Akhir Nopember tahun lalu, 2012, empat orang guru bersepeda dari Suramadu, lewat pesisir utara Madura. Tujuan mereka adalah Guluk-Guluk. Setelah bermalam di rumah teman mereka, Imam Junaidi di Ketapang, esoknya mereka melanjutkan perjalanan ke Guluk-Guluk, via Waru dan Pakong.
Saat pertama kali bertemu mereka (Pak Nanang dan istrinya, Liza; Pak Tedi Wardhana dan istrinya, Sekar Dinihari), saya nyaris tak percaya melihat mereka benar-benar nyampe di Guluk-Guluk. Mereka telah melahap jarak tempuh sekitar 150-an kilometer. Hebat, kata saya. Tentu, pernyataan ini saya bandingkan dengan kemampuan saya dalam bersepeda, selama ini.
Nah, 4 hari yang lalu, 31 Agustus 2013, saya mendapat hadiah buku dari Sekar Dinihari; sebuah buku berjudul “Bersepeda Membelah Pegunungan Andes”. Membaca judulnya saja, saya terperangah, karena Andes adalah pegunungan terpanjang di dunia. Benarkah ada orang nekat seperti itu?
Begitu dapat satu-dua-tiga halaman, sontak saya seperti dipaksa harus melahapnya dalam beberapa kali duduk saja. Maka, pada setiap babnya, bukan decak kagum yang terlontar, tapi ungkapan sejenis “Paimo Edan!” lah yang keluar. Bagaimana tidak, dia itu bersepeda dari La Paz (Bolivia), yang ketinggiannya rata-rata di atas 3.500 mdpl, ke arah barat daya. Daerah-daerah yang dilaluinya antara lain adalah Andean Alti-Plano, menyeberangi danau garam (Salar de Uyuni), melintasi pegunungan Andes, menyusuri gurun Atacama (belakangan dijadikan ajang rally, gantinya Paris-Dakar), La Serena dan Santiago de Cile di Cile, Patagonia. Dia lalu ke Comodor Rivadavia di Argentina, balik lagi ke wilayah Cile, dan berakhir di Punta Arenas, ujung paling selatan Benua Amerika.
Akhirnya, buku terbitan Kompas (2012) dengan ketebalan 304 halaman ini saya baca pagi hari tanggal 1 Agustus 2013 dan selesai esok malamnya, pukul 22.00. Tidak pernah saya membaca buku sampai sengotot ini. Rasanya, buku tersebut menciptakan sensasi tersendiri, sensasi bersepeda jarak jauh dalam kata-kata. Saya pun turut mengharu-biru merasakan 74 hari pengembaraan Paimo dalam dua hari membaca.
Astaga, ‘bener-bener gila ini orang’, begitu batin saya. Paimo telah melintasi pegunungan, danau garam, stepa, sabana, tundra, pampa, dengan jarak 6000 kilometer jauhnya dengan sepeda. Paimo edhyaaan! Lebih-lebih, semua itu ia lakukan sendirian.
Dari sana, pelajaran yang saya dapatkan antara lain adalah: petualangan itu membutuhkan ketangguhan lahir-batin, uang nomor sekian; kemampuan berbahasa asing tidak begitu diperlukan jika kita bisa menggunakan bahasa hati, demikian saran Paimo; nilai-nilai kemanusiaan selalu muncul dan tercipta dalam setiap pertemuan dengan masyarakat setempat, bertahan dari gempuran alam dan cuaca; terakhir, rasa penasaran pada sikap istri dan anaknya, Ochen dan Tia, yang ditinggalkan: bagaimana sikap dan perasaan mereka berdua atas seorang kepala keluarga yang petualang. Inilah inti dari pembacaan saya yang tak sedikit pun terbayang jawabannya.