09 Oktober 2015
Gelang Karet
Imam pun maju ke depan kelas. Pak Guru menjewer telinganya seraya berkata, “Kan sudah kubilang, kalau jangan cowok pakai gelang biar enggak kayak cewek.” Seluruh kelas malah gerrr. Imam kembali duduk, namun malah cengengesan, berbisik sama teman duduknya, jumawa, “Enggak sakit!” katanya.
Bukan sebab tidak setia kawan kalau setelah itu si teman duduk berdiri dan berkata lantang, “Pak, kata Imam, barusan itu enggak sakit katanya, Pak!”. Dia itu hanya terlalu polos, kurang tahu situasi dan keadaan. Maklum, mereka masih kelas 2 ibtidaiyah alias sekolah dasar.
Kini, giliran Pak Guru yang mendekati. Imam memang masih tetap duduk dengan mata menatap lurus ke depan, sama sekali tidak memperhatikan langkah-langkah Pak Guru ke arahnya, namun ada sesuatu yang tidak dapat disembunyikan: air mukanya berubah, tegang, kelam bersemu merah. Ia membayangkan apa yang akan terjadi dalam beberapa detik lagi; membayangkan Pak Guru akan menarik 3 gelang karet yang dipakainya di pergelangan tangan kirinya itu secara bersamaan lalu melepasnya sekaligus.
Pak Guru kini berdiri di samping Imam. Suasana tegang lalu kelas menjadi hening. Semua murid seolah-olah sedang menunggu keputusan yang menyangkut hidup dan mati…
* * *
“Masih ingat kejadian itu, Mam?” tanya saya padanya beberapa waktu yang lalu. Imam tertawa. “Sungguh indah masa kanak-kanak,” bisiknya lirih. “Kami merindukan masa-masa seperti itu.”
Kami pun bernostalgia, teringat masa kanak dulu. Ada kawan kami yang mungkin kalau mandi tidak pernah pakai sabun, tubuhnya bau daging sapi. Ada kawan kami yang rambutnya senantiasa klimis oleh minyak goreng, “Biar hitam mengkilat,” katanya. Pomade sejenis Brisk atau Tancho hanya biasa dipakai oleh orang dewasa. Terkadang kami saling ngerjain satu sama lain, semisal menarik kolor dari arah belakang hingga menyentuh tanah. Tak ada amarah, tak ada dendam. Hukuman seperti yang berlangsung di atas itu adalah hal biasa, termasuk bagian dari hiburan kami yang salah satu lainnya adalah mengisi mata pelajaran pertama di hari tertentu dengan mandi bersama ke sumber air yang tak jauh dari madrasah.
“Mam, andai sekarang kamu pakai gelang karet dan kamu diperlakukan begitu oleh gurumu, apa tindakanmu?”
“Lapor orang tua agar dilaporkan ke dinas terkait, atau kalau perlu ke Komnas Anak!”
Kami tertawa terbahak-bahak. Tidak ada yang terlalu lucu, memang. Kami hanya menertawakan keadaan yang sekarang berubah. Dikiranya ilmu manfaat itu bisa datang dari mulut ke telinga, dari buku ke pikiran, dari membaca ke pengertian? Ia datang dari hati ke hati, dari dada ke dada, melalui doa guru kepada murid di malam yang hening di saat mungkin orangtuanya malah tidur pulas dan tidak tahu apa yang akan dipelajari anaknya esok hari.
31 Desember 2010
"Gadis dalam Lukisan": Tentang Sebuah Buku dan Keinginan Menjadi Penulis
Kira-kira tahun 1985, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, antara kelas 5 atau 6, saya gemar membongkar-bongkar buku untuk dibaca di perpustakaan sekolah. Namun, perpustakaan yang saya maksud bukanlah perpustakaan madrasah ibtidaiyah tempat saya menuntut ilmu, melainkan Perpustakaan Madrasah Tsanawiyah Putri Annuqayah yang dikelola oleh kakek saya dan terletak di samping rumah).
Koleksi buku di perpustakaan tersebut sangat terbatas. Barangkali, karena alasan inilah kegemaran saya ini terbentuk. Meskipun tidak secara lahap, fiksi maupun nonfiksi, semua saya baca tak pandang buku. Di antara bahan bacaan yang paling saya suka adalah buku-buku inpres bertema ilmu pengetahuan alam. Buku-buku ini bergambar dan sifatnya serial, antara lain buku tentang sejarah kereta api, batu-batuan, listrik, mesin uap, dan pesawat terbang. Sayangnya, tidak satupun buku yang saya ingat judulnya, kecuali buku tentang pesawat terbang—kalau tidak salah—berjudul “Wilbur Wright Bersaudara” (untuk kategori non-fiksi) dan “Jarot Pahlawan Cilik” (untuk kategori fiksi).
Selang beberapa minggu, bukan alang-kepalang saya gembira ketika melihat seorang petugas pos datang membawa amplop berwarna coklat. Saya buka; wow! Sebuah buku. Ya, itu buku yang tempo hari saya minta. Beruntung, dan kebetulan sekali, buku yang saya terima adalah buku fiksi kesukaan saya. Buku tersebut adalah buku kumpulan cerita pendek karya Darwis Khudori, “Gadis dalam Lukisan”.
Siang itu, tepatnya tahun 2006, saat saya membaca sebuah buku kumplan cerpen berjudul “Odah dan Cerita Lainnya” karya Mohammad Diponegoro, entah mengapa tiba-tiba saya teringat buku kumpulan cerpen yang saya baca 21 tahun yang silam itu. Mendadak muncul keinginan untuk mencari tahu, di manakah si penulis buku “Gadis dalam Lukisan” itu kini berada.
Berdasarkan alamat emailnya, saya menduga, Pak Darwis Khudori tinggal di Perancis. Segera saya layangkan sebuah email kepadanya. Isi email tersebut antara lain berisi testimoni seorang pembaca kepada seorang penulis, tentang sebuah keinginan untuk mengenal lebih jauh sang sastrawan. Kurang dari sebulan, Pak Darwis membalas.
Itulah kisah perjumpaan saya dengan sebuah buku (pertama) yang membangkitkan hasrat saya untuk menulis. Saya berusaha mengingat-ingat kembali kenangan itu sekarang, tentang sebuah keinginan yang kuat, tentu agar saya bersemangat lagi, kembali berapi-api.
