Ini adalah adegan percakapan antara penumpang dan petugas. Sopir mobil carteran terlanjur pasrah dan diam karena STNK dan SIM-nya sudah berpindah ke tangan petugas.
“Kendaraan Anda kelebihan penumpang!” kata petugas dengan nada tegas.
“Beh, Pak! Kami ini mau pergi ziarah ke Syaikhona Kholil, Pak!”
“Iya. Itu urusan Anda, mau ke mana saja terserah Anda. Tapi kendaraan ini kelebihan penumpang dan tetap harus ditilang. Mari, mari kita selesaikan di pos.”
“Lha... Pak! Pak! “Orang tua itu memanggil-manggil petugas. Sementara si sopir pasrah karena membayangkan denda yang harus dibayarkan, di pos atau di pengadilan.
“Pak!!” Kali ini, lelaki itu memanggil petugas dengan nada nyaris berteriak, “Sampeyyan ini mau tilang kami? Benar? Sampeyyan ndak takut kena tola (tulah)? Kami ini mau ziarah ke pasarean Syaikkona Kholil lho. Awas, ya. Saya ndak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Sampeyan besok.”
“Jangan! Jangan mutasi mobilmu ke plat M kalau memang mau digunakan perjalanan ulang-alik Madura-Jawa..”
Testimoni ini, dulu, kerap kali saya dengar di sela-sela pembicaraan antarpengemudi atau para pemilik mobil carteran. Di Madura, sebagaimana lazim diketahui di era pertengahan 80-an hingga awal 90-an, banyak sekali kendaraan MPV/station wagon (berupa Colt T 120, Hiace, L300, atau Suzuki Carry, yang digunakan mobil carteran. Umumnya, mobil-mobil ini disewa untuk kepentingan kondangan ke Jawa, ziarah, atau lainnya.
Dulu, saat semua kendaraan harus melewati penyeberangan Kamal untuk tiba di Ujung (Jawa), kendaraan-kendaran plat M, kata gosip yang berkembang di kalangan sopir, senantiasa jadi santapan empuk dalam urusan tilang. Biasanya, pelanggaran tersebut mencakup urusan tuduh-menuduh seputar “taksi gelap”, dan lain-lain. Mengapa palt M? Anehnya, ini juga kata gosip yang mereka kembangkan, kendaraan serupa akan relatif lebih aman asalkan plat nomornya non-Madura (bukan plat M), lebih-lebih plat L (Surabaya). Karena itu, banyak pemilik kendaraan yang beroperasi di lintasan ini justru memutasi nomor polisinya menjadi plat L.
Bagaiamana ketakutan ini bisa terbentuk? Saya tak mengerti, mengapa, kapan, dan bagaimana kenyataan semacam ini terjadi, berjalan, dan rasanya terus berlangsung hingga hari ini. Boleh jadi, hal ini diakibatkan oleh banyaknya kasus pelanggaran tatib di masa lalu yang telah dilakukan oleh mobil-mobil berplat M. Tapi, seberapa banyak yang melanggar? Mengapa teror itu berlangsung hingga hari ini? Dampaknya, “mereka yang berjalan di jalan yang benar” akhirnya terkena dampak perasaan inferior juga, ikut-ikutan minder. Di atas semua itu, saya juga tidak tidak tahu, berapa banyak mobil bodong yang berkeliaran di luar sana dan karena penampilannya yang keren dapat terlepas dari jerat pelanggaran tatib ini.
Apakah ini merupakan bagian dari persoalan identitas; pencitraan yang tercipta sejak era kolonial; dampak buruk dari entologi yang berkembang?
Waduh, kok jadi bertanya terus menerus sih? Eh, kok malah tambah bertanya? :-)
Banyak orang mengenang hari ini. Namun, umumnya tentang kenangan pahit, minimal célo’. Kenangan tentang teror, sebuah upaya menciptakan suasana ngeri dan takut dalam ketenangan hidup. Teror adalah sakit yang tidak kasat mata. Ketakutan dari jenis ini sangat menukik, tetapi tidak di-belasungkawa-i sahabat dan famili karena tidak kelihatan. Sakitnya bukan ke badan, tetapi pada mental dan perasaan. Sulit melawan teror karena kita tidak sedang berhadapan dengan “yang kelihatan”.
Kasus-kasus teror di Timor-Leste, ditulis sangat apik-deskriptif oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan cerpen “Saksi Mata”. Seno menulis ini konon karena di zaman Orba, ngomong kormeddal atas kepincangan sikap adil pemerintah dapat berakibat subversi dan si empunya ide akan raib entah ke mana rimbanya. Bahkan, tak ketahuan nasib dan makamnya. Karena itu, kata Seno, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Fakta pun difiksikan, disamarkan, untuk menyampaikan kebenaran.
Kasus Trisakti dan Kudatuli adalah serangkaian cerita horor. Namun, di balik itu semua, sesungguhnya, ada sejumlah kisah teror yang tidak sembarang jadi berita. Lazimnya, teror berupa ancaman tak langsung karena lawan sadar penuh dirinya mengandung banyak sifat asam dan masih butuh, antara lain, pada Zirconium Tetrachlorohydrex Glycine, PPG-14 Butyl Ether, Cyclomethicone agar dirinya tak jadi kecut se-asam penakut.
ponsel protolan milik Out of Topic (O-O-T)
Teror dalam perkomunikasian dan pertelponan dan perhapean dan per-sms-an, dalam keseharian kita, terkadang muncul, antara lain, melalui: kawan yang sering gonta-ganti nomer ponsel (usaha pemerintah mewajibkan pendaftaran nomor ke 4444 ternyata kurang berhasil), SMS ancaman dari nomor tak dikenal, panggilan pribadi/private number, telepon mendadak pada hari Jumat jelang siang berisi kabar hadiah/hibah dengan syarat segera menyetor uang muka (dengan berharap kita lengah; diberi kesempatan berpikir tergesa karena terbentur jam tutup kas bank di hari Jumat dan Sabtu-Minggu yang rehat); semua ini juga anak-pinak teror, lho…
Nah, rugi kiranya kita mudah terteror oleh SMS-SMS bersayang-sayang dari nomor tak dikenal. Sebab, melayani yang tak dikenal/tidak jelas rasanya memang kurang berfaedah kecuali untuk mengisi waktu luang (sebagai ganti dari teka-teki silang, kelebihan pulsa, dan jempol yang terlalu berotot buat balas SMS).
“Pa kbr, Sayang….”
“Baik-baik, Sayur! Nih, aku lg makan ama teror mata sapi..."”