Pernah dengar ungkapan “mabuk kepayang”? Frase ini—setidaknya dalam pemahaman saya—berasosiasi terhadap situasi tergila-gila akan sesuatu, terutama yang disebabkan oleh faktor asmara. Belakangan, saya baru tahu kalau kepayang itu ternyata nama lain dari keluak, atau kluwek kami sebut. Ia adalah jenis tumbuhan dan buah, bagian dari keluarga besar rempah-rempah.
![]() |
| Rawon Rosobo, Mojoagung, Jombang |
Tapi, bagaimana rasanya sajian rawon andai tanpa kepayang?
Rawon tanpa kecambah tetaplah rawon. Tapi, rawon tanpa kepayang atau kluwek, ia
akan menjadi bukan rawon, atau rawon-rawonan, atau rawon palsu. Kepayang adalah
rempah kunci untuk masalah berkuah hitam dan lezat ini. Dipasangi kepayang pun,
jika tidak sesuai dengan kadar, seperti terlalu sedikit, misalnya, maka rawon
pun tidak akan punya nilai standar kelezatan.
Dari sini saya sadar, betapa hebat rempah-rempah di
Nusantara ini, di bumi Indonesia ini. Yang semula dianggap racun bisa jadi
nikmat jika dicelupkan ke tempat yang benar. Begitu pula seperti buah pala yang
di Barat dianggap sebagai sejenis narkotika Timur, karena dapat membuat orang
tidur lelap. Pala adalah rempah yang digunakan untuk banyak jenis masakan. Bahkan,
pala jauh lebih sering digunakan daripada kepayang. Di Maluku sana tempatnya,
di Pulau Ternate khususnya.
Terima kasih harus kita sampaikan kepada penemu rawon, jangan
cuma berterima kasih kepada Newton dan Thomas Alfa Edison.

