01 Desember 2021

Mas Usul Nabrak Mbak Qoidah, Blega pun Macet

 

sumber foto: suarasurabaya.net
Blega—bukan Balige, bukan pula Belgia—merupakan nama kecamatan di Kabupaten Bangkalan. Tapi, ketika “Blega” disandingkan dengan kata “kemacetan”, maka yang dimaksud adalah “Pasar Blega dan area di sekitarnya”. Ya, sudah sejak lama, nama ini terkesan identik dengan benang kusut arus lalu lintas yang bahkan hingga presidennya gonta-ganti beberapa kali belum juga beres diuraikan. Ada dua permasalahan kemacetan di sana. Pertama, banjir di musim tengkujuh (hujan deras); kedua, macet di kala hari pasaran (Jumat & Senin), dan; ketiga, macet panjang di kala ada perbaikan jalan.


Beberapa hari yang lalu, saya berjibaku dengan kemacetan hebat di sana (hal yang sama terjadi pada 2017 lalu, selama puluhan hari). Penyebab yang diberitakan adalah adanya pengecoran jalan (padahal yang dicor hanya 350-an meter saja panjangnya). Rasanya tidak masuk akal jika pengecoran jalan sependek itu dapat menimbulkan kemacetan hingga 3-4 jam di saat gawat dan antrian mobil mencapai 4,4 kilometer (yang saya lihat dan saya hitung jaraknya) dari arah Sampang menuju Bangkalan.

Bisa jadi, akan lebih panjang lagi antrian dari arah Surabaya ke arah Sampang; dari barat ke timur. Antrian dan ketersendatan arus lalu lintas, antara dari arah barat ke timur (dari arah Bangkalan ke Sampang) dengan yang dari arah timur ke barat (dari arah Sampang ke Bangkalan), tidaklah sama. Pasalnya, bahu jalan di sisi barat pasar lebih lebar sehingga banyak orang yang berani menyerobot antrian dengan risiko menyisi atau menepi tapi tetap ‘aman’. Kala itu—atau mungkin memang sering—terjadi penumpukan kendaraan hingga tiga lapis (tiga lajur) dalam satu jalur hingga mendekati ujung antrian. Akibatnya, saat kendaraan-kendaraan tersebut hendak masuk kembali ke jalurnya, terjadi ‘gridlock’ (macet total) pada ‘bottle-neck’ alias leher botol (tiga lajur jadi satu lajur) di dekat pasar Blega. Hal ini berdampak pula pada ketersendatan arus lalu lintas dari lawan arah karena jalan yang semula lebar (sehingga memungkinkan mulai berakselerasi) menjadi sesak mendadak karena kendaraan yang datang dari arah berlawanan mengambil hak ruas jalan mereka.

***

Semua paragraf di atas hanyalah contoh, penting tapi tidak begitu penting. Intinya, apa yang terjadi di Blega itu boleh jadi tampak wajar-wajar saja atau dibuat seoalah-olah wajar karena kejadian semacam ini memang sering pula terjadi di berbagai tempat. Mengapa orang berpikir seperti itu? Karena begitu banyaknya contoh kemacetan dan penyerobotannya hingga seolah-olah itu hal yang biasa, dimaklumilah!

Sebetulnya, kemacetan lalu lintas akan mudah terurai apabila para pengguna jalan (semuanya, harus semuanya) bisa taat untuk tertib. Kalaupun kemacetan tetap terjadi, dampaknya tidak akan separah dan tidak semenyengsengsengsarakan seperti yang sudah-sudah. Kasus seperti di Blega ini pasti terjadi juga di tempat lain, di Indonesia, tapi, saya kira, akan jarang atau bahkan tidak akan pernah dijumpai di—sebut saja misalnya—Jerman yang penduduknya sangat terbit, apalagi di Jepang, yang pengguna jalan rayanya lebih dari sekadar tertib, melainkan tertibnya-tertib.

Konon, orang Jerman bahkan punya slogan “Orang Jerman tidak butuh pada lampu pengatur lalu lintas!”. Meskipun statemen ini seolah tampak berlebihan, tapi secara harfiah sepertinya memang begitu (saya pernah tinggal selama 9 hari di Berlin dan tidak melihat satu kali kemacetan pun, padahal setiap hari saya berjalan kaki di pedestrian, di sisi jalan raya, dan selama itu pula saya hanya mendengar 4 kali suara klakson). Cara mereka mengapresiasi ambulans dan pemadam kebakaran sangat elegan. Sementara etiket jalan raya pada orang Jepang dapat kita lihat pada—di antaranya—cara mereka memarkir kendaraan: sangat, sangat, dan saaangat tertibnya.   

Mengapa kedisiplinan semacam ini dapat mereka pegang sementara kita tidak? Apakah mereka taat kepada agama atau pada supremasi hukum legal formal? Saya kira, kedisiplinan adalah watak. Ia dibentuk melalui proses yang panjang, tidak serta-merta jadi. Lalu, bagaimana cara membentuknya? Etiket tercipta oleh budaya, khazanah turun-temurun, juga oleh kekuatan hukum: ditegakkan tanpa pandang bulu, tidak tebang-pilih, tidak tajam ke atas tapi tumpul ke bawah, tidak mudah naik-turun seperti celana kolor. Jika hukum bekerja sesuai jalurnya, maka aturan akan dipegang teguh. Lama-lama, ia akan membentuk watak masyarakatnya, lalu, lambat-laun, akan membentuk budaya dan karakter suatu masyarakat atau bahkan bangsa.

Akan tetapi, di atas persoalan itu semua, untuk menunjang terealisasinya niat baik seperti itu dibutuhkan peran penegak hukum yang berkomitmen dan jujur, yang tegas. Aparat harus mengayomi, tidak menakut-nakuti (seperti ‘musim’ vaksin dua bulan yang lalu: nama baik aparat yang berangsur pulih, eh, malah dirusak kembali oleh perilaku arogansi sebagian oknum di saat melaksanakan tugas pencegatan/penyekatan yang memperlakukan masyarakat takut karena mereka diposisikan bagaikan si tertuduh yang penuh soda, eh, dosa). Faktor lainnya, secara rasio, jumlah petugas/aparat penegak hukum harus seimbang dengan jumlah penduduknya (sayangnya, di Indonesia, rasionya tidak rasional).

Eits, sebentar! Omongan kita sudah sampai ke Berlin dan Tokyo, mari kita kembali ke Blega... Yang dibahas di atas adalah perihal penegakan hukum dan penegak hukumnya, aparat dan petugasnya. Sekarang, kita lihat profil masyarakatnya. Blega itu Madura, pulau yang masyarakatnya terkenal agamis, sangat bergairah dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan, sangat bagus dalam membangun masjid, memiliki banyak sifat ‘sangat-sangat’ dalam urusan agama dan beragama. Pertanyaannya, mengapa mereka yang agamis itu kok semrawut dan ngawur ketika berada di jalan raya?

Boleh kita berkelit, bahwa yang melintas di Blega tidak semuanya orang Madura. Tapi, lewat hitung-hitungan kasar saja, dipastikan warga Madura yang melintas di sana lebih dari angka 75 % dari total pengguna jalannya. Lihat saja plat nomor kendaraan yang lewat. Belum lagi kenyataan bahwa banyak mobil plat L dan B tapi isinya orang Madura, dan suaangat sedikit yang plat M tapi orangnya non-Madura.


Berdasarkan pantauan netizen (setidaknya pada awal-awal pengecoran dan ketika saya melintas [entah kalau sekarang]), penyebab terbesar macet total di sana—selain faktor yang disebut di atas—adalah adanya “penyerobotan yang terkordinasi”. Uraian teknisnya adalah; banyak kendaraan yang datang dari arah Bangkalan, yang berada di ekor antrian, memperoleh akses jalan pintas (lewat jalan tikus yang terletak di selatan pasar) dan mereka bisa menembus ke pertigaan di timur pasar yang notabene berada tidak jauh dari pusat kemacetan. Biang masalahnya adalah; aksi ini berbayar: para “penerobos” berubah status menjadi “penyerobot” karena membayar.  Mereka itu mendapatkan kesempatan untuk lebih dulu masuk ke akses jalan raya dengan bantuan “pengatur lalu lintas bayangan”. Para petugas bayangan ini menyetop laju kendaraan yang lewat di jalan raya dan sudah rela antri berjam-jam lamanya, dan mengutamakan yang lewat jalur tikus.

Sekarang, kita berpikir, apakah yang salah? Adakah yang salah? Mengapa masyarakat hanya taat kepada urusan ibadah mahdoh dan tidak peduli pada etiket di luar mushalla? Apakah karena mereka tidak tahu, bahwa menjungjung tinggi nilai-nilai akhlak itu tak pandang tempat sehingga harus juga berlaku sama meskipun ada di jalan raya? Saya kira, mereka bukannya tidak tahu, tapi karena tidak-mau-tahu.

Ketika dulu, di madrasah, dibacakan kaidah yang berbunyi

 “لايجوز لأحد ان يتصرّف في ملك غيره بلا إذنه”

maka contoh yang paling sering diajukan adalah larangan mencuri. Contoh tersebut memang tepat mengingat pemahaman atas teksnya adalah; “seseorang tidak diperbolehkan untuk menggunakan sesuatu yang bukan miliknya (atau bukan haknya) tanpa seizin dari si pemilik otoritas (atau orang yang berhak)”. Sayangnya, karena kita terkadang terlalu tekstual, “larangan menggunakan sesuatu yang notabene masih milik orang lain” cenderung hanya dipahami sebagai larangan menggunakan (apalagi mengambil selamanya) milik orang lain, tapi tidak pernah diapresiasi ke ranah yang lebih luas, misalnya “larangan mengambil hak dan kesempatan milik orang lain”. Dan pada kasus kemacetan di Blega inilah ia menemukan wujudnya.

Mengambil hak antrian di jalan raya (menyerobot) merupakan salah satu contoh nyata dari kaidah di atas dalam hidup sehari-hari. Yang begini-beginilah, yang justru sangat akrab dengan kehidupan kita, malah dilupakan, bahkan sering tampak permisif, dianggap bukan tindak kesalahan. Kalau kita bahas lebih lanjut, bertolak dari kaidah di atas, kasus kemacetan Blega ini bisa ditinjau dari segi penggunaan dan pengambilan hak (milik) orang lain oleh orang lainnya.

Pengguna jalan raya memiliki hak dan kewajiban untuk berjalan di sisi kiri. Mereka diberikan izin untuk berpindah ke lajur kanan apabila; pertama, hendak mendahului; kedua, terdapat rintangan di lajur kiri yang dapat membahayakan jika diterabas. Syarat tambahannya adalah; pada saat hendak menyalip, dipastikan tidak ada kendaraan lain dari lawan arah. Apabila jelas-jelas ada kendaraan dari lawan arah yang sedang melaju kencang dan jaraknya telah dekat, tapi ternyata masih tetap menyalip, maka tindakan tersebut juga dianggap sebagai suatu pelanggaran (sesuai kaidah di atas).  

Sekarang, anggap saja mengambil lajur kanan untuk menyalip itu sebagai tindakan darurat karena tidak mungkin menyalip tanpa melakukan tindakan tersebut.
Dalilnya;  الحاجة قد تنزل منزلة الضرورة (Kebutuhan [hajat] terkadang menempati posisi darurat). Akan tetapi, selesai menyalip, si pengendara tadi harus kembali ke lajurnya. Alasannya; ما ابيح للضرورة يقدر بقدرها (Sesuatu yang diperbolehkan karena kedaruratan harus disesuaikan dengan kadar kedaruratannya).

Dengan demikian, pengguna jalan yang haknya ada pada lajur kiri dapat disebut mengambil hak orang lain ketika dia berjalan di posisi kanan tapi dalam kondisi tidak menyalip, seperti menyerobot antrian, bahkan dapat dicatat sebagai tindak perampasan hak sebanyak dua kali dalam sekali tindakan: pertama; hak orang dari lawan arah (dari depan); kedua, hak orang lain yang searah untuk mendapatkan giliran tempat di dalam antrian. Walhasil, kalau tetap nyerobot, dia akan tabrakan dengan kaidah  التصرف في ملك احد بلا اذنه فهو باطل (menggunakan hak milik orang lain [apalagi mengambil] tanpa seizinnya adalah batal demi hukum alias tidak sah.

Untunglah, sekarang, kabarnya Blega tidak (begitu) macet lagi. Tapi, pengecoran lanjutan dan pelebaran jembatan sepertinya sedang menunggu giliran untuk kemacetan selanjutnya. Mari kita songsong bersama. Tapi, sebentar, mengapa pada paragraf pertama kok disebut 2 persoalan tapi uraiannya ada 3? Itu memang disengaja untuk mengetahui, apakah Anda membaca artikel ini sampai tuntas atau cuman dibaca judulnya saja. Membuat kesimpulan dari sebuah tulisan padahal yang dibaca hanya sebagian kecil, atau bahkan hanya judulnya saja, juga merupakan penyerobotan, lho, yakni penyerobotan pemahaman.

14 Juni 2021

Empat Tahun Data Hilang di Rumah, Ditemukan di TREKNOL

 

Tiga kali ini saya kehilangan data-data penting, juga banyak. Sepintas, kedengarannya saya sangat ceroboh. Mengapa sampai tiga kali? Biasanya, orang cukup kehilangan satu kali saja, kan, untuk membuatnya sadar agar tidak melakukan kesalahan yang sama? Tapi, kejadian yang ini berbeda. Simak saja. 

 

Data hilang yang pertama adalah tahun 1998 ketika komputer saudara saya digondol maling, padahal di situlah data-data saya disimpan karena saya tidak punya komputer sendiri. Sebagian data penting yang biasanya saya cetak (print) akhirnya diketik ulang lalu disimpan di komputer sendiri pada saat sudah punya sendiri, kira-kira tiga tahun sesudahnya. Masih untung saya suka nge-print artikel atau makalah yang saya tulis.


Kejadian kedua kalinya terjadi pada 2001, saat giliran komputer sayalah yang digondol oleh si maling, di kos-kosan, saat saya tinggal pulang. Maka, hilanglah semua data saya dan hanya sebagian kecil saja yang terselamatkan, yaitu data-data yang tersimpan dalam dua atau tiga keping disket yang masing-masing berkapasitas 1,4 MB (satu lampu mp3 saja tidak muat). Maka, pada kali kedua itu, hidup saya berasa bangkrut sekali.


Waktu berjalan normal kembali dan saya kembali bisa melupakan potongan-potongan kisah mengharukan dalam perjalanan hidup itu setelah beberapa bulan kemudian, tidak lama memang. Namun, acapkali ingatan itu datang dan saya berharap ia kembali secara tiba-tiba, misalnya membayangkan kejadian di dalam film terjadi di depan mata: seperti ada seorang ninja naik motor RX, melintas di depan saya yang sedang berjalan tertunduk, lalu melemparkan sebuah kantong, dan ternyata isinya adalah hardisk saya yang dicurinya. Misalnya, lho, imajinasi mengkhayalkannya begitu. Tapi, ternyata itu hanya murni khayalan, tak pernah terjadi. Data yang hilang tak pernah kembali.


Beli CPU refurbished IBM Intellistation di Hi-Tech Surabaya Mall, di tahun 2005 dengan spesifikasi IP 450 Mhz (Rp790.000), dengan hardisk yang kalau tidak salah ingat 40 GB, saya mempertahankannya hingga 2013. dengan CPU ini saya menulis dan daring, sejak era telkomnet @ instan hingga Speedy di bulan September 2008 (saya tidak pakai laptop). Baru pada tahun 2014 (kalau tak salah), saya membeli penyimpanan data ekternal (HDD ekternal) dengan kapasitas 500 Gb dan mulai memindah data-data di hardisk komputer ke situ, selang beberapa waktu dengan perubahan CPU ke IP 4 (2,4 Ghz).

 

curhat di Facebook, 4 tahun yang lalu

Akan tetapi, seperti biasa, karena terlena dengan rutinitas yang sepertinya aman-aman saja, akhirnya pencadangan data-data dilakukan tidak secara disiplin lagi, hanya sesekali saja, sesempatnya. Hingga akhirnya, pada pertengahan tahun 2017, hardisk saya mati total. Lenyap sudah semuanya. Yang tersisa adalah berkas-berkas lama yang sempat disimpan di hardisk ekternal, namun data terbaru, terutama data teks dan dokumen yang justru sangat diperlukan, hilang tak tersisa.


Hardisk Samsung dengan kapasitas 160 Gb itu saya bawa ke sana kemari, cari tukang perbaiki, dan mereka takluk karena yang rusak ternyata bukan cakramnya, melainkan sejenis ic yang bisa menyalakan dan membaca hardisk. Kata mereka, saya harus cari donor hardisk sejenis, yang tipenya sama dan persis.


Pada tahun 2019, hardisk tersebut sampai juga di Treknol, salah satu penyedia jasa penyelamatan data di Jogjakarta. Nama ini saya tahu dari teman, Aang namanya (sebelum ke Treknol, data saya juga sempat singgah di salah satu tukang servis, juga di Jogja). Namun, ternyata, mereka juga tidak mampu mengartasi masalah ini. Akhirnya, hardisk saya tarik lagi. Gak apa-apa, kata saya. Dan entah kenapa, tiba-tiba, hardisk donor saya temukan justru di dekat rumah, di Manding, Sumenep, dari saudara Fauzan, pada tahun 2021 ini. Saya bahagia. Saya kirim hardisk tersebut ke Jogja.


Singkat cerita, pada tanggal 3 Juni 2021, proses penyelamatan data berhasil, donor yang saya kirim tidak berfungsi maksimal. Kata Pak Zaenul, si mbahurekso, ia gunakan hardisk milik sendiri, hardisk yang sebelumnya beliau gunakan tapi tak bisa. Saya tidak paham prosesnya secara rinci, tapi seperti inilah curhat beliau di akunnya (saya tidak kenal beliau dan tidak berteman pula di Facebook). 

 

Sungguh, rasanya campur aduk. Di saat saya sedang mengalami kesedihan lain, pada saat bersamaan saya diberi kebahagian yang lain. Rasanya saya ingin jingkrak-jingkrak begitu saya lihat satu per satu hasil recovery atau penyelamatan data tersebut lengkap 100%. Saya baca esai dan artikel yang pernah saya tulis dan masih saya simpan dalam bentuk RTF, juga foto-foto lawas berdatum 2004 bahkan ada atau lebih lama lagi.

Terima kasih untuk semua orang yang sempat direpotkan oleh saya, khususnya seputar hardisk ini ini. Tentu saja, terima kasih yang pertama tentu untuk Pak Zaenul, si empunya Treknol (klik Alamat Treknol untuk tahu lokasinya).

  • 5741 file document (772 MB)
  • Tiga partisi, total 90 GB 



20 Maret 2021

Pengumuman-Pengumuman di Masjid

 

Saat mau melakukan shalat ta’khir magrib-isya di masjid Baiturrahman, Dumajah, saya bersirobok dengan papan pengumuman yang, dipasang di sana-sini. ‘Oh, ada banyak sekali peraturan di masjid ini rupanya,’ kata saya dalam hati. Petaraturan-peraturan tersebut ditempel di kamar mandi, toilet,  dan areal parkir.

 

Peraturan-peraturan sejenis sudah Anda lihat di masjid yang lain, bukan? Misalnya, anjuran “jagalah kebersihan masjid kita bersama” dan “sandal harap dilepas” itu standar sekali, biasa saja, sebagaimana anjuran “Hati hati dengan barang bawaannya” (yang sebetulnya bisa dibetulkan redaksinya menjadi hati-hati [terhadap] barang bawaan Anda).

Namanya saja iseng, maka saya amati satu per satu. Ternyata, peraturan-peraturan tersebut berisi larangan dan anjuran yang sifatnya keseharian, yang kalau saja kita pikir lebih jauh, sebetulnya kita tak perlu lah sampai diatur sebegitu jelimetnya macam begitu sehingga peraturan seperti itu ditempel di tempat umum.


Masalahnya, publik alias masyarawakat awam, eh, umum itu memang tidak suka berpikir panjang. Sukanya tindak cepat, pikir belakangan; ikuti yang sesuai keenakan, dampak urus belakangan.

Berikut beberapa pengumuman (larangan/anjuran) yang saya amati dan saya komentari:


“Jangan membuang popok/pampers sembarangan”

Lha, iya jelang, Dos. Masa kita mau buang popok sembarangan. Tidak dibuang sembarangan pun, kalau si popok dekat sama hidung kita, baunya tidak sedap. Bayangkan jika lokasi pembuangan popok secara sembarangan itu berlokasi di dekat masjid, di dalam toilet atau bahkan dekat tempat ambil wudu pula, kan cilaka. Alangkah betapanya tindakan seperti itu, dan betapa-alangkah-betapanya jika di dalam popok tersebut masih pula ada ee’-nya.


“Buanglah sampah pada tempatnya”

 

Ini anjuran dan pengumuman paling top se-Indonesia, dipasang di mana-mana. Teks seperti ini lazim kita lihat. Namun, andai saja kita sedikit berpikir, kita bisa bikin lebih baik, misalnya dengan mengganti redaksi menjadi “Jangan mudah bikin sampah!”. Coba pikir, sampah yang dibuang ke tempat sampah tetaplah menjadi sampah, cuman tidak kelihatan dari depan mata dan tidak berceceran, kan? Itu saja keunggulannya.

 

“Setelah pakek air, harap ditutup kembali”

 

Ini juga, termasuk pengumuman yang tidak masuk akal bagi orang-orang di luar sana. Bukan karena redaksi bahasanya yang rancu (tanpa menyebut kata ‘kran’), melainkan karena menunjukkan ada orang yang suka membuka kran dan tidak peduli untuk menutupnya.  Memang benarkah ada orang yang tidak peduli pada kran air yang terbuka sementara jeding sudah penuh dan meluap? Ada, dong, pastinya ada. Orang ‘genre’ seperti ini bernama genre absurd. Yang lebih tidak masuk akal daripada dia adalah dia yang ketika buka kran dan tak ada air, kran dibiarkan tetap terbuka (padahal semula tertutup, dia saja yang membuka). Ketika dia pergi, air dinyalakan oleh takmir, dan meluaplah jeding. Dia tidak tahu. Takmir tidak tahu.

 

“Dilarang mencuci mobil/ganti ban di area masjid tanpa terkecuali”.

 

Saya kira, pengumuman ini termasuk yang paling ganas, savage, yang mungkin dibuat dengan begitu emosional oleh si takmir masjid. Bagaimana mungkin ada tamu masjid yang dengan begitu santuy-nya memperlakukan halaman masjid ibarat bengkel vulkanisir dan/atau tempat cuci salju?

 

“Tidur di ruang ganti”

 

Yang ini bukan pengumuman, tapi kejadian. Memang, tidak ada plakat atau panjelasan apa pun bahwa area khusus di bagian selatan masjid tersebut adalah tempat kaum hawa ganti baju atau mengenakan mukena atau rukuh. Akan tetapi, adanya perlengkapan alat salat wanita, adanya tabir pemisah, sudah cukup jadi penanda bahwa petak itu bukanlah tempat untuk tidur, lebih-lebih bagi cowok. Kalau area itu ditempati orang tiduran, laki-laki pula, terus ibu-ibu dan mbak-mbak mau ganti baju dan pakai mukenanya di mana? Di toilet?

 

Dengan demikian, kesimpulannya, hal-hal yang sangat receh dan sederhana seperti ini sebetulnya tidak perlu dijadikan pengumuman, sebab kita mestinya harus tahu dan harus tahu diri bagaimana kita mesti bersikap di tempat umum. Lalu, mengapa bang takmir masjid sampai-sampai harus bikin pengumuman sebanyak itu? Dugaan saya karena dari saking banyaknya orang yang tidak peduli dan dengan asyiknya melakukan tindakan semena-mena.

 

Walhasil, kita itu sudah cukup banyak lah punya pakar dan intelektual, ahli, dosen-dosen, pemikir-pemikir, kiai-kiai, dan dai-dai, namun masih sangat kekurangan terhadap stok remaja dan papa-papa muda yang tidak malas berpikir.


18 Maret 2021

Salah Jalan


Hujan deras mengguyur kota Surabaya. Hari itu, Sabtu, 13 Maret 2021, saya melintasi Jalan Kenjeran, lurus ke Kapasan. Aspal, di beberapa tempat, bahkan nyaris tidak kelihatan, tertutup oleh genangan air.

Begitu putar balik di Jalan Gombong, saya lalu ambil sisi kiri, menyisi, untuk selanjutnya masuk ke Jalan Waspada, tapi celakanya saya malah yang kurang waspada. Akibat jarak pandang yang sangat buruk karena hujan, saya terjerumus ke pintu masuk Pasar Atom.

Setalah putar-putar di areal parkirnya, tibalah saya di pintu keluar.


“Berapa?”

“10.000,” kata petugas.

“Tapi saya tidak parkir, lho, Bu, cuman tersesat, salah jalan.”
“Iya, 10.000!” Entah mendengar alibi saya karena guyuran hujan atau karena memang mestinya begitu, saya tidak tahu, tapi begitulah jawaban beliau, sang ibu petugas pintu parkir.

 Kaca depan mengabut. Dalam hati ada kalut.  Kata orang, ini kadang disebut gabut.  

 

 

11 Februari 2021

Kormeddal: Makna Asal dan Kiasannya

 


Kami sedang duduk bertiga di sebuah kobhung (sebutan untuk tempat berkaki seperti surau, atau tempat tamu, atau tempat rehat). Seterusnya, kami bicara ngalor-ngidul. Obrolan rakyat biasa seperti ini jelas lebih banyak O.O.T (out of topic)-nya ketimbang tematiknya sebab kami ini orang biasa semua, bukan para anggota dewan yang sedang rapat paripurna. 


Singkat cerita, karena sebetulnya saya duduk di situ dalam posisi sedang 'menunggu', maka ketika datang seorang lagi, obrolan tetap nyambung meskipun semakin O.O.T. Yang datang terakhir ini bahkan tidak begitu saya kenal, cuman lupa-lupa ingat saja. 


Pada sesi akhir obrolan, saya bercerita tentang jamu. Sebabnya karena ada di antara kawan dalam lingkaran pertemanan kami yang sakit. Kami membanding-bandingkan soal jamu dan obat kimia. Tentu saja saya tidak memperparah penyimpangan obrolan dengan, misalnya, membahas soal obat tradisional terstandardisasi seperti yang diteliti dan dibahas oleh Mas Nanang Suryadi, contoh hal sejenis "bungkus jamu isinya bahan kimia", atau hal-hal seperti "dari biji kopi pilihan yang dibungkus sasetan padahal isinya cuman kulit kopi saja yang berperisa dan difermentasi". Kita ngobrol yang receh-receh saja. 


“Saya ada cerita. Ini soal jamu temulawak dan sirih dalam hubungannya untuk memperkuat imun dan ketahanan tubuh,” kata saya memulai cerita. “Jadi, kira-kira 4 atau 5 bulan yang lalu, saya sempat flu dan kehilangan indra rasa, hilang indra penciuman pula. Saya mengurung diri. Saya mencurigai itu gejala Covid. Makanya, saya...”


“Ah, Covid itu bohong, akal-akalan saja...” celetuk orang yang datang terakhir sambil tertawa dan lanjut berkata. Terus, bagaimana?”


“Gak jadi, ah!” balas saya.


***


Itulah yang saya maksud dengan “kormeddal” yang dalam Bahasa Indonesia kira-kira bermakna “asal mengayuh” atau “waton mancal” dalam Bahasa Jawa. Arti asal kata tersebut begitu, tapi sering digunakan secara metaforis oleh orang untuk menunjuk pada “omongan yang muncul tanpa dipikir, baik soal salah atau benarnya, atau soal tepat atau tidaknya, atau soal kontekstual dan tidaknya.


Belakangan, perilaku seperti ini sering kita temukan di media sosial, misalnya orang yang bukan teman kita tapi nyeletuk dan berkomentar out of topic atau nyepam atau ngisruh di postingan kita karena dibuka untuk publik. Harusnya dia risih karena tidak kenal, bukan? Juga tidak tahu siapa-temannya-siapa, tidak paham identitasnya, dst. Lha, dia ini dengan entengnya ngomong kormeddal. Tapi, yang saya ceritakan itu di media sosial, dan yang saya alami adalah di lingkungan sosial, di depan hidung.


Lalu, ada orang bernama Ragil Cahya Maulana bikin logo Kormeddal seperti ini (dia sudah bilang ke saya sebelum ini): “kormeddal”, tapi dalam huruf pegon. Nah, Ragil ini menggunakan kata—yang sebetulnya frasa jika ditulis terpisah menjadi: “kor + meddal” kembali ke khittah-nya, berarti “yang penting (bisa) mengayuh, sebab nama itu adalah nama bengkel sepedanya, di Jalan Diponegoro, kota Sumenep.


14 Januari 2021

Pengakuan Atas Pengakuan Palsu

 Saya mau bikin pengakuan atas pengakuan palsu saya, bahwa saya, dulu, pernah membohongi calon istri saya terkait identitas diri ini. Sebetulnya—dan ini bukan ngeles, serius—skenario ini bersifat spontan dan idenya bukandari saya, melainkan dari (mendiang) mertua saya. Saya maunya jujur, tapi ternyata jadi bubur. 

Calon istri saya itu, dulu, mondok di pondok yang tidak ada sekolah formalnya. Kata orang Madura, dia  itu santri salaf (tapi bukan Salafi; lembaga salaf artinya lembaga pendidikan yang menggunakan metode salafiyah). Dalam bayangan mertua saya (yakni ayahnya), tentu saja si calon istri tadi akan mendambakan suami yang chemistry-nya sama, nyambung, sekurang-kurangnya dari pondok pesantren yang metode pendidikannya mirip, serupa dengan pondoknya. Nah, karena si calon ini dari Sidogiri, pondok pesantren kesohor yang sangat terkenal dan alumninya rata-rata dikenal bermutu di bidangnya, terbayanglah si dia bakal langsung jatuh hati kepada saya.  

Saat dia datang dan duduk di ruang sebelah, bapak mertua (dulu masih calon) memperkenalkan saya kepadanya, “Jadi, dia ini guru tugas dari Sidogiri, mau ditempatkan di pondokmu. Nah, dia mau tanya-tanya materi kitab apa saja yang ada di pondokmu,” kata beliau. Sebetulnya, saya tidak sreg dengan skenario spontan ini karena kalau dipikir, ya, tidak logis juga. Masa' guru tugas masih nanya-nanya mau ngajar apa, mestinya kan sudah direncanakan sejak jauh hari sebelumnya, ndak perlu nanya-nanya, apalagi ke santrinya, bukan ke pengurus pondok. Ada-ada saja. 

Si calon tunangan tidak menjawab (Menurut pengakuannya beberapa tahun setelah kami menikah, waktu itu dia sebel sekali sama gaya saya. Katanya, dia sudah mencium gelagat si “guru tugas palsu” ini kalau sebetulnya adalah seorang lelaki yang ingin meminangnya, bukan guru tugas beneran). Saya menganggapnya tanda malu, padahal dia emoh, katanya. Cuman, pada akhirnya dia harus meleleh karena wasiat sang ibunda agar dia berserah kepada saya, calon tunangan dan (insya Allah) calon suaminya. “Terimalah calon yang melamarmu,” begitu kata istri saya saat menirukan pesan ibunya. 

Kini, dia telah menjadi sitri saya. Dan karena saya sadar kalau saya pernah bersalah kepadanya dengan mengaku santri Sidogiri, saya minta maaf kepadanya atas pengakuan palsu itu. Tentu saja dia sudah tahu sejak dulu. Tapi, bagaimana cara saya minta maaf kepada Sidogiri? 

Eh,  kok kebetulan atau bagaimana, saya diundang BPP PP Sidogiri untuk suatu acara. Nah, dalam pada itu, saya sampaikan perasaan berasalah ini, semacam curhat tapi entah untuk siapa. Saat itu, Badan Pers Pesantren (BPP) Sidogiri menyelenggarakan Orientasi Insan Pers dengan mengundang saya sebagai narasumbernya. Kegiatan bahkan terlaksana hingga dua kali,  pada 15 Pebruari 2017 dan berulang lagi pada 12 Pebruari 2020

Begitulah ceritanya. 
Apakah saya dimaafkan? 
Masa gitu saja tidak dimaafkan! He, he, he.

M. Faizi



Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog