Tiba di TKP, pihak PLN bersama petugas yang lain, langsung melakukan interogasi:
"Sampeyan kan penduduk biasa, seharusnya listriknya pakai tipe R, Pak. Ndak boleh begini caranya."
Pak Emmus berkelit, "Saya ndak tau apa-apa, Pak. Waktu daftar dulu, ya, saya cuma setor KTP dan pihak bapak telah mencatatnya. Yang salah saya apa salah yang mencatat, Pak?" Pak Emmus balik bertanya.
"Lha, iya, maksudnya, di atas rekening, atas namanya kok MUSOLLA, tapi kenyataannya Sampeyan pakai untuk pribadi. Emang ada di mana musala-nya?" Petugas memutar-mutar matanya, menyelidik keadaan sekitar, tanda curiga.
"Ya, saya ini!" Pak Emmus menepuk-nepuk dadanya.
"Iya ngerti. Maksud kami, Sampeyan bangun musala itu di sebelah mana? Biar kami mengecek meterannya.."
"Lah, bapak ini. Nama saya Musolla, Pak!" jawab Pak Emmus muwantab yang seketika itu pula membuat nyali petugas PLN tersebut lemas bagai kehabisan tegangan, ngedrop tiada tara.
Mangkanya...
(Catatan: Kisah nyata ini saya dapatkan dari Kiai Umar Faruk (Soklancar); dari Kiai Zainuddin (Taro'an); dan beliau dari si pelaku cerita; shahih)
