Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

26 Februari 2026

Korupsi 2000 Rupiah

 

Tadi pagi saya bayar pajak kendaraan yang angka akhirnya 77.000, tapi petugasnya bilang, “Sekian, sekian, 80.000…”. Saya pun membayar dan mendapat kembalian 20.000. Saya pikir, tarif pajaknya naik 3000 dibanding tahun lalu. Akan tetapi, setelah saya pergi dan mengeceknya kembali, barulah saya sadar kalau angka terakhir pajak yang terbayar adalah 78.000 (naik 1000 rupiah ketimbang tahun lalu), jadi bukan 80.000.


Sebetulnya, saya mau komplain dan menagih kembalian Rp2000 itu (saya pernah melakukan hal seperti ini di retribusi pelabuhan dan tiket kapal feri). Sayangnya, saya sudah terlanjur pergi dari depan petugas yang secara aturan biasanya tidak diperbolehkan ada komplain lagi. Bagaimanapun, 2000 itu harus saya ikhlaskan, ikhlas tapi terpaksa.


Saya benar-benar prihatin! Bagaimana begitu tidak berharganya Rp2000 di hadapan mereka! Betapa mudahnya mengambil uang orang lain tanpa merasa bersalah hanya karena ia berjumlah 2000. Mengapa saya yakin pola ini sistematis? Karena tidak ada permaafan, tidak ada permakluman, semisal ‘Maaf, Pak, kembaliannya tidak ada, biar kami bulatkan saja, ya!’ atau kalimat yang lain yang mirip sehingga jelas ijab-qabulnya. Yang ini mah main ambil saja.


Ternyata, setelah tiba di rumah, saya malah dapat tambahan cerita kalau pola-pola seperti itu banyak terjadi di mana-mana, seperti saat menimbang beras, misalnya. Dalam proses menimbang beras, sering kali pembeli beras (yang punya toko) menyebut angka di depan komanya, sementara di belakang koma dianggap tidak penting. Kurir paket konon juga ada yang demikian. Mereka membuat pembulatan secara karepe dhewe tanpa dikonfirmasi dulu terhadap pembeli. Celakanya, yang seharusnya dirugikan malah tidak merasa dirugikan, kalau menuntut ujung-ujungnya malah dianggap pelit atau terlalu perhitungan.


Segitu buruknyakah hukum dan nasib kita di sini, sehingga yang benar terkadang harus relah seperti yang bersalah untuk sekadar meraih kebenarannya?


Ini bukan soal 2000, tapi soal komitmen, soal kejujuran. Sikap tidak jujur yang dimulai dari 2000 akan mudah merebak ke angka 200.000 dan seterusnya. Lebih tidak dapat dibayangkankan lagi jika uang-uang dari sumber tidak jelas itu harus diberikan kepada anak, cucu, kepada istri.

08 Agustus 2011

Keinginan, Nasib, Rezeki (Edisi Ramdhan)

Keinginan teman saya ini sederhana, tetapi butuh spekulasi yang tinggi: menang undian/lotere sekitar 1 milyar. Semua duitnya akan didepositokan dan dia tidak akan bekerja atau investasi apa pun. Dia hanya akan menikmati hidup dengan duduk baca koran di pagi hari, siang nonton tivi, dan jalan-jalan sampai malam. Ia hanya ingin hidup dari bunga bank. Cukup.

Ada pula seorang yang sungguh sangat kagum dan bernafsu menjadi pegawai. Pokoknya pegawai, apalagi pegawai negeri. Karena dengannya, kata dia, hidup dia akan terjamin setiap bulan. Kelak, dia juga akan tenang menghabiskan hari-hari di masa tua. Namun, kasihan yang ini: dia belum meraih cita-cita itu sampai sekarang meskipun telah banyak menghilangkan sawah dan ladang orang tuanya. Entah untuk apa.

Satu lagi. Dia yang ingin menjadi orang terkenal. Keinginan ini berdasar pada faktor dendam. Dan dia tidak tidak main-main untuk ini. Ia belajar menyanyi, bersengau-sengau kalau bicara, dan sangat mencintai cermin. Rambutnya selalu rapih, pakaian bersih, dan punya hobi bersisir. Ia ingin jadi sejenis artis, sekurang-kurangnya masuk tabloid showbiz lah. Tujuan akhirnya bukanlah duit, melainkan dengannya dia berharap bisa memilih pasangan yang paling cantik lalu menunjukkan kepada perempuan-perempuan desanya yang telah menolak cintanya.

Ada yang lurus-lurus saja; ini beda lagi. Jalan hidupnya seperti kereta api. Serongnya tidak diketahui. Pikirannya seperti kubus: kotak-kotak. Ia seoalah-olah tidak pernah punya cita-cita. Nasib membuatnya menikah dengan tunangannya yang kebetulan kaya mendadak. Lalu, kebetulan lagi, si putri anak tunggal yang didukung oleh kebetulan lainnya lagi; baru menikah, mertua meninggal. Lelaki itu kini belajar mengemudi, punya mobil mendadak. Dia itu sangat mencintai kebetulan.

Sungguh, ini adalah macam-macam keinginan, pekerjaan, dan nasib. Kiranya, tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Saya menulis catatan ini hanya karena tiba-tiba menyadari, betapa banyak cara pandang orang untuk mengetahui cara memperoleh rezeki, bahkan termasuk dengan cara yang jahat, seperti korupsi. Masih mending jika itu hajat dasar hidup, seperti makan. Yang aneh adalah tetap menempuah cara yang haram hanya untuk bermewah-mewah.

Satu lagi: di antara semua teman yang saya kenal, keinginan Udin yang paling remeh. Ini buktinya: “Perempuan seperti apa yang kamu inginkan, Din?”/ “Tidak perlu cantik karena aku juga tidak tampan. Tidak perlu kaya karena aku juga masih pengangguran. Yang seimbang lah. Tapi kalau boleh berharap…” / “Iya, apa harapanmu menyangkut perempuan calon istrimu itu, Din?” / “Punya rumah di tepi jalan.” / “Hanya itu?” / “Iya. Karena aku sudah bosan tinggal di pedalaman selama 20 tahun, jauh dari jalan raya dan lalu lintas kendaraan.” Sungguh. Ini keinginan beneran dari manusia beneran.

Terus terang, karena saya bukan pekerja kantoran, tidak memperoleh pendapatan yang pasti setiap bulan, maka wajar jika saya selalu khawatir, sudah murnikah makanan yang saya telan? Apakah rezeki itu saya peroleh dari jalan yang suci dan benar-benar bebas dari sogokan? Nah, di bulan suci ini, kiranya masih banyak yang menikmati rezeki dari jalan yang kotor. Bahkan, terkadang untuk kepentingan suci di tanah suci, benar-benar ada orang yang membiayainya dari rezeki yang tidak benar-benar suci.


Na’udzubillahi minas sogok, ya, Rabbi..


27 Mei 2009

Karcis

Barangkali, pengalaman ini juga sering Anda alami: setiap keluar dari area parkir, saya merasa betapa karcis parkir nyaris tidak ada gunanya lagi. Mereka, para jukir itu, menarik uang, mulai dari Rp500 hingga Rp1.000 tanpa perlu menyerahkan karcis kepada kita. (biasanya, baru untuk tarip parkir di atas 1000 rupiah yang ada karcisnya).

Pengalaman gerah soal karcis ini bermula ketika saya hendak menyeberang di dermaga Ujung-kamal. Waktu itu hujan deras. Sementara itu, dermaga I dalam tahap perbaikan. Beberapa calon penumpang dialihkan ke dermaga darurat yang cause way-nya direkayasa dari sebuah kapal ferry Ro-Ro yang dipatok dan disandarkan ke pelabuhan. Dengan cara itu, ferry pengangkut dapat menaikkan/menurunkan kendaraan melalui dari ferry Ro-Ro yang dimodifikasi itu.

Waktu itu hujan deras, para calon pemumpang berseliwer, tergesa-gesa, juga panik karena hujan mendadak turun dan deras menderu. Bahkan, saat membayar uang tiket kapal untuk 1 mobil roda empat dengan 5 penumpang, saya tak diberi karcis. Tetapi, untunglah saya sempat memintanya kembali kepada petugas meskipun saya harus turun kembali dari mobil yang telah diparkir di dalam ferry dengan resiko basah kuyup terkena hujan.

(Dalam hati saya membatin, betapa banyak orang yang membayar ongkos penyeberangan dan tidak meminta karcis? Wah, pada ke mana tuh uangnya? Tidak jelas, kan?)

Tetapi, ini masih mending:

Kisah serupa terjadi di tempat yang sama, pada waktu berbeda. Persiotegngan terjadi satui-lawan satu antara calon penyeberang yang ngotot meminta uang kembalin Rp300 melawan petugas retribusi yang kawannya banyak dan dianggap telah menyepelekannya.

Alaah, Pak haji, tiga ratus rupiah saja kok diminta..”

Orang tua berpeci haji itu mencak-mencak dan marah besar. Katanya, “Saya bukannya kikir. Ngasih Anda sepuluh ribu pun saya oke. Tetapi cara Sampeyan ini yang gak betul! Ngéco’ (artinya: mencuri/korupsi)! Mana, kembalikan uang kembalian saya, 300!”

Petugas itu bersungut-sungut tanpa perlawanan, entah mangkel entah nyadar.


Saya merasa baik setelah tiket penumpang untuk penyeberangan sekali jalan Ujung-Kamal kini menjadi Rp3.700 (setelah sebelumnya Rp 4.000). Bayangkan, saat dulu tiket ini ditarip Rp 1.950 per penumpang. Nah, pada pergi ke mana tuh uang Rp.50,-an untuk uang kembalian dari setiap dua lembar uang ribuan yang dibayarkan? Sungguh hampir mustahil ada orang membayar 1.950 dengan uang pas. Yang lumrah mereka membayar 2 ribu rupiah dan terus melenggang. Bayangkan jika terjadi korupsi Rp.50 dalam setiap 5 detik, tinggal kalikan saja selama 24 jam, kalikan lagi selama sepekan, kalikan lagi, kalikan lagi...


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog