Hari-hari belakangan
ini, fenomena klakson “telolet” menyebar di media sosial. Banyak sekali tagar atau
‘hestek’ yang mengacu kepada klakson bernada itu, terutama tagar #omteloletom
(Om, telolet, Om!). Seperti biasa orang Indonesia, dalam menaggapinya, ada pula
yang menggunakan ilmu cocokologi, mengutak-atik muasal kata lalu disimpulkan: telolet
itu menyesatkan secara makna, terutama bagi kaum muslimin, karena ia merupakan simbol
keagamaan Hindu. Akan tetapi, telolet tetap telolet, mumbul dan menjadi
trending topic (topik yang paling banyak dibicarakan) sejagat. Dunia selebritis
pun dibuatnya gempar. Seleb-seleb mancanegara ikut-ikutan menulis “telolet”
atau “om, telolet, om” di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial
lainnya.
Fenomena ini, konon, bermula sejak ditemukannya segerombolan anak kecil di beberapa daerah di Jawa, seperti Jepara, Boyolali, Ponorogo, dan juga ruas jalan Pantura. Mereka biasanya berdiri di pinggir jalan, melambai, teriak, meminta sopir bus membunyikan klakson telolet itu. Sandi mereka adalah mengangkat tangan, menunjukkan jempol, hingga membawa spanduk bertuliskan “minta telolet” atau “om, telolet, om”, dlsb. Ada pula yang membawa kamera ponsel berkamera untuk merekamnya. Sopir-sopir bis sepertinya sudah paham kode itu sehingga apabila ada sekerumuman orang, terutama anak-anak di tepi jalan yang menunjukkan kode-kode seperti di atas, sontak mereka akan membunyikan klakson telolet-nya. Klik INI untuk mencoba!
Dengan
demikian, fungsi klakson sebagai alat atau bahasa bunyi yang digunakan untuk meminta
perhatian orang lain pun mulai bergeser. Klakson telah berubah fungsi sebagai
hiburan. Nah, dari video-video dan foto yang disebar lewat media sosial inilah yang kemudian membuat "om, telolet, om" menjadi pembicaraan banyak orang hingga mendunia.
* * *
Sebelum bicara
telolet, ada baiknya saya bahas dulu perihal klakson angin yang notabene
menjadi bagian terikat komponen truk dan bus dan karena telolet itu merupakan
keluarga besarnya.
Sejak dulu,
truk-truk besar, seperti Fuso, sudah dibekali klakson angin (air horn), sebagaimana
kapal laut dan kereta api. Klakson angin berbunyi karena membran yang ada di
dalamnya mendapat tekanan angin yang kuat. Untuk membuka katup, klakson angin zaman
dulu menggunakan lengan, manual, dengan cara menarik katup. Saat ini, pembuka
katup tersebut telah dipindahtugaskan kepada peranti elektrik. Sebab itulah,
klakson angin disebut juga klakson electro-pneumatic karena bunyi
trumpet dihasilkan dari membran yang mendapatkan tekanan udara dari kompresor
(untuk truk besar dan bus; atau tabung angin yang lebih dulu diisi dengan
kompresor eksternal untuk truk kecil [seperti Colt Diesel, Isuzu Elf, dll]),
namun katupnya dibuka oleh arus elektrik. Jelasnya, klakson angin atau air
horn seperti ini berbeda dengan klakson keong atau klakson elektrik biasa.

Di antara itu, masih ada jenis klakson angin yang lain, menggunakan kompresor mini yang terpadu dengan klaksonnya. Pengembangan jenis ini adalah musical horn (sekadar menyebut contoh, bukan iklan, seperti merek Suzanna [Italia]). Cara kerjanya: kompresor mini meniupkan angin. Panjang-pendek dan tinggi-rendahnya nada diatur oleh sebuah lempengan yang memiliki lubang-lubang udara (besar-kecil, panjang-pendek). Lempengan tersebut berputar seiring putaran dinamo yang menghasilkan udara sehingga suara yang dihasilkan mirip musik instrumentalia. Namanya kompresor kecil, maka jelas suaranya tidak selantang klakson telolet yang sedang kita bicarakan.
Nah, yang
terakhir, yang sekarang sedang ramai di tanah air, adalah klakson telolet. Klakson
ini disebut juga dengan “3 alternating notes” hingga “6 alternating notes”,
yaitu klakson yang memiliki 3-6 not atau nada yang bisa bergantian (yang
pertama saya tahu bermerek Marco). Jadi, sekarang Anda dapat membedakan klakson
ganda yang bunyi “bersamaan” seperti contoh di atas dengan klakson telolet ala Marco
ini. Kata kunci perbedaannya ada pada “bersamaan/serempak” dan atau “bergantian”.
Yang pertama hanya menggunakan relay, yang kedua dikendalikan oleh “modul”,
sebuah peranti elektronik yang tidak dipasang pada klakson yang disebutkan
sebelumnya.
Ini dia: Telolet!
Kata ‘telolet’
sendiri merupakan tiruan bunyi karena klakson tersebut memang terdengar
demikian bunyinya (awalnya memang ada 3 trumpet, belakangan berkembang lebih
dari 3 bahkan hingga 6 trumpet). Pada dasarnya, bunyi klakson telolet itu
adalah tangga nada (mayor), yakni:
•
te (1/do),
•
lo (3/mi)
•
let (5/sol).
Namun juga mungkin ditemukan klakson yang memiliki
susunan not seperti ini:
•
to (3/mi)
•
le (4/fa)
•
lot (5/sol)
Atau yang bersusun urut:
• to (1/do)
• le (2/re)
• lot (3/mi)
Dengan demikian, apabila ketiga
trumpet (pada susunan pertama) tersebut dibunyikan secara bersama (by pass),
maka yang akan terdengar adalah chord mayor, bisa C mayor atau E mayor
atau entahlah. Sejujurnya, Rhoma Irama sudah dari zaman dulu menyanyikan
“telolet”. Ingat, kan, lagunya yang berjudul “Do Mi Sol” kala beliau berduet
dengan Rita Sugiarto? Nah, itu dia. Jadi, sebetulnya, lagu tersebut bisa
dipahami menjadi “te, lo, let, mari menyanyi… te, lo, let, mari menyanyi”. Sementara
susunan nada yang kedua, bunyinya akan berebeda, namun tetapi memiliki “kesan
telolet” yang dalam istilah Eki Setiawan dari PO Efisiensi itu bukanlah “te-lo-let”,
melainkan “tolelot”. Singkatnya begitu.
contoh modul |
Pada
perkembangan selanjutnya, modul dimodifikasi sehingga dapat mengatur arus
secara bersilang, berurutan, bersamaan, cepat-lambat, selang-seling, dan
semacamnya. Begitu pula, trumpet yang semula hanya tersedia dalam 3 not, kini
sudah tersedia lebih dari itu (do, re, mi, fa, sol, dst.). Dan meskipun sudah
menggunakan lebih dari 3 trumpet, masyarakat terlanjur dan tetap menyebutnya
“telolet”. Singkat kata, mau dibikin menyanyi pun, klakson telolet itu bisa,
bergantung modulnya (Saya punya pengalaman menggunakan 3 trumpet namun melepas
modul elektriknya lalu menggantinya dengan 3 tombol terpisah sehingga klakson
dapat dibunyikan sesuka hati karena telah berubah menjadi manual).
Cikal Bakal Fenomena Telolet
Dalam sebuah
video dokumenter berdatum 2005, saya menemukan bus PO Sinabung Jaya (di
Sumatera Utara) yang sudah menggunakan klakson telolet ini. Namun begitu, tidak
banyak orang yang mempedulikan keberadaan jenis klakson bertangga nada
tersebut. Klakson telolet ini muncul dan mulai ramai digunakan sekitar 2-3
tahun belakangan. (pertama kali saya menemukannya dalam satu topik di malilinglist bismania community [BMC], sebuah komunitas penggemar bis di Indionesia,
kisaran tahun 2010 atau sebelumnya; lupa).
![]() |
Maskot Tolelot PO Efisiensi |
Dalam catatan saya, hanya Efisiensi-lah yang dalam SOP-nya mematenkan klakson telolet untuk semua (catat: semua) armadanya. Klakson telolet ini dipasang di atas kaca depan (bukan di balik bumper sebagaimana kebanyakan) dan dilindungi keranjang besi (mungkin demi pengamanan). Semua armada Efisiensi sudah menggunakan telolet ketika armada-armada lain baru satu-dua yang menggunakannya.
Aliran-Aliran dalam Telolet
Menurut saya,
telolet pun ada aliran dan isme-nya (Ini pendapat sementara saja; Anda dapat
menambahkan atau bahkan tidak menyetujuinya sama sekali). Tentu saja, maksud
pengelompokan ini bukan maksud untuk mencari-cari perbedaan, melainkan hanya
untuk membedakan jenis-jenis dan ragam serta penggunaannya. Beruntung, saat ini
kita akan diceraiberaikan oleh ideologi dan partai serta berbagai kepentingan, untung
ada telolet yang mempersatukan.
Adapun aliran
yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Aliran Telolet
Ortodok: paham ini menggunakan klakson telolet biasa dan digunakan sebagai
fungsi klakson sebagaimana fungsi dasar klakson pada umumnya. Sopir-sopir aliran
ini mungkin sesekali saja akan melayani permintaan anak-anak di tepi jalan
ketika diminta membunyikan telolet-nya. Modul yang digunakan pun modul standar,
yakni satu varian bunyi saja.
Aliran Telolet
Progresif: aliran ini adalah “ahlut telolet”, bervisi-misi telolet;
sebentar-sebentar telolet. Mereka biasanya tidak puas dengan hasil rakitan
pabrik. Modul akan diubah hingga ke beberapa jenis varian. Corong atau
trumpetnya pun juga tidak puas jika hanya menggunakan 3 saja. Golongan ini akan
menggunakan 3 corong trumpet namun dengan berbagai varian, atau bahkan hingga 6
trumpet dengan sekian banyak lagi varian bunyinya. Makanya, kita lihat golongan
ini akan sangat menghibur para pemburu telolet tapi boleh jadi juga akan sangat
menyiksa orang-orang yang tidak menyukainya. Nada-nada yang dibunyikan pun bukan
lagi sekadar “do-mi-sol” atau “mi-fa-sol”, tapi malah bisa menyanyikan lagu
sejenis “Abang Tukang Bakso” atau “Ondel-Ondel”.
Aliran Telolet
Radikal: nah, aliran ini agak rawan karena mereka sama sekali tidak akan
menggubris permintaan telolet. Sopir-sopir aliran ini hanya mau membunyikan
klakson untuk diperdengarkan ke telinga orang lain hanya agar mereka menyingkir.
Para sopirnya “sangat ingin diperhatikan” namun “susah untuk memperhatikan”.
Jangan harap mereka mengalah. Prinsip “dilarang membuang klakson ke sembarang
telinga” tidak laku untuk aliran ini. Maka, saya sedih dan khawatir, golongan mereka
ini bisa jadi akan menghancurkan visi-misi telolet kebangsaan yang sudah dibangun
bersama-sama sehingga ia menjadi tren yang mendunia.
Oh, ya. Yang kawe-kawe juga ada. Klakson telolet-nya tetap
berbunyi telolet, tapi sumbang nadanya. Artinya, kalau nada-nada itu dipaskan
ke garpu tala, tidak akan masuk, fals. Telinga orang yang tidak peka tetap akan
menerima sebagai telolet, dan tidak merasa kalau itu sumbang. Bagi yang biasa
dengar nada standar, pasti gatal membran telinga mendengarnya.
Sesungguhnya,
saya masih mendambakan yang lebih dari ini semua, yaitu suasana jalan raya yang
ramah, yang tidak berisik, di mana klakson dibunyikan karena memang harus
dibunyikan, bukan karena iseng apalagi karena amarah. Saya membayangkan masa
depan lalu lintas dan jalan rayanya—yang semakin kejam terhadap para pejalan
kaki karena sempadan jalannya semakin hari semakin dihabisi dan pohon-pohon di
kedua sisinya tak henti ditebangi—masih akan lebih baik lagi, lebih ramah dan
menghargai sesamanya.