Tampilkan postingan dengan label Jujur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jujur. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2010

Gairah Kejujuran

Beberapa waktu yang lalu, Pak Sulim bersama istrinya berkunjung ke rumah adik iparnya. Letak rumah si ipar ini tidak begitu jauh dari tempat tinggal Pak Sulim, tetapi bukan berarti dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Karenanya, di siang hari Rabu yang cerah itu, Pak Sulim sangat berbahagia karena bisa menaiki sepeda motornya yang baru dibelinya. Sepeda motor baru ini dibelinya dengan harga murah karena bodong-gelap alias superdurno (tidak ada STNKB dan BPKB).


Sepulang dari rumah si ipar, di suatu pertigaan, Pak Sulim kaget alang-kepalang karena tanpa diduganya, saat ia melintasi jalan itu, dari balik batang pohon asam yang besar, tiba-tiba muncul seorang petugas berseragam coklat, menghentikan perjalanannya. Pak Sulim tidak menyangka sama sekali karena ternyata petugas ini memarkir kendaraan berplat hitam-kuningnya itu di balik rerimbun pepohonan yang terhalang dari pandangan.


“Selamat siang, Pak!”

Pak Sulim gemetar. Ia tidak menjawab.

“Bisa lihat STNK-nya?” tanya si petugas, mendekat, meminta Pak Sulim mengeluarkan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor alias STNKB. Karena Pak Sulim masih ketakutan dan diam saja, istri Pak Sulimlah yang menjawab.

“Maaf, Pak. Motor kami ini baru dibeli, itupun dengan model cicilan. Kata si penjual, STNK-nya masih akan dibuatkan.”

“Mau dibuatkan?” petugas mengernyitkan kening.

Disangkanya si petugas mulai termakan permohonan ampun dan rengekannya, istri Pak Sulim justru semakin bergairah menjelaskan identitas sepeda motornya itu apa adanya.

“Ya, Pak. Soalnya, motor ini tidak ada STNK-nya..”

20 April 2010

Tidur 989 Kilometer


Kemarin, saya merasakan sensasi istirahat yang benar-benar nikmat setelah beberapa hari ini tubuhku terasa capai-capai karena keseringan lembur: tidur jam 5 pagi, bangun jam 10 lewat. Lalu, lanjut lagi: tidur jam 1.30 siang, bangun jam 4 sore; bayi gede deh.


Sensasi ini menautkan ingatanku pada suatu siang, beberapa tahun yang lalu. Saat itu, dulu ketika anggota keluarga besarku masih lengkap, saya mempunyai pengalaman tidur siang yang begitu inspiratif, impulsif, rekreatif, dan if-if yang lain.


Siang itu, saya nawaitu istirahat, berbaring untuk rehat. Sambil mencolokkan charger untuk ngecas ponsel 5110-ku, saya berandai, “Nanti, batere pasti sudah penuh ketika aku bangun,” demikian pikirku. Saya ingat, waktu itu jam 2 siang kurang seperempat ketika saya berbaring. Dalam pikiran, saya bayangkan nanti saya akan bangun jam 4 sore, atau jam 4.30 paling telat (berhubung saya sedang sangat capai). Badan saya telentangkan, mata coba berpejam. Benar, tak butuh waktu lama, pikiran sudah melayang, terjadilah tidur yang sebenar-benar.


* * *


Kaget bukan alang-kepalang ketika saya bangun dan mata menjurus ke arah jam meja, pukul 5:10. "Astaghfirullah, belum shalat ashar,” pikirku spontan. Dengan reaksi cepat dan sigap, saya mengambil air wudhu dan shalat ashar pun dilakukan.


Selesai shalat, dengan pandangan mata cerah dan wajah gemilang, saya membuka pintu, hendak keluar untuk menikmati pemandangan senja yang mulai temaram. Saya melihat seorang santri melenggang keluar biliknya. Di dadanya, saya duga ia sedang mendekap kitab shahih bukhari. “Loh, kok mau ngaji kitab menjelang Maghrib?” batinku sambil mengurungkan niat, sembunyi ke balik pintu. Dan setelah mengusap mata, betul, saya sadar. Ternyata, waktu itu jam 5 pagi, di hari Kamis pagi. Sedangkan cerita pada paragraf pertama yang kutulis di atas berkisah tentang tidurku pada hari Rabu siang.


Astaghfirullah..

Subhanallah..


Andai saya tidur selama itu di atas jok kendaraan yang dipacu rata-rata 80-100 kilometer per jam, insya Allah, jika saya berangkat dari Guluk-Guluk, saat bangun, mungkin saya sudah tiba di tol Cikampek dan siap masuk kota Jakarta.


12 Agustus 2009

Jujur Kukatakan: Aku Tak Suka "Jujur"



Pada suatu saat di tahun 2005...

“Mana ini, Mas?” tanya saya sambil kucek-kucek mata. “Pulo Gadung,” jawab lelaki berseragam warna terong itu melintas.
“Pool tidak jauh lagi, kan?” Saya mengajukan konfirmasi, tanpa perasaan maksud bertanya, dan dengan air muka orang yang seolah-olah berpengalaman di Jakarta.
“Nggak begitu jauh...”

 Segera saya telepon adik sepupu, memberikan perintah agar segera meluncur dari kost untuk menjemput di Lebak Bulus, pool Lorena-Karina. Tapi, karena kantuk mata mengalahkan segalanya, tertidurlah saya pun dengan asyiknya. Handphone di saku celana pun melorot tanpa terasa.

 Entah berapa lamanya kemudian, baru saya terjaga. Bus melaju dengan kecepatan, dalam perkiraanku, 80 KM per jam. Saya bangkit dari kursi dan maju ke depan sambil kulihat sisi kiri-kanan jalan. Ah, sepertinya, kok?

* * *

“Pool masih jauh?” Kali ini, saya bertanya dengan nada agak sumbang, dengan air muka mengandung keraguan.
“Hampir…” jawab salah satu dari awak bis itu dengan sekali toleh, dingin.
Saya duduk kembali, tak berani tidur. Cukuplah sisa perjalanan 22 jam dari rumah, dengan segala acara bonus macetnya, dinikmati saja.

Bis masuk keramaian. Tapi, perasaan ini kok memberontak bahwa saya sedang dalam arah yang salah? Ah, ini tampaknya bukan pemandangan yang pernah saya lihat beberapa tempo sebelumnya. Dan ternyata… ini Bogor. Ya, Karina mau masuk pool Bogor, karena tadi (mungkin) sudah masuk Lebak Bulus dan saya tertidur.

* * *

Meskipun saya datang dari Madura memang mau pergi ke Bogor, tapi karena acara masih esoknya dan saya harus ke Ciputat lebih dulu di hari itu, saya pun balik jalan. Dengan rasa capek yang membuncah, saya ikut bis—kalau tak salah—Agra Mas dari Baranangsiang dengan tujuan Lebak Bulus. Saat masuk bis, ternyata saya adalah penumpang satu-satunya, yang masuk pertama. Saya pikir, berapa lama lagi, ya, bis ini akan berangkat? Musik mengalun, “Jujur”. Itulah saat pertama kali saya mendengarkan lagu—yang belakangan diketahui dari—band Radja yang kebetulan berada di pamuncak kemasyhurannya. Capek dan kesal campur aduk.

Makanya, sampai sekarang, setiap kali mendengar lagu ini mengalun, memori saya langsung terbawa pada hal-hal yang mengandung capek dan kesal: ketiduran, Baranangsiang, Karina. Itulah mengapa pula harus dikatakan: “Jujur, aku tak suka “Jujur”!

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog