Saya tinggal di dekat jalan desa, mungkin kelas III-B. Jarak dari pintu depan dengan jalan kurang dari 15 meter. Jika ada sepeda motor yang dipacu hingga lewat RPM 3000, suara knalpotnya akan terdengar sangat bising sampai ke dalam kamar. Kalau diklasifikasikan, ada tiga suara penting di jalan itu; knalpot, klakson, dan mesin. Bagi saya, deru mesin hanya berada di urutan ketiga dalam tingkat kebisingannya.
Saya termasuk orang yang tidak suka dengan suara klakson. Di lampu merah (APILL), sering saya mendengar orang membunyikan klakson berbarengan dengan lampu yang berubah menjadi hijau. Bunyi klakson itu sama artinya dengan “Ayo jalan, cepat. Tuh sudah hijau!”. Tapi, ada pula orang yang suka membunyikan klakson di mana pun ia berkendara. Saya mengherankan cara ini. Bagi saya, kebiasaan ini diawali oleh cara awal yang salah dalam mengmudi, baik mengemudi sepeda ktoor ataupun mobil. Akhirnya, kita cenderung menggunakan klakson sebagai bagian penting dan vital dari berkendara. Sebentar-sebentar klakson. Suatu waktu, saya pernah mendengar orang membunyikan klakson mobilnya sebanyak 11 kali hanya pada jarak kurang dari 700an meter. Gila, kan? Saya pikir. Betapa telinga kita akan stress mendengar bunyi itu. Padahal, pada saat itu jalan tidak begitu ramai.
Itu soal klakson. Bagaiamana kabar knalpot? Setiap mesin memproduksi kebisingan. Teknologi otomotif menciptakan inovasi demi inovasi pada knalpot untuk meredam kebisingan itu. Namun, kita juga tahu ada knalpot “telo”, knalpot yang bentuknya seperti ubi kayu itu. Knalpot macam ini sangat bising. Lalu, apa cita-cita dari knalpot seperti ini, ya?
Jika semakin hari jumlah penggemar knalpot telo ini semakin bertambah, bukan tidak mungkin pabrik kendaraan bermotor (terutama sepeda motor) akan mengeluarkan varian khusus sepeda motor dengan knalpot yang bising. Buktinya? Bengkel memodifikasi sepeda motor bebek dengan rem cakram, maka keluarlah varian sepeda motor bebek dengan rem cakram. Bengkel lain memodifikasi sepeda motor bebek dengan kopling ganda, keluar pula varian seperti itu dari dealer. Contoh, FIZ-R dan Supra XX.
Sebelum varian sepeda motor berknalpot bising diluncurkan, ada baiknya saya usulkan kepada pabrikan agar nanti, jika varian ini benar-benar diluncurkan, corong knalpotnya diletakkan di tengah, yakni dari manifold mesin langsung ditekuk ke atas, dekat dengan telinga si pengendara. Dengan cara ini, pengendara akan dapat menikmati suara knalpot dengan sempurna. Bahkan, saya akan mengusulkan agar knalpot tersebut dilengkapi dengan “manual equalizer”, sehingga pengendara dapat menentukan selera dan tingkat kebisingannya: mau nge-bass ataupun cempreng sama-sama bisa.
Selamat berinovasi. Teruskan cita-citamu, Knalpot!
referensi lain tentang klakson yang ramah telinga: di sini
