak di pagi hari. Begitu seterusnya. Sayangnya, tidak semua dedek bayi, terutama yang sudah agak gede, mau tidur pada perlak sebab biasanya kurang enak, kurang bisa nyenyak.
Mari mikir, mari berbuat!





x

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog