Apa hubungan akronim dan Jembatan Suramadu?
Hari Selasa, tanggal 1 April 2009, bagian tengah jembatan Suramadu telah tersambung. Masyarakat bersuka cita atas tersambungnya titik ini. Kelak, kita yang orang-orang dari Madura ini akan menyberangi selat Madura lebih cepat daripada naik tongkang.
Dulu, orang-orang menolak karena khawatir siapa yang berkepentingan dengan jembatan hasil duit pinjaman ini. Apakah pemerintah akan membangun Madura atau membangun (di) Madura? Masyarakat tidak siap, karena belum dipersiapkan. Apa lacur, jembatan sudah dibangun dan kini tinggal tunggu sirene peresmian dibunyikan!
SURAMADU: kira-kira yang dimaksud adalah akronim dari “Surabaya-Madura”.
Mengapa tidak diberi nama Jembatan Surabaya saja?
Mengapa tidak diberi nama Jembatan Madura saja?
Mengapa tidak diberi nama selain keduanya (mis. Jembatan Antarnusa) saja?
Mungkin, penamaan Suramadu merupakan efek dari tabiat kita yang gemar bikin akronim. (Bahkan ada singkatan di dalam akronim, seperti POLRI [pol=polisi, R.I.). Kosa kata memang harus bertambah/ditambah agar bahasa semakin “dewasa”. Soal teknologi kita sudah terlalu banyak mengadopsi dari Bahasa Inggris, yang lain dari bahasa Belanda, keagamaan dari bahasa Arab. Lambat laun, kegemaran menyingkat-nyingkat akan menjadi pabrik kosa kata kita yang tidak terlekaan diluar adopsi (mis. madrasah = madrasah), adaptasi (politic = politik), dan penerjemahan (mis. spare part = suku cadang). Kreativitas “sambung-menymbung menjadi menjadi satu” inilah yang melahirkan, antara lain, rudal (peluru kendali) dan pemilu (pemilihan umum) hingga tidak terasa lagi asal-usul singkatannya.
Pertanyaan tambahan:
Englitonengtakjih
aengnga agili, bhatona nengenneng, kata'n ngajih!
