
Saya mendapatkan cerita ini dari seseorang. Memang sih tidak persis seperti yang saya ceritakan ini, namun sekurang-kurangnya inti cerita adalah sebagai berikut:
Pada suatu malam, seorang kakek dibonceng cucunya dengan sepeda motor. Dengan kecepatan kira-kita 70 km / jam mereka berdua melaju. Karena perjalanan tersebut berlangsung di malam hari, lagi pula di jalan kecamatan, mereka berdua tidak menggunakan helem. Jamak diketahui, di desa, pengendara sepeda motor banyak yang tidak takut pada aspal jika mungkin mereka selip dan jatuh. Mereka menggunakan helem hanya karena takut terkena razia lalu ditilang.
Singkat cerita, perjalanan yang kurang dari 5 kilometer itu pun hanya ditempuh kurang dari 10 menit. Singkat. Setibanya di tempat tujuan, mereka pun turun dari sepeda motor lalu duduk. Ya, mereka berdua cuma duduk duduk, tidak melakukan kegiatan apa-apa.
“Kamu keburu mau kencing?” tanya si kakek.
Cucu menggeleng. Ia tetap duduk, melongo.
“Kok ngebutnya minta ampun? Saya kira kamu sedang kebelet pipis!”
Si kakek lalu merenungkan ulang kejadian barusan. Ia berkesimpulan sementara, bahwa ngebut dengan sepeda motor merupakan kebiasaan si cucu, dan mungkin juga kebiasaan teman-teman si cucu yang telah mempengaruhi kebiasaan cucunya itu. Mereka ngebut bukan karena mengejar sesuatu atau sedang terburu-buru. Ya, ngebut itu adalah kebiasaan mereka saja.