Suatu pagi, tetangga saya, dengan membawa main keponakannya, bertandang ke rumah. Siang harinya, dia menelepon, menyampaikan berita kalau si keponakan menangis karena sandalnya ketinggalan. Dia bilang, “Nanti ashar saya ambil, ya!”
Saya jawab, “Silakan, tetapi saya tidak di rumah. Biar saya letakkan sandal itu di depan pintu dan kamu tinggal mengambilnya..”
Agar tidak tertukar, saya sandingkan sandal-si-keponakan-kawan itu bersama sandal kemaharajaan-ku karena khawatir akan tertukar lagi dengan sandal anakku.
Kesimpulan: cara singkat membuat definisi (untuk memperkenalkan sesuatu kepada orang lain) sebetulnya cukup dengan mengenali/memperkenalkan ciri-cirinya, atau sesuatu yang dekat dengannya. Dakwah, demikian atau iklan, saya kira cukuplah dengan memberi ciri, biarlah orang lain membuat pengertian sendiri berdasarkan persepsinya.Ciri-ciri mobil, misalyna, antara lain: beroda empat , berbahan bakar, berkemudi, berkabin, dll.
Nah, mengapa kita sulit memahami puisi? Ya, karena puisi menyimpan definisi dan ciri yang tidak terduga, dan karena yang majazi cenderung dibaca dengan hakiki, yang metaforis selalu diterima secara literal; sekurang-kurangnya, seperti sandal itu.
Karena itu, yooook berhenti berburuk sangka atau shu’out dhown (gak baik bagi otak dan bisa mematikan komputer!) Siapa tahu yang ada di hadapan Anda itu puisi pada saat Anda membacanya dengan pandangan hakiki.
(nyambung gak nyambung yang penting menjadi satu, itulah
