Setiap kali pulang dari Jawa naik bis, saya selalu digoda oleh rasa penasaran pada suatu tempat, yaitu warung kopi di perempatan Masjid Sotok, Pademawu Barat, Pamekasan. Yang paling menarik perhatian adalah karena walaupun warung ini kecil dan agak kotor, bangunannya buruk, dindingnya banyak yang bolong, tetapi tamu-tamunya selalu banyak.
Rasa penasaran itu akhirnya saya bayar kemarin lalu. Pagi sekali, sekitar pukul 6 pagi lewat sedikit, saya duduk di ujung bangku panjang warung tersebut. Seperti seorang pelancong yang tidak tahu arah jalan, saya memesan secangkir kopi untuk memulai pembicaraan. Namun, busana dan tampang, mungkin juga gerak-gerik saya, membuat lelaki berpeci haji bermotif sulam emas dan mengenakan celana pendek itu bertanya, ‘Dari mana?’.
“Guluk-Guluk,” jawab saya singkat.
“Dekat rumah Haji Muzammil?”
“Tidak tahu.” Saya menautkan alis, merapatkan kerutan jidat.
“Itu, lho, pedagang sepeda motor.”
“Oh..” Sekarang saya tersenyum tanda mengerti. “Itu Haji Jamil namanya.”
Lelaki berpostur sedang itu menambahkan keterangan, sejenis testimoni. “Saya sering ke pesantren Guluk-Guluk, cuma belum pernah mampir ke rumahnya.”
“O, iya. Eh, Pak, kalau mau ke arah kota, bisa lewat jalan di depan itu, ya?”
Merupakan kebiasaan masyarakat Madura (sebab beberapa kali saya memperhatikan hal ini): jika Anda menanyakan alamat kepada sekelompok orang yang sedang berkumpul, umumnya mereka menjawab serempak, saling menunjukkan, dan hampir bersamaan. Akibatnya, ketika itu, saya tidak mampu membagi lirikan mata untuk suara di satu mulut dan suara satunya di mulut yang lain karena 2-3 orang yang ada di warung kopi itu ngomong semua, menunjukkan arah semua. Betapa “gateh” (grapyak) mereka itu, ya? Demikian hati kecil saya berkata.
Teknik pengalihan isu kali ini berhasil. Perhatian si lelaki berpeci yang duduk di dekat saya dan naga-naganya akan mengurus asal dan identitas saya pun teralihkan. Nah, ini salah satu kebiasaan orang Madura yang lain dan oleh kalangan tertentu kurang disukai: mengurus asal-usul, termasuk rumah, tetangga, dan bahkan jenis pekerjaan yang kita tekuni. Dengan menjawab pertanyaan dan segera menyusulkan pertanyaan tentang arah, umumnya mereka tidak akan menanyakan lebih jauh soal asal-usul. Mereka akan lebih sibuk menunjukkan tempat/arah yang kita tanyakan.
* * *
Saya minum, menyalakan rokok, dan mengudarkan pandangan ke sekitar. Bis-bis antarkota melintas. Satu bis dari Jakarta, Pahala Kencana, juga lewat. Orang-orang bersepeda motor, pejalan kaki, ojek, anak-anak berseragam sekolah dengan sepeda kayuhnya, mulai lalu-lalang di perempatan yang ramai itu.
Mengapa perempatan itu disebut “Masjid Sotok”? Kurang dari 100 meter dari warung itu terdapat sebuah masjid. Letaknya persis di pojok tenggara perempatan. Bis antarkota lewat di sini. Angkutan pedesaan juga melewatinya. Karena itu, tempat ini sangat ramai. Wajar jika orang membangun toko atau warung di sekitarnya.
Secara harfiah, dalam bahasa Madura, Masjid Sotok berarti Masjid Dorong. Konon, dulu, masjid tersebut tidak terletak di kordinat seperti saat ini. Entah pada era kepemimpinan siapa, masjid kemudian “e-sotok” (didorong) ke posisi yang sekarang ini. Kedengarannya lucu dan aneh, tapi demikianlah kenyataan yang didasarkan pada cerita yang berkembang. Saya tidak begitu kaget mendengar cerita asing ini sebab di Bagandan (Pamekasan) juga ada “Langgar Ngalle” (langgar/surau yang berpindah tempat). Adapun "Langgar Ngalle" terletak sekitar 300 meter arah barat daya kantor Bupati Pamekasan. Masyarakat setempat percaya bahwa langgar beratap jerami yang erat hubungannya dengan sejarah Raden Asyhar Seda Bulangan itu dulunya juga tidak berada di posisi yang sekarang. Namun, langgar ini lantas “berpindah sendiri” dari tempatnya yang semula.
Saya menyeruput kopi sehirup lagi, berbarengan dengan seorang lelaki berseragam cokelat muda, dibalut jumper abu-abu, yang masuk, duduk, dan memesan kopi.
“Kok pagi sekali, Di?” tanya lelaki berpeci sulam emas yang duduk di dekat saya kepada yang lelaki yang baru datang.
“Iya. Ada urusan sebentar.”
“Kalau ada tugas mengajar, langsung berangkat ke sekolah, jangan jualan ayam dulu.”
Yang bertanya barusan meneruskan ucapannya diiringi tawa kecil. Sementara lelaki berbaju seragam cokelat muda diam saja, mengeluarkan rokok dan menyalakannya. Dari pembicaraan dua arah ini saya tahu kalau lelaki yang baru datang tersebut adalah seorang guru yang mungkin kebetulan juga nyambi jualan ayam.
“Yah, kalau sudah dapat sertifikasi kerjanya yang betul. Jangan datang ke kelas pukul 8 dan masih suka pulang sebelum Duhur,” Satu suara menimpali.
“Iya. Sekarang cuma namanya saja dapat sertifikasi, kerjanya tetap sama dengan sebelumnya, tidak ada perubahan.” Lelaki ber-jumper itu menjawab, seperti membela diri.
“Kalau aku malah kasihan sama si sukwan-sukwan (sukarelawan) itu. Pukul 6 pagi sudah di sekolah. Mereka terima tugas ganti dari si penerima sertifikasi. Guru bersertifikasi malah pulang lebih awal. Tugasnya diberikan pada si sukwan.”
Dalam hati saya membatin, terus terang, tampang orang yang pakai celana pendek ini ini mirip—maaf kalau saya sebut—pengayuh becak, namun omongannya mirip orang dinas dari sebuah direktorat jenderal di Kemendiknas. Bedanya, dia hanya cukup mengenakan celana pendek untuk mengucapkan kata-kata bijaksana ini.
Hari sudah mulai tinggi. Orang-orang di jalan semakin ramai. Saya beranjak dari kursi dan membayar harga secangkir kopi.
“Seribu,” kata ibu tua penjaga warung.
Setelah membayar, mengucapkan salam, saya pun melangkah ke arah sepeda motor. Masih sempat saya dengar lanjutan perkataan tambahan dari lelaki tadi, “Sertifikasi cuma demi duit. Uangnya diambil, kerjanya tetap sama seperti yang sudah-sudah.”
Setelah saya menyalakan mesin dan menjalankan sepeda motor, tentu saya tidak tahu apa lagi yang akan disampaikan lelaki setengah baya itu. Yang jelas, pagi itu, saya melepas seribu rupiah untuk secangkir kopi dan sebuah pelajaran penting tentang “sertifikasi guru” dari seorang lelaki berpeci haji namun bercelana pendek. Dia adalah lelaki yang omongannya mirip orang dinas dari sebuah direktorat jenderal di Kemendiknas. Bedanya, dia hanya cukup mengenakan celana pendek untuk mengucapkan kata-kata bijaksana ini.