Tampilkan postingan dengan label kormeddal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kormeddal. Tampilkan semua postingan

02 Februari 2015

Model Komunikasi di Media Sosial

Foto ini adalah tangkap layar (printed screen atau screenshot) dari sebuah akun di Facebook, yakni Abuya Busro Karim. Beliau merupakan Bupati Sumenep. Di Facebook, Bapak Bupati membagikan tautan berita tentang penerbangan komersial dari Bandara Trunojoyo (Sumenep) yang kemudian ditanggapi oleh banyak komentator. Mari kita simak:

STATUS TAUTAN DARI PAK BUPATI: 
"Trigana Air : Penerbangan Perdana Komersial Pertengahan Agustus"

KOMENTAR WARGANYA: “Maaf pak kyai rencana audiensi dengan jennengan tidak bisa terlaksana hari ini karena saya habis sakit mata saya kuatir bapak ketularan karena mata saya masih merah…insyaallah hbs lebaran saya akan sowan ke jennengan….membangun visi pengembangan kebudayaan madura ke depan nya….”

Sepintas, status dan komentar di atas ini (sebagaimana dapat dilihat di dalam foto) biasa saja terjadi (di Facebook), namun jika ditelisik, maka ia akan tampak sebagai sebuah gejala komunikasi yang tidak sehat. Tidak masalah masyarakat menyampaikan aspirasi kepada Bupati lewat media apa pun, termasuk juga Facebook, sebagaimana mereka juga menyampaikannya lewat email atau pengaduan SMS, apakah hubungun status Bapak Bupati dengan tanggapan di bawahnya? Nggak nyambung. Soal kepantasan, apakah hal itu pantas disampaikan dengan cara seperti itu? Tidak mungkin itu terjadi di luar Facebook. Apakah komentar di atas sudah dianggap konfirmasi? Jelas tidak cukup.

Media sosial, termasuk Facebook, telah menghapus banyak kesenjangan antarkelas. Bicara soal kesetaraan dan komunikasi, kenyataan ini bagus. Akan tetapi, yang juga perlu diingat adalah bahwa cara seperti ini juga menyisakan masalah aturan main berkomunikasi, seperti hubungan guru-murid, kiai-santri, tua-muda, dan atau juga sebagaimana tampak di atas, warga dengan pemerintah. Komunikasi seperti ini kerap menjadi masalah. Komentar ‘asbun’ alias ‘asal bunyi’ kerap terjadi di media sosial, yang tragis (namun mungkin tanpa sepengetahuan orang lain) seperti komentar antipati dan sinisme, yang ditulis di toilet atau sambil tiduran untuk keputusan yang dipikir dan telah dimusyawarahkan berbulan-bulan.

Itulah, lalu lintas komunikasi di sosial media begitu kacaunya sehingga orang bisa seenaknya bicara dan menulis. Mengapa hal ini terjadi adalah karena anggapan dan sudut pandang orang yang menggunakannya, misal bahwa ia hanya main-main di Facebook atau Twitter; atau pula ia terpengaruh pada jarigan atau teman yang ada dilingkungan pertemanannya yang rata-rata mempunyai anggapan seperti itu. Apa beda dunia maya dan dunia nyata? Selama kita menganggapnya tidak ada perbedaan berarti di dalam komunikasi, maka tak perbedaan tidak itu. Pada saat berkomunikasi, kita tidak dekat dengan lawan bicara; secara jarak dan secara emosi: itu saja perbedaannya. Tata cara dan aturan berkomunikasinya—seharusnya—tetaplah berlaku sama.



14 Juni 2014

Berita Bernasib Malang (2)

Memang, hanya butuh beberapa menit saja untuk mengetik ulang berita ini, dan tentunya jauh lebih singkat daripada si wartawan saat dia membuatnya. Ini penting untuk diketahui bahwa saat ini kita semakin sulit menemukan orang yang bekerja serius di bidangnya. Wartawan adalah pemburu berita tetapi juga diburu tenggat (deadline). Akan tetapi, harus diingat, ia harus menjaga etika jurnalistiknya dan menjaga profesionalitasnya.

Saya tidak mengerti mengapa ada "berita bernasib malang" dengan penulisan seperti ini. Berikut saya transkrip dengan tanpa mengubah ejaan, apostrof, bahkan juga huruf kapitalnya. Saya tuliskan sepersis-persisnya (kecuali nama koran dan wartawan yang saya rahasiakan. Sumber gambar dari sebuah akun di Facebook):


“H.Imam Mahdi sebagai kepala desa pragaan laok kec. pragaan kab Sumenep memang pantas di juluki sebagai lurah jelma’an jokowi. karena tingkah lakunya dan kepribadiannya persis seperti gayanya jokowi (Gubernur DKI Jakarta yang lebih kondang capres dari PDIPerjuangan).

H.Imam Mahdi sukanya blusu’an dan sering turun ke kampung-kampung untuk mengajak masyarakat petani biar lebih semangat lagi untuk bekerja. Bisa dibayangkan kades ini sudah dua periode menjadi kepala desa tapi kenyataannya dan keada’an dia nasih biasa biasa saja malahan kendara’annya yang biasa di pakai sepeda motor lawas yang sudah tidak ada nilai nya lagi.

Wartawan *DIRAHASIAKAN* sempat menemui sekdesnya. Yang menjelaskan kalau pak lurah saya patut di ajungi jempol karna pribadinya apa adanya, seperti adanya proyek yang sekarang ini dikerjakan (PPIP-BKD) panjangnya melebihi ukuran RAB yang ada. kenapa sampai lebih?. 

Sang sekdes Menjawab “Karena semua proyek yang di garap sekarang ini agar bisa nyampek ke plosok perkampungan atau ke pemukiman masyarakat, sisanya jalan tanggung”ujar sekdes. Jadi H. Imam Mahdi memang tegas dalam mengawasi agar cepat di selesaikan sampai ke plosok kampung, hingga yang terjadi tak ada untung, yang ada malah rugi Alias tekkor “Tapi P. Lurah sangat puas, yang penting rakyatku makmur sentosa” tuturnya (*RAHASIA*)"

Bagaimana pendapat Anda?

23 April 2014

Hubungan SMS dengan Homofon

“Coba kamu SMS, tanyakan di mana lokasinya?”
“Lah, tadi kan sudah jelas dalam telepon, dekat tambal ban Torbang.”
“Coba SMS saja, biar pasti, sebelah mananya masjid Torbang, gitu?”
“Wah, sudah jelas, kok, Kak. Ditelepon lagi saja agar lebih jelas dan pasti, daripada SMS masih harus balas-balasan.”

Demikianlah sedikit ngotot-ngototan saya dengan istri.

Tak lama kamudian, ada telepon masuk. Tapi, sungguh saya kaget karena dikabarkan bahwa saya telah kebablasan. Tempat yang disepakati sebagai tempat saya bertemu dengan seseorang itu ternyata sudah lewat.

Telepon dari seberang:
“Tadi, kawan saya itu melambai-lambaikan tangannya saat Sampeyan lewat di dekatnya. Namun, Sampeyan bablas saja katanaya.”
Saya membalas:
“Torbang, to? Ini, Lenteng saja masih belum. Tentu saja saya tidak memperhatikan dia karena Torbang masih jauh, masih sekitar 8 kilometer lagi.”

Saya menepikan kendaraan, menelepon lagi orang itu, saudara jauh yang hendak mempertemukan saya dengan temannya di sebuah tempat yang lokasinya adalah “pertigaan, jalan kecil, dekat tambal ban”. Ah, terasa repot menentukan sebuah lokasi dengan ancer-ancer yang sangat mungkin berubah di zaman orang-orang sudah mengetahui alamat dengan kordinat.

Setelah 3 menitan menunggu, si temannya saudara itu pun datang. Rupanya, dia menyusul dengan sepeda motor. Saya bertanya, “Kok bisa tadi bilang Torbang padahal Torbang itu adalah nama desa di dekat Kota Sumenep?”
Dia tersenyum sambil menjelaskan, bahwa “Torbang” yang dimaksud adalah nama spot tempat dia menunggu.
“Dulu,” katanya sambil tersenyum, “Di sana ada sebuah kantor bank daerah. Orang-orang menyebutnya TOR BANK, kependekan dari ‘kantor bank’, begitu…”

Saya tertawa dan senang karena di dalam pikiran langsung muncul gagasan untuk membuat tulisan dengan tema soal homonim, ya, tulisan yang Anda baca ini. Dan sekarang, jika paragraf-paragraf di atas itu dijadikan sebuah narasi dalam ujian, akan muncul sebuah pertanyaan: ‘apa saja pelajaran yang dapat dipetik dari kasus di atas?’.

a) Kebiasaan memangkas kata (menggunakan sebagian sukukata), seperti juga terjadi pada STNKB menjadi STNK dan menjadi STN
b) homofon bisa membuat salah alamat
c) Terkadang, SMS (tulisan) lebih jelas daripada telepon (lisan)
d) Memperkenalkan nama (tempat) yang tidak populer kepada orang yang tidak yakin mengetahinya adalah payah

23 November 2012

Iman dan Tanda Tangan


“Tanda tangan dua kali lagi, Pak, di sini dan di sini!”
Petugas bank itu menunjuk bagian yang mestinya saya tanda tangani. Saya pun lalu melakukan perintahnya. Setelah selesai, petugas melihat tanda tangan tersebut dengan cermat. Dahinya berkerut. Alisnya bertaut.

Dia menatap saya sambil berkata, “Kok tanda tangan Bapak beda satu sama lain?”
Saya tersenyum dan menjawab enteng, “Iman seseorang saja berubah-ubah, Mas, apa lagi cuma tanda tangan.”

Petugas itu tersenyum. Mungkin karena sudah terbiasa nasabah dengan berbagai gaya dan watak, dia tenang saja menjawab.
“Ya, tidak bisa begitu, Pak. Kalau urusan tanda tangan di bank, harus sama, Pak! Mari, Bapak tanda tangan sekali lagi.”

* * *

Saya ingat akan perkataan itu, perkataan yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat hingga sekarang. Apa pasal? Saya merasa bersalah karena telah sembarangan berkata-kata. Dalam istilah anak muda di Madura, itu yang diebut “kormeddal”, yakni “asbun” atau asal bunyi. Ya, memang benar apa yang saya katakan, tapi tentu tidak tepat diucapkan di hadapan petugas bank itu, pada waktu itu.

Benar dalam ucapan belum tentu tepat saat disampaikan. Waktu dan situasi tetap harus menjadi bagian yang harus dipertimbangkan. Saya rasakan sekarang. Terlalu percaya diri, bagi orang lain, terkadang sungguh menyebalkan.

29 Agustus 2012

Menghitung Spion dan Lampu Ekor

Jumat pagi, 24 Agustus lalu, saya naik kendaraan dari Pamekasan ke Guluk-Guluk. Sambil lalu, saya menghitung jumlah sepeda motor yang mendahului/didahului oleh saya. Jumlah totalnya adalah 42 sepeda motor. Jarak penghitungan dimulai dari Accemmanis (Pamekasan) hingga Guluk-Guluk (Sumenep). Adapun total jumlah jarak yang ditempuh adalah 30 kilometer. Waktu lama perjalanan berkisar 45 menit.

Apa yang ingin saya catat dari sepeda motor itu? Saya menghitung berdasarkan kaca spion. Dari jumlah total 42 sepeda motor, hanya ada 17 sepeda motor yang menggunakan 2 spion standar; ada 9 sepeda motor tidak memakai spion sama sekali, dan 16 tersisa hanya menggunakan “spion-spionan”, yaitu spion kecil/kaca datar yang jelas-jelas tidak dapat memantulkan onjek bergerak/kendaraan yang ada di belakangnnya karena terhalang oleh lengan atau tangan si pengendara.

Hampir dua tahun yang lalu, di suatu malam, saya juga melakukan penghitungan serupa. Bedanya, kali itu saya menghitung jumlah sepeda motor yang tidak menggunakan lampu belakang (lampu ekor). Hasilnya, dari 24 sepeda motor yang didahului, ada 9 sepeda motor yang mati lampu belakangnya. Angka ini sangat menakjubkan mengingat jalan itu adalah jalan raya, bukan jalan pedesaan yang mana arus lalu lintas sangat padat dan kendaraan yang melintas pun begitu ramai.

Setiap kali menempuh rute ini, ada satu atau dua momen kaget. Momen kaget ini hampir pasti saya alami setiap lewat di jalur tersebut, baik berupa belok mendadak tanpa lampu sein, aksi melongok dengan mata kepala karena tidak ada spion standar, dan jenis kecerobohan yang lain. saya berharap agar operasi lalu lintas tidak hanya getol di siang hari, yang notabene hanya mengecek kelengkapan surat-surat kendaraan. Betul, mengecek kelengkapan surat-surat itu berhubungan dengan pajak. Namun juga mengecek kelengkapan lampu di malam hari, menurut saya, akan banyak membantu masyarakat menyelamatkan nyawa agar tidak hilang percuma di jalan raya.

Betul, soal mati kapan dan di mana itu urusan Tuhan. Namun sikap hati-hati adalah ikhtiar yang wajib dilakukan. Wajib hukumnya, bukan main-main.

bacaan terkait:

1. Lampu Kota

2. Spion

20 Desember 2011

Dilarang Parkir

Saat saya hampir mematikan mesin untuk parkir di depan warung rujak itu, si penjual, seorang ibu-ibu, memberi isyarat saya dengan lambaian tangan. Saya paham, isyarat itu merupakan tanda bagi saya agar tidak memarkir kendaraan di depan kedainya, meskipun tidak ada plang “P coret" di sekitar sana. Namun, sebelum dia bicara lebih lanjut, saya mendahuluinya,

“Bu, rujak, satu.” Saya mengacungkan jari telunjuk.
“Bungkus?”
“Tidak, makan di sini.”

Si ibu menghilang dari pandangan, mengaduk kacang dan tentu mengupas mentimun setelah itu. Dia menunaikan tugas untuk satu pesanan rujak, untuk saya. Larangan parkir tidak berlaku lagi.

10 Januari 2011

Pertanyaan yang Dipertanyakan

“Eh, kamu tahu isu terakhir kasus anggaran daerah Anu?”
Ento menggeleng, “Enggak. Emang kenapa? Mana HP-mu?”

Lelaki penanya bertampang klimis itu mengeluarkan ponsel Nokia E 66-nya dari kantung celana dengan tangan kiri dan memberikannya pada si Ento. Tangan kanan si empunya ponsel tetap sibuk di atas layar sentuh ponselnya yang lain.

Kira-kira semenit kemudian, setelah Ento mencari tahu informasi lewat internet, Ento menjelaskan begini-begininya pada si kawan duduk itu. Ia menjelaskan, lebih tepatnya membacakan ulang berita yang dia baca di sebuah situs, berikut penyebab begitu-begitunya sehingga anggaran daerah kabupaten Anu bermasalah.

Si pemilik HP malah terkaget dan bertanya, “Jadi, ponselku ini bisa dibuat internetan, ya?”
Ento kaget, lalu bertanya, “Lho, emang kamu beli dua ponsel mahal begini untuk apa? Untuk main potret-potretan saja?”

10 Oktober 2010

Disalip Sepeda Angin

Dalam sebuah perjalanan ke Situbondo, di ruas Jalan Probolinggo – Paiton, entah di mana tepatnya, kendaraanku terjepit di antara truk dan mobil-mobil lain. Tiba-tiba, Hasan, salah seorang penumpangku, berteriak, “Kak, Kak, lihat. Kamu disalip!”

Mendengar ucapannya, kontan aku melirik ke spion kanan. Tidak ada kendaraan apa pun yang ngeblong dari arah belakang.
“Mana?” tanyaku.
“Itu, lihat ke kiri!”

Betul. Setelah kulihat, ternyata yang nyalip adalah sepeda kayuh yang dipedal sangat cepat. Mereka adalah segerombolan orang, jika tak salah ada tiga orang, yang baru pulang dari sawah dengan sepeda angin. Rupanya, mereka sedang balapan. Ini adalah pengalamanku yang pertama kali; naik mobil disalip sepdan angin. Aku baru bisa mendahuluinya kembali setelah menyalipnya sekaligus menyalip truk di depan. Saat itu, kulihat speedometer menunjukkan angka 60 KM/jam.

27 Agustus 2010

Pertanyaan Berbahaya

Ada kisah sedih yang baru saja saya terima dari seseorang. Adalah seorang India yang tinggal dan bekerja di Malaysia yang tega membunuh anak kecil seusia tiga tahun, di sebuah taman mainan. Ia melakukan itu atas alasan yang sepele bagi umum, tapi mendasar bagi dirinya.

Begini kisahnya.

Sebutlah lelaki itu Akhan dan si korban bernama Oci (Dua nama ini rekaan saya). Akhan hidup bersama seorang istri. Sepuluh tahun pernikahnnya dengan sang istri belum juga mendapat karunia anak. Sementara tetangga sebelahnya (karena ia tinggal di sebuah pemukiman, anggaplah itu rumah susun) adalah sepasang suami-istri yang baru menikah dan telah memiliki seorang putra yang lucu, Oci.

Setiap hari, dari balik jendela, atau dari balik dinding kamarnya, Akhan melihat pasangan suami-istri tetangga sebelah itu bermain-main riang dengan putranya, si Oci. Manja sekali kedengarannya. Acap kali Akhan mendengar anak kecil itu cekikian, tertawa tergeli-geli. Di kala Akhan murung karena dituduh mandul, tetangga sebelah justru bahagia bersama putranya; suatu impian yang tidak didapatkan Akhan. Ironis, bukan?

Keadaan ini berlangsung selama berbulan-bulan. Rupanya, tanpa sepengetahuan siapa pun, hati Akhan makin sakit terasa teriris. Hingga pada suatu hari, ia membujuk Oci ke sebuah tempat mainan. Ajakan itu bukanlah untuk memanjakannya, melainkan, sungguh tragis, justru untuk menghabisi nyawanya.

Kisah ini, dari sudut pandang berbeda, mirip kisah Mark Chapman yang tergila-gila pada sang idola, John Lennon. Karena tak tahan atas bayang-bayang si John yang begitu mengusik hari-harinya, Chapman nekat. Ia menembak mati John. Akhan dan Chapman sama-sama mengalami gangguan kecemburuan atas sebuah impian yang tidak tergapai.

Pergolakan batin seseorang yang tidak segera (ulang: “segera”) memiliki keturunan semacam itu juga saya alami selama beberapa tahun. Itulah mengapa, ketika berhadapan dengan seseorang yang baru saya kenal, atau teman yang tidak saya ketahui kabar terakhirnya kecuali ketika dia masih bujangan, saya tidak pernah mengajukan pertanyaan seperti “sudah punya putra berapa?”, dan apalagi guyon menyakitkan seperti “masa sudah lima tahun kok masih belum punya anak?” dan sejenisnya. Karena bagi mereka yang belum (diulang: "belum") dianugerahi keturunan, ucapan macam itu lebih tampak sebagai tamparan dan caci maki daripada sebuah pertanyaan biasa.

Ya Allah, sesungguhnya, semua itu adalah rahasia-Mu. Tanpa kehendak-Mu pula, tak ada kekuatan semena-mena apa pun yang dapat membuatnya menjadi nyata.

27 Mei 2010

Warna Hijau dalam Bahasa Madura

-->
Salah satu tekanan yang merendahkan (inferior) terhadap orang Madura adalah pernyataan bahwa Bahasa Madura tidak mengenal kosa kata yang sepadan dengan “hijau”. Dalam bahasa ini, hijau ditulis/dilafalkan “bhiru”.

Meskipun dalam Bahasa Madura ada kosa kata ejuh (ijo), namun umumnya selalu digandengkan dengan kata yang lain dan membentuk frase, misalnya “nyior eju” (kelapa [berwarna] hijau), “kacang eju” (kacang ijo), dan sebagainya. Penggunaannya pun sangat terbatas serta tidak lazim jika digunakan secara mandiri (eju).
Ada alasan diajukan: “bhiru” (dibaca tebal dengan “h”) yang dalam Bahasa Madura berarti hijau tidaklah sama dengan “biru” (dalam Bahasa Indonesia). Secara kebetulan saja pengucapannya hampir sama tetapi maknanaya berbeda. Hal ini mirip dengan pengucapan arah mata angin “daya” yang dalam Bahasa Indonesia diartikan dengan “arah di antara dua mata angin”, seperti “barat daya” untuk menunjukkan “arah mata angin antara barat dan selatan”. Kosa kata “daya” ini menjadi berbeda pengertiannya saat digunakan sebagai ganti dari “daja/dhaja” yang artinya “utara” sehingga “barat daya” sering ditanggapi sebagai “arah mata angin antara barat dan utara”. Apakah tidak sebaiknya “arah mata angin antara barat dan utara” ini tetap ditulis dengan “barat daja” atau “bara’ dhaja” saja daripada “barat daya”? Entahlah, ini hanya pertanyaan pribadi yang barangkali sudah pernah didiskusikan di tempat lain, dan barangkali pula, pakar Bahasa Madura dapat menjelaskannya lebih baik.
Kembali ke masalah “bhiru”: dengan merujuk pada beberapa contoh, saya beranggapan sementara, “bhiru” dalam Bahasa Madura, baik ditulis bhiru, biru, atau bhiruh, memiliki makna ganda: hijau dan biru. Contoh “bhiru” (dengan arti hijau), antara lain, “bhiru daun” (hijau daun), “bhiru butol” (hijau seperti botol [kecap/Sprite]); “bhiru” (dengan arti biru), antara lain, “bhiru langnge’” (biru seperti warna langit), dan seterusnya.
Nah, ini contohnya. Di dalam STNKB kendaraan di bawah ini, “warna KB”-nya tertera “biru botol metalic”. Oh, ya, warna kendaraan di bawah ini hijau atau biru?

20 April 2010

Tidur 989 Kilometer


Kemarin, saya merasakan sensasi istirahat yang benar-benar nikmat setelah beberapa hari ini tubuhku terasa capai-capai karena keseringan lembur: tidur jam 5 pagi, bangun jam 10 lewat. Lalu, lanjut lagi: tidur jam 1.30 siang, bangun jam 4 sore; bayi gede deh.


Sensasi ini menautkan ingatanku pada suatu siang, beberapa tahun yang lalu. Saat itu, dulu ketika anggota keluarga besarku masih lengkap, saya mempunyai pengalaman tidur siang yang begitu inspiratif, impulsif, rekreatif, dan if-if yang lain.


Siang itu, saya nawaitu istirahat, berbaring untuk rehat. Sambil mencolokkan charger untuk ngecas ponsel 5110-ku, saya berandai, “Nanti, batere pasti sudah penuh ketika aku bangun,” demikian pikirku. Saya ingat, waktu itu jam 2 siang kurang seperempat ketika saya berbaring. Dalam pikiran, saya bayangkan nanti saya akan bangun jam 4 sore, atau jam 4.30 paling telat (berhubung saya sedang sangat capai). Badan saya telentangkan, mata coba berpejam. Benar, tak butuh waktu lama, pikiran sudah melayang, terjadilah tidur yang sebenar-benar.


* * *


Kaget bukan alang-kepalang ketika saya bangun dan mata menjurus ke arah jam meja, pukul 5:10. "Astaghfirullah, belum shalat ashar,” pikirku spontan. Dengan reaksi cepat dan sigap, saya mengambil air wudhu dan shalat ashar pun dilakukan.


Selesai shalat, dengan pandangan mata cerah dan wajah gemilang, saya membuka pintu, hendak keluar untuk menikmati pemandangan senja yang mulai temaram. Saya melihat seorang santri melenggang keluar biliknya. Di dadanya, saya duga ia sedang mendekap kitab shahih bukhari. “Loh, kok mau ngaji kitab menjelang Maghrib?” batinku sambil mengurungkan niat, sembunyi ke balik pintu. Dan setelah mengusap mata, betul, saya sadar. Ternyata, waktu itu jam 5 pagi, di hari Kamis pagi. Sedangkan cerita pada paragraf pertama yang kutulis di atas berkisah tentang tidurku pada hari Rabu siang.


Astaghfirullah..

Subhanallah..


Andai saya tidur selama itu di atas jok kendaraan yang dipacu rata-rata 80-100 kilometer per jam, insya Allah, jika saya berangkat dari Guluk-Guluk, saat bangun, mungkin saya sudah tiba di tol Cikampek dan siap masuk kota Jakarta.


30 Maret 2010

Arogan = Kormeddal

Tadi malam, habis Isya’…


Membuntuti dua pengendara sepeda motor: setelah melewati satu pengendara sepeda motor, kini giliran pengendara-berboncengan berikutnya. Namun, saat hendak kusalip, tanjakan di depan. Kuurungkan niat karena pandangan tidak bebas. “Setelah tanjakan, baru kudahului,” begitu pikirku.


Saat itu, persneling ada pada gigi terakhir. Laju Titos du Polo lumayan cepat. Dan setelah tanjakan, tiba di jalan datar, barulah aku mendahului pengendara sepeda motor dengan boncengan seorang ibu menggendong bayi dalam dekapannya. Sekilas kulihat begitu. Persis, ketika sedang menyalip, tiba-tiba, dari arah depan tampak bayangan: sebuah sepeda motor tanpa lampu. Betapa kaget diriku. Meneruskan menyalip tidak mungkin karena gugup. Kalau aku nekat, aku menjamin, dalam kecepatan segitu, pengendara motor tidak berlampu itu akan terpental beberapa meter dari jalan raya.


Kuinjak pedal rem, mantap dan dalam. Tiba-tiba, terjadilah keanehan itu: menjelang beberapa depa lagi sepeda motor dan kendaraanku nyaris adu-kambing, tiba-tba si pengendara motor—yang kutahu belakangan Suzuki Satria Merah 2 Tak—menyalakan lampu depananya. Maysa Allah. Ternyata sepeda motor ini ada lampunya. Kok ya belagu-belagu-nya mematikan lampu utama? Cari celaka! Dan hebatnya, saat kami berpapasan, si pengendara sepeda motor malah menarik gagang gasnya dalam-dalam, blayer sebanyak dua-tiga kali, menunjukkan sikap arogannya.


Tiba di rumah:

“Apa yang Anda pikirkan?” Kata Facebook.

“Selama 30-an menit, aku nyaris tetap tidak mempercayai kejadian yang telah aku alami itu. Betul, semkain banyak keanehan di sekelilingku.” Demikian, ingin kutuliskan hal itu, tapi tak jadi karena doa dalam hatiku berbunyi begini: “Semoga, orang-orang arogan seperti itu segera diberi kesadaran, atau penyadaran, oleh Allah Sang Pemilik Bumi dan Seisinya dan Juga Pemilik Jalan Raya dan Lalu Lintasnya, lewat apa pun bentuknya.


12 Februari 2010

Silogisme Penggemar Kopi

Dua tahun yang lewat, aku sakit, terjerembab dan tak bisa bangun selama hampir seminggu. Gara-garanya, di suatu pagi, sebelum berangkat ke kondangan, aku nyeruput kopi plus 3 buah biji klengkeng. Minum kopi di pagi hari itu penglaman biasa, tetapi kopi dengan klengkeng, ini baru luar daripada biasa.


Aku berani melakukan hal ini karena kupikir, sebentar aku juga makan nasi di pesta. Tapi, nyatanya, saat hendak pulang, aku sempoyongan dan betul-betul oleng, terjerangkang saat tiba di rumah, perpal seminggu lamanya.


Nah, seminggu yang lalu, kajadian serupa menimpaku lagi. Tapi ini bukan contoh bagi ungkapan “jatuh di lubang yang sama”. Aku tidak berasa tipes seperti dalam cerita di muka. Kali ini “hanya” kembung dan sakit. Tapi, ini kembung yang betul-betul menyiksa. Otot di sekitar perut terasa linu.


Ceritanya, pagi itu, saudaraku menyuguhkan buah Lei, buah yang aneh di mataku karena ia berwajah durian berwarna nangka. Buah ini, koarnya, merupakan buah hutan Kalimantan yang jarang. Intinya, ini buah istimewa. Kesimpulanku, aku adalah tamu istimewa karena mendapat suguhan istimewa pula.


Kuambil sebiji-dua, sekadar contoh atau perkenalan buat perutku. Dan sialnya, pagi itu minumannya secangkir kopi. Dan di pagi itu pula, aku telah lupa pada kisahku sebagaimana pada paragraf pertama. Walhasil, kembunglah perutku seminggu lamanya.


Lalu, pagi ini aku berkesimpulan, ternyata klengkeng dan buah lei itu berbahaya jika dimakan di waktu pagi, setidaknya menurut perutku.


sumber gambar: http://asamiadji.multiply.com/photos/album/29/buah_lei_lai

30 Januari 2010

Juragan Bis


Unsur apakah dari diriku sehingga dikira juragan bis? Aku cuma numpang nampang saja, kok. Ya, oQelah jika beg...beg...beg...itu.

05 Desember 2009

Terlalu Gesit

“Mat, tolong karburator ini diantar ke aku. Sekarang aku jumatan di Masjid Karduluk. Kamu cari Yono. Suruh dia yang berangkat. Cepetan, Mat. Pokoknya, habis Jumatan, aku tunggu. Makasih. Wassalamualaikum…”


Aku mengakhiri panggilan dan langsung menuju tempat wudhu’, siap shalat Jumat di Masjid Karduluk. Singkat cerita, beberapa menit sehabis Jumatan, aku telepon lagi Si Mamat.

“Sudah berangkat Yono-nya, kak.” Sergah suara di seberang, lebih dulu menjawab pertanyaanku yang telah diduganya.

“Oke, Makasih.”

“Iya. Saya kasih tahu dia agar langsung ke Masjid Karduluk, dan dia langsung berangkat, kira-jkira lima menit yang lalu.”


Dalam hitungan normal, jarak waktu tempuh dari rumahku ke Masjid Karduluk berkisar 20 menit, atau 15 menit jika agak ngebut. Tapi, sudah 40 menitan aku menunggu, si kurir tak kunjung datang juga. Perasaan was-was mulai membayang, “Jangan-jangan ban sepeda motornya pecah; jangan-jangan kehabisan bensin dan dia sedang tidak membawa uang; jangan-jangan…”

[Aku tahu secara haqqul yaqin, Si Yono ini jelas tidak membawa HP]


“Mana, Mat?” Teleponku lagi dengan suara memburu.

“Loh? Belum nyampe, apa?” Mamat justru menunjukkan intonasi keheranan.


Akhirnya, kuputuskan saja untuk kembali ke rumah, dengan harapan: semoga nanti bisa berpapasan di tengah jalan. Aku pun meninggalkan Masjid Karduluk dengan kecepatan 40 km / jam dan terus konsentrasi ke arah depan, memperhatikan semua sepeda motor yang datang dari arah berlawanan. Dan betul! Aku menjumpainya di depan Masjid Mustaqbil, Prenduan. Kucegat, dan langsung aku semprot:

“Ke mana saja kamu? Kok lama?”

“Saya sudaha sejak tadi di sini.”

“Lho, kok?”

“Saya cari-cari, tapi gak ketemu, bahkan saya sudah sampai ke kantor Telkom di Aeng Panas?”

“Loh???”


Sekarang, aku mulai paham. Ada yang tidak beres dengan ini semua.

“Memang masjid Karduluk itu sebelum kantor Telkom atau sesudah kantor Telkom?” tanyaku menguji kecapakan geogafi dan peta dasarnya. Tapi, Si Yono ini hanya diam tanpa ekspresi. Aku segera menjelaskan, “Masjid itu masih jauh ke arah timur kantor Telkom, masih dua kilometeran lagi, Yon.”

Aku diam, menarik napas, dan mengambil bungkusan plastik berisi karburator itu dari tangannya.

“Kamu tahu Masjid Karduluk, kan?”

“Tidak!” Jawabnya begitu cepat, begitu gesit.

30 Maret 2009

SARWAH TEMOR SOK-SOK

Setiap pergi sarwah, saya selalu dikawal oleh Pak Amir. Seperti biasanya, sepanjang perjalanan, dia selalu meddal dengan komentar-komentar segar yang kerap ada unsur “kor”-nya; tentang apa saja; dari soal pupuk sampai kopi, dari soal caleg sampai kedelai. Singkatnya, tidak ada tema yang terlepas dari komentarnya.


Nah, kebetulan, rute sarwah malam itu termasuk medan semi off road. Saya lewat di jalan setapak dengan jarak tempuh kira-kira (PP) 1300-an meter. Jalan ini jarang dilewati. Rumpuntya tinggi di atas mata kaki, bahkan hampir menutupi jalan. Meskipun medan begitu, seolah telah mengantongi sertifikat dari perkumpulan Off-Roader, saya tetap jalan bergegas (gancang). Saya berjalan terdoyong-doyong karena lampu senternya juga sangat tidak terang. Saya khawatir datang terlambat di TKP.


Entah di tikungan yang keberapa, saya terpeleset, dari nyaris jatuh dari tastabun ke kali (kurang lebih 2 meter dalamnya). Pak Amir pun meddal dari belakang: “Beh, ma’ munyer, Keh?! Pola eb-ban-a tepes?” (Beh, kok selip? Apa sudah gundul bannya?).


Saya tersenyum. Datar saja..


Hanya beberapa langkah kemudian, kembali saya nyaris terjatuh lagi karena jalan setapak itu memang betul-betul medan yang tidak akrab terhadap sandal jepit biasa. Maka, Pak Amir pun menambah komentarnya, “Loronga e attas, Keh! Mun se e bhaba ka’ essa sok-sok. Tengate, ta’ asareya adung-ghindung sampeyan kaula.. (jalannya itu di sini (di atas), Keh. Kalau yang di bawah itu kali namanya. Hati-hati, saya ogah mau gendong Sampeyan kalau ntar terjatuh ke kali).


Nah, malam ini, dua pekan berikutnya, saya juga bareng dia ke sarwah. Kali ini, saya bawa lampu senter berpemantul lebar, tapi sayang giliran mata saya yang sakit, kelelahan. Dan inilah saran penyajian dari Pak Amir: “Ja’ lako amaenan komputer, Keh. Tak asareya atontonton, kaula, ha..ha….” (jangan komputer saja dipelotot, saya ogah kalau harus nuntun sampeyan, ha..ha…)


24 Maret 2009

Berita Bernasib Malang

Beberapa waktu yang silam, saya membaca beberapa kali ke-kormeddal-an berita di sebuah koran. Sayang, saya baru sempat menulisnya sekarang. Saya tidak perlu menyebut nama koran dan kode/nama(-nama) wartawan tersebut. Anggapalah ini sebuah fragmen, sebuah cerita tutur yang dituliskan:

Sang wartawan menulis berita bertema lingkungan hidup. Dia menulis "green force", padahal maksudnya "green peace" (saya ngerti karena yang pertama itu julukan Persebaya, sedang yang terakhir LSM).

Di lain kesempatan, pada berita tentang terbaliknya sebuah kapal cepat di perairan Sepudi (?), dalam berita tertulis "speed board" untuk "speed boat" (tahu, kan? Yang pertama itu papan luncur beroda, sedangkan yang kedua itu terjemahan Inggrisnya kapal cepat).

Lagi-lagi, wartawan bernasib malang ini menulis berita ringan tentang kegemaran remaja zaman sekarang dalam hal memodifikasi sepeda motornya. Dia menulis "shock biker" pada saat tidak seharusnya dia bermain plesetan pada frase "shock breaker".

Semua ini, dalam sementara anggapan saya, disebabkan oleh dominasi budaya nguping. Akibatnya, nulis berita pun kormeddal alias waton alias kor-ngocol alias asmuni (asal muni) alias asbun (asal bunyi). Berita pun menentang hukum berita: peristiwa terjadi di lapangan, bukan di meja redaksi.

WASPADALAH!!
Hati-hati dengan mazhab kormeddal. Karena kormeddal seperti senjata: berbahaya hanya di tangan yang tidak berpengalaman!

21 Maret 2009

Diskusi dan Debat


DISKUSI adalah tukar pendapat, berbagi ide untuk menemukan kesimpulan. Jika santai, maka diskusi dapat berlangsung tanpa moderator. Jika diskuis ilmiah, biasanya diskusi dipandu oleh seorang moderator. Moderator berfungsi sebagai pengatur lalu lintas arah pembicaraan.

Sedangkan …

DEBAT: juga berarti tukar pendapat, tetapi cenderung lebih mengutamakan adu argumen yang logis, memiliki acuan. Sedangkan "KUSIR", disebut juga sais, adalah pengemudi/sopir dokar (roda dua) atau andong (roda empat). Di suatu kantor polisi resor, tahun 1997 dulu saat ambil SIM A pertama kali, saya lihat ada brosur SIM-D, SIM untuk sais. Sekarang kok gak ada saya tidak tahu.

DEBAT KUSIR adalah kumpulan dua kata (debat dan kusir) yang telah memiliki makna baru; disebut frase. Debat jenis ini biasanya cenderung mengedepankan argumen dan kurang mempedulikan simpulan. Ciri-cirinya: 1.mengabaikan moderator; 2.tensi tinggi; 3.kata-kata yang sering terlontar antar lain adalah "pokoknya", dst. Debat kusir bukanlah debat yang direncanakan. Ia muncul di tengah perjalanan. Sejenis 'ashi fis safar, maunya pergi ziarah/silaturrahmi, tapi karena ada bis yang diparkir sendirian lengkap dengan kunci kontaknya, dicurilah bis itu (Curanbis). Debat kusir umumnya muncul karena salah satu penyaji/pemateri tidak memperhatikan tata tertib, seperti berjidal dengan alasan yang tidak masuk akal, keluar konteks, disertai pemojokan, dan bahkan bisa sampai pada ancaman kekerasan (fisik).

Ciri lain dari debat kusir adalah: argumen-argumen yang dipertaruhkan dan diadu lebih banyak unsur kormeddal-nya daripada ilmiahnya! Cokop.

07 Maret 2009

Pekerjaan 'Menunggu'


‘Agama’, juga ‘pekerjaan’, merupakan dua hal yang selalu menjadi persyaratan kelengkapan pengisian sembarang formulir di negeri ini, sementara tidak di negeri itu dan tidak pula di negeri yang lain. oleh karenanya, WNI harus ‘beragama’ dan ‘harus bekerja’ agar punya KTP. Cek saja kalau tidak percaya. Untung saja, tidak ada peraturan khusus, misalnya, harus mencantumkan nomor ponsel di dalam KTP.

Saat mau isi formulir pembuatan KTP, Su’din yang tidak punya pekerjaan secara spesifik, ditanyai petugas:

“Pekerjaannya?”
“Apa, ya?” Su’din mengernyitkan kening, menautkan alis, memicingkan mata. “Enaknya diisi apa?” Malah-balik-bertanya si Su’din ini.
“Loh, kok malah enaknya. Sampeyan ini gimana? Pekerjaannya sampeyan itu apa?” Petugas menggunakan oktaf ketiga dengan nada dasar B.
“Ya, diisi saja yang enak, apa lah…” jawab Su’din sekenanya.
“Wah, harus jelas!”

Sejurus berpikir, Su’din pun kormeddal,
“Isi saja: ‘menunggu’!”

“Maksudnya apa? Pekerjaan kok ‘menunggu’? Kasih pekerjaan wiraswasta saja, ya!
“Enggak, ah, ‘menunggu’ saja, lebih jujur dan realistis!”
“Menunggu bagaimana maksudnya sampeyannya ini?” Lama-lama, petugas itu tampak mulai tidak sabar. Ia menggunakan teknik vokal falseto berkekuatan 120 desibel untuk pertanyaannya ini.

“Saya ndak punya kantor, saya mangkal di warung kopi yang dekat kantor, dekat samsat, pokoknya dekat dengan urusan “menunggu” lah… Saya menunggu orang minta dibantu, seperti nunggu orang minta diantar ke samsat; perpanjangan surat-surat kendaraan, mau beli tanah, ya, cem-macem lah pokoknya. Tapi, pada intinya, saya cuma menunggu, kok!”

Su’din menatap petugas itu sambil berkata, “Paham Sampeyan?”


[buat Mumunk Bandaran: saya menunggu inspirasi kormeddal-mu yg lain]

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog