30 Mei 2026

Beli Nasi Bawa Kotak Sendiri


Pulang dari membeli ayam geprek, satu dari dua anak saya menangis. Mestinya mereka senang karena mau makan, eh, malah galau. Dia masuk kamar dan sesenggukan.

Ibu bertanya, “Mengapa menangis?”
Si kakak yang menjawab, “Dia memangis karena penjual nasinya tadi bertanya begini: ‘Mengapa kamu bawa kotak? Mau buat bekal, ya?’, terus Acid diam dan baru nangis di sini.”

Kejadian ini tidak saya ketahui kecuali setelah menerima laporan dari istri.
Tadi, sebelum berangkat, saya memang kasih syarat (sebagaimana biasanya begitu), bahwa kalau mau membeli makanan haruslah bawa kotak sendiri. Komitmen untuk mengendalikan sampah-plastik-sekali-pakai memang saya tanamkan sejak dini, dan karena ia adalah komitmen, maka ia pun harus dipegang kuat-kuat. Saya punya banyak kotak, termasuk Tupperware warna-warni, namun untuk kali ini saya suruh pakai kotak plastik yang lain saja, yang agaknya terlalu besar untuk seukuran nasi ayam. Bisa jadi, ini awal ia jadi sumber pertanyaan si penjual.

Meskipun terasa berat dan sulit harus menjelaskan alasan pengendalian sampah plastik kepada anak sekecil itu (yang masih kelas 3 dan 4 sekolah dasar), sang ibu tetaplah menjelaskannya juga, mengapa mereka harus membawa kotak nasi sendiri dan mengapa sang penjual menanyakannya.
“Penjual nasi itu bertanya begitu kepada kalian adalah tanda kalian ini keren! Penjual nasi pasti tidak pernah bertemu orang seperti kalian, yang datang untuk membeli nasi tapi membawa wadah sendiri. Dia bertanya karena tidak pernah melihat orang yang begitu. Jadi, jangan nangis. Kalian sudah keren.”

Si kakak sudah pernah membaca sebagian esai dalam buku “Merusak Bumi dari Meja Makan”, makanya dia tidak banyak komentar. 

Sumber Foto dari SINI


09 April 2026

Tarif Becak

 

Beberapa kali saya ngerjain tukang becak. Saya naik becak tanpa tanya tarif. Setelah tiba di tempat tujuan, saya baru bertanya berapa bayarannya. Biasanya, tukang becak akan menjawab terserah Sampeyan. Saya tidak tahu, mengapa hampir semua tukang becak selalu menjawab demikian.


Kejadian terakhir yang saya alami adalah bulan lalu, 29 Maret, 2026.

Sanapa (berapa)”?
Caepon Empeyan!” (Terserah Sampeyan)

Lalu, saya julurkan selembar duaribuan! Tukang becak itu bengong, lalu tersenyum. Dia jelas kaget karena saya hanya ngasih uang Rp2.000 untuk jarak yang biasanya (setelah saya tanya lebih dulu pada orang setempat) berkisar Rp25.000.


Sanapa saongguna?” (jadi berapa, nih?) tanya saya lagi.

Tukang becak itu menjawab diplomtis: “Sebelum berangkat, saya biasa berdoa agar diberi rezeki yang halal.”

“Kalau saya kasih 2 ribu?”

“Terserah Sampeyan!”


Dia memang bilang terserah, tapi jelas air mukanya berubah. Kekagetan tidak dapat disembunyikan meskipun dia berusaha tersenyum. Akan tetapi, dia tahu kalau saya sedang main drama di hadapannya. Saya lalu berkata.

“Pak, kalau Sampeyan tidak benar-benar pasrah dikasih uang 2000 sama penumpang karena Sampeyan bilang terserah, ya, jangan bilang terserah! Nanti akadnya rusak karena saya ijab 2000 tapi ternyata Sampeyan tidak qabul karena keberatan!”

“He, he, he...”


Saya ambil uang kertas 50.000-an. Saya sodorkan. Tukang Becak tersenyum dan tampak mau ambil uang kembalian. Saya bilang, “Tidak perlu kembalian. Ambil saja itu semua.” Saya juga memberinya sebungkus rokok yang harganya sekitar 25.000 sembari berkata, “Anggap saja ini bonus kaget, Pak, gantinya permintaan maaf saya.”


* * *


Hari ini saya membaca berita yang mirip tapi berbeda. Seorang tukang becak narik Bupati. Bayaran normalnya untuk jarak tersebut adalah Rp15.000. Harga segitu adalah tarif normal untuk penumpang biasa. Konon, si tukang becak berharap ongkosnya lebih dari itu karena yang naik bukanlah orang biasa, karena seorang bupati, tapi kok bayarannya ternyata sama dengan penumpang biasa. Bagaimana akad seperti itu?


Saya tidak tahu persis rentenan kejadiannnya seperti apa. Akan tetapi, saya dapat memperkirakan dua kemungkinan: Pertama, tukang becak menyampaikan jabawan template ‘Terserah Sampeyan!’ ketika ditanya tarif. Kedua, memang staf yang membayarkan ongkos pak bupati tersebut aduhai kebangetan ngiritnya.

26 Februari 2026

Korupsi 2000 Rupiah

 

Tadi pagi saya bayar pajak kendaraan yang angka akhirnya 77.000, tapi petugasnya bilang, “Sekian, sekian, 80.000…”. Saya pun membayar dan mendapat kembalian 20.000. Saya pikir, tarif pajaknya naik 3000 dibanding tahun lalu. Akan tetapi, setelah saya pergi dan mengeceknya kembali, barulah saya sadar kalau angka terakhir pajak yang terbayar adalah 78.000 (naik 1000 rupiah ketimbang tahun lalu), jadi bukan 80.000.


Sebetulnya, saya mau komplain dan menagih kembalian Rp2000 itu (saya pernah melakukan hal seperti ini di retribusi pelabuhan dan tiket kapal feri). Sayangnya, saya sudah terlanjur pergi dari depan petugas yang secara aturan biasanya tidak diperbolehkan ada komplain lagi. Bagaimanapun, 2000 itu harus saya ikhlaskan, ikhlas tapi terpaksa.


Saya benar-benar prihatin! Bagaimana begitu tidak berharganya Rp2000 di hadapan mereka! Betapa mudahnya mengambil uang orang lain tanpa merasa bersalah hanya karena ia berjumlah 2000. Mengapa saya yakin pola ini sistematis? Karena tidak ada permaafan, tidak ada permakluman, semisal ‘Maaf, Pak, kembaliannya tidak ada, biar kami bulatkan saja, ya!’ atau kalimat yang lain yang mirip sehingga jelas ijab-qabulnya. Yang ini mah main ambil saja.


Ternyata, setelah tiba di rumah, saya malah dapat tambahan cerita kalau pola-pola seperti itu banyak terjadi di mana-mana, seperti saat menimbang beras, misalnya. Dalam proses menimbang beras, sering kali pembeli beras (yang punya toko) menyebut angka di depan komanya, sementara di belakang koma dianggap tidak penting. Kurir paket konon juga ada yang demikian. Mereka membuat pembulatan secara karepe dhewe tanpa dikonfirmasi dulu terhadap pembeli. Celakanya, yang seharusnya dirugikan malah tidak merasa dirugikan, kalau menuntut ujung-ujungnya malah dianggap pelit atau terlalu perhitungan.


Segitu buruknyakah hukum dan nasib kita di sini, sehingga yang benar terkadang harus relah seperti yang bersalah untuk sekadar meraih kebenarannya?


Ini bukan soal 2000, tapi soal komitmen, soal kejujuran. Sikap tidak jujur yang dimulai dari 2000 akan mudah merebak ke angka 200.000 dan seterusnya. Lebih tidak dapat dibayangkankan lagi jika uang-uang dari sumber tidak jelas itu harus diberikan kepada anak, cucu, kepada istri.

19 Februari 2026

Perempatan Mangli


Perempatan Mangli, sebuah perempatan yang terletak di sebelah barat kota Jember, adalah perempatan paling—konon kata si warga lokal—menakutkan. Perempatannya lebar secara visual dan kenyataan, tapi untuk terlepas dari kemacetannya seorang pengemudi mobil bisa harus nunggu 4-5 kali ganti lampu merah. Entah mengapa volume kendaraan banyak sekali di perempatan ini. Saya menduga karena akses arah ke selatan, ke Jenggawah, relatif sempit padahal merupakan jalan wajib bagi kendaraan besar yang dilarang masuk kota. 

Saya menyadari keadaan ini di bulan Februari tahun ini, 2026. Dulu, saya tidak menyadarinya. Bisa  jadi ia disebabkan karena saya memang tidak menyadarinya atau karena selalu kebetulan untung tidak berjumpa macet horot seperti beberapa hari lalu itu. Alasan lain mungkin karena saya bukan warga Jember sehingga terjebak macetnya hanya setahun sekali atau bahkan dua tahun sekali. Lagi pula, seingat saya, saya lewat perempatan Mangli tersebut biasanya di waktu bukan jam sibuk atau malah sebelum Subuh saat volume kendaraan masih sangat sedikit yang melintas.

Yang menyeramkan dari perempatan ini adalah karena jika kita datang dari arah dari utara, dari Gebang atau Dukuh Mencek, kita akan menghadapai rel kereta api yang melintang di dekat perempatan tersebut. Di situ, lampu APILL-nya sampai harus dipasang di dua tiang: di utara palang kereta dan di sebelah selatannya. Konon, pernah suatu kali ada mobil Carry yang terseret kereta api sampai ke stasiun terdekat, namun untung semua penumpang selamat.


Saya mendengar, ada wacana akan dibuat jembatan layang (flyover) di situ. Tujuannya adalah agar kemacetan jauh berkurang terutama di saat ada kereta api lewat, seperti pembangunan jembatan layang di Janti, Jogjakarta, yang kemacetannya terbukti jauh berkurang setelah adanya pembuatan jembatan layang. Masalahnya, Jember saat ini sedang bermasalah. Kata si kawan, antara bupati dan wakilnya sedang tidak baik-baik saja, padahal baru saja mereka dilantik tidak lama ini. Nah, bagaimana mungkin akan membangun sebuah kota, apalagi kabupaten, di saat pucuk pimpinannya sedang baik-baik saja? Bisa, sih, iya, tapi coba bayangkan bagaimana pendapat anak-anak yang mungkin tetap bisa tumbuh dewasa namun diasuh oleh ayah-ibu bertengkar setiap hari?



Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog