Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

09 April 2014

Bencana Kemanusiaan dalam Pemilu

Ungkapan “menerima serangan fajar”, “mana duitmu, ini suaraku”, atau “NPWP (nomor piro wani piro)” yang semua itu dimaksudkan sebagai guyonan atau lelucon satir menjelang pemilu begitu marak di jejaring sosial, bahkan ada pula yang dipasang di tempat umum. Bahwa suara dapat dibeli kini bukan lagi menjadi rahasia. Idealisme yang dulunya suci pun, kini, menjadi profan. Suara tak ubahnya sayur dan lauk-pauk di pasar tradisional yang bisa ditawar.

Ya, memang benar, semua ungkapan di atas (atau sejenisnya) hanyalah guyonan, sebuah kritik nan satir, hanya main-main. Itulah yang tersurat, namun yang tersirat tidaklah demikian. Redaksi frase/kalimat di atas yang mengandung unsur ‘tantangan namun main-main’ itu tampaknya bisa berubah menjadi sungguh-sungguh dalam situasi dan konteks yang juga berubah-ubah. Begitu seringnya teks itu muncul dan terbaca, sedikit banyak, tanpa disadari akan menciptakan persepsi dan pengaruh pada masyarakat yang melihat/membacanya. Apa bukti? Kini, masyarakat semakin permisif terhadap jual-beli suara, menyepelekan, dan bahkan tanpa merasa bersalah lagi jika menjual suara mereka untuk orang/wakil yang sebetulnya tidak mereka ketahui kapasitasnya, idealismenya, watak dan kepribadiannya, dan seterusnya.

Dibandingkan sekadar menerima uang untuk suara, sifat dan sikap permisif (dalam hal ini menganggap sogokan dan suap serta beli suara sebagai sesuai yang biasa) merupakan “salah di atas kesalahan”. Inilah musibah besar kemanusiaan. Harapan untuk untuk memperoleh wakil kita di parlemen selama 5 tahun ditukar dengan harga semangkok bakso atau setara dengan uang belanja dapur selama 1 hari. Sadis, bukan?

Berharap kepada seseorang yang akan menjadi wakil kita dalam menyampaikan ‘suara hati’ untuk kemakmuran dan keadilan itu haruslah ada, bahkan andaipun mereka akan berkhianat. Berharap agar mereka jujur atau bertobat setelah berdusta adalah obat pada saat tak punya harapan sama sekali adalah penyakitnya. Dan, pada saat kita memilihnya “hanya karena uang” dengan tanpa mempedulikan lagi siapa, visi-misi, serta kepribadiannya, maka itu artinya kita telah mengubur harapan ke dalam jurang putus asa yang dalam, jurang yang gelap dan tanpa penolong, kecuali kita sendiri yang sejak awal tak mau melakukannya.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog