Tampilkan postingan dengan label polusi suara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label polusi suara. Tampilkan semua postingan

24 Januari 2014

Kebaikan dalam Keberisikan

Dulu, saya pernah main ke kos teman di Semanggi II, Ciputat, belakang UIN Syarif Hidayatullah. Letak kamarnya bersebelahan dengan sebuah musholla. Sepintas, kawan satu ini mirip takmirnya, padahal dia anak kos biasa. Saya tanya harga sewanya. Angkanya saya sudah lupa, tapi yakin itu jauh lebih murah dibandingkan sewa kos teman saya yang lain dengan ukuran dan fasilitas yang sama. Secara berkelakar, teman saya itu bilang: “Ya, di sini murah karena dempet musholla yang setiap waktu adzannya sangat keras terdengar sampai ke dalam kamar.”

Meskipun hanya jawaban  kelakar, saya mencoba berpikir, ternyata, bagi orang yang menginginkan ketenangan benar-benar, suara adzan, dzikir, tartil, dan ‘suara-suara baik’ yang lain akan dapat dianggap ‘gangguan’, ingat, ya, kalau itu terlalu keras/lantang. Nah, beberapa waktu yang lalu, saya mendengar kabar dari saudara jauh. Bahwa pada akhirnya, mereka, dia dan orangtuanya, pindah rumah karena, salah satu alasan terpentingnya, tidak tahan pada keberisikan suara pengeras suara dari masjid yang ada persis sampingnya.

“Mengapa tidak mohon pengertian takmir masjid?”
“Sudah, namun takmir masjid rupanya tidak mau ditegur meskipun beberapa warga sudah berembuk, mendatangi, dan menyampaikannya.”

Saudara saya itu bercerita, bahwa di hari-hari tertentu, ada khataman Alquran, dzikir, qiraah, ceramah, bahkan terkadang musik-musik qosidah yang diputar dari pengeras suara masjid, sepanjang hari, dari pagi sampi sore. Dan catat: semua itu diputar dengan suara yang sangat keras/lantang. Inilah alasan yang akhirnya membuat mereka mengalah, pindah rumah.

Bukan hanya cerita di atas, masih banyak kisah sejenis, seperti yang saya alami baru-baru ini, yang berhubungan dengan keberisikan. Suatu waktu, saya datang ke rumah famili untuk acara peringatan maulid Nabi.  Akan tetapi, karena benar-benar tidak tahan pada keberisikan sound system yang konon sudah dibunyikan keras-keras selama 3 hari sebelum hari-H, dengan sangat kecewa akhirnya saya menyingkir, tidak jadi ikut acara inti. Jangankan mau rehat istirahat, mau ngomong dengan teman duduk saja saya harus dengan teriak-teriak. Begitulah  kondisinya.

Hari ini, kasus serupa terjadi lagi. Saya mendengar kabar dari famili, di tempat yang jauh dari rumah, bahwa ada seorang tetangganya yang hampir stres gara-gara polusi suara. Dia sedang merawat neneknya yang sakit. Dia pun, bersama tokoh setempat, mendatangi pemilik musholla dan berharap agar sedikit mengecilkan volume suara loudspeaker-nya. Eh, si empunya TOA cuek saja. Dia pun mengalah, menahan berisik namun dengan tetap menyimpan amarah.

Nah, begitulah, ternyata, suara-suara yang baik itu seringkali menjadi blunder, malah menjadi sebab menjauhnya seseorang dari kebaikan yang hendak dibawanya. Alasannya hanyalah karena kebaikan itu disampaikan dengan cara yang kurang tepat. Setidaknya demikian yang saya rasakan dan juga disampaikan oleh beberapa orang yang pernah mengalami nasib dan pengalaman serupa dengan saya. Jadi, jika kasusnya seperti salah satu bagian kisah di atas, menyewa sound system ribuan watt dan digunakan sampai ke taraf mengganggu saraf dan telinga, mengganggu kehidmatan yang lain, untuk apa gunanya?

25 Juni 2009

Sound System




-->
Tadi pagi aku habis kondangan manten. Suasananya seperti bisa. Datang tepat waktu, dan acara sedikit molor. Biasa.

Setelah besan datang, pembawa acara langsung meddal. Salut, pembaca acara bermain cantik! Tak ada salah dalam pembacaan nama. Ini agak jarang terjadi. Soalnya, menurut sebagian orang, acara aqdun nikah merupakan acara yang berrit: biasanya, selalu ada kesalahan, baik itu soal jangkauan undangan (seperti tetangga dekat tetapi luput, hidangan yang mengecewakan, waktu terlalu molor, bahkan hingga teknis pelaksaan. Umumnya, dalam amatanku, pembawa acara (MC) selalu memalukan kesalahan saat menyebutu nama, meskipun nama-nama itu sudah akrab di lidahnya.

Yang ini, tidak. semuanya berlangsung aman dan lancar. Hanya ada satu hal. Ada kebiasaan buruk. Sound system, tata suara, yang kutaksir berkekuatan 5000 watt-an itu, diputar keras-keras, baik di waktu pra-acara, saat acara berlangusng, hingga pada acara makan-makan. Jadinya semua orang harus berteriak-teriak jika ingin berbicara dengan kawan duduknya sekalipun. Suasana tidak nyaman. Emang, sound system itu disewa buat apa, ya, jika seperti itu keadaannya…

Ini masih untung, di kesempatan lain, aku pernah mengalami hal serupa. Sound ditekan sampai ke tingkat desibel yang membahayakan gendang telinga. Dangdut, hadrah, koplo, gambus berbaur jadi satu. Tapi saat acara berlangsung, ternyata mike-mike-annya bermasalah. Nge-ground dan grusak-grusak tidak jelas bunyinya. Gedubrak! Acara akad nikah, acara inti itu, jadi tidak tersiar dengan baik.

Padahal, tuan tumah membayar mahal sewa sound system itu, intinya, hanya untuk menyiarkan acara akad nikah pada semua undangan…

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog