Pada tahun 2001, adik saya membeli CPU MMX (lalu beli pelengkap: monitor GTC kotak dan cembung ukuran 14”). Harganya 2 juta lebih sedikit. Komputer ini menggunakan prosesor Intel Pentium 200 (kalau tak salah ingat; lebih tinggi sedikit daripada yang pernah saya miliki tahun sebelumnya) yang dibeli pada September 2000 dan hilang di awal tahun 2001 (dicuri seseorang di kamar kos).
IP 233 MMX |
Setelah saya punya modem luar D-Link pada kisaran tahun 2004, saya bisa merasakan kecepatan internet Telkom di angka 39-41 Kbps dengan 'telkomet@instan'. Sayangnya, bagi kami, tarifnya masih terlalu mahal, nyaris 10.000 per jam. Apa boleh buat, meskipun hanya berbekal CPU Intel Pentium MMX 233 (hasil pinjam milik sepupu yang tidak dipakai lagi karena sudah punya CPU yang lebih cepat; sedikit lebih tinggi derajatnya daripada yang disebut pertama), saya belajar ngeblog, edit html secara manual, membuat hyperlink ke situs penyimpanan data (spt.photobucket). Saya belajar mengubah perintah kode sambil terus mencoba-coba secara ngawur-ngawur sedikit. Caranya? Mana tampilan yang berubah, sesuai selera, baru disimpan sebagai templat. Meskipun cara ini sangat ‘bego’, saya nikmati saja. Orang menyebutnya trial and error.
![]() |
IBM Intellistation 450 Mhz |
Perkenalkan: CPU yang saya gunakan adalah IBM Intellistation 450 Mhz (refurbished; harga 700.000), menggunakan RAM 265 + 128 (total 384 Mb), VGA 32 Mb. Sudah lemah begitu, komputer masih saya bebani dengan shortcut dan banyak file yang berserakan di desktop. Gunanya adalah demi mencapai target secara cepat, mudah dilihat, mudah diakses. Beban lainnya adalah start-up Word, Outlook Express, peramban, dan pemutar musik. Kalau dinyalakan, butuh total waktu hampir 6 menit hingga komputer benar-benar siap dipakai dan semua aplikasi dalam keadaan normal. Sungguh, semua situasi itu sama sekali tidak membuat saya susah karena persis setelah saya mencet tombol 'on' komputer, biasanya saya tinggal pergi ke dapur untuk menjerang air, bikin kopi, dan balik lagi ke depan meja dalam durasi waktu yang kurang lebih sama dengan durasi di atas. Jadi, pas sudah. Apanya yang harus dibikin sedih?
Sesungguhnya, saya merasa asyik dengan keadaan CPU saya ini meskipun di masa itu CPU tersebut sudah sangat ketinggalan (CPU ini saya pakai sejak 2005 hingga 2012). Pasalnya, saya hanya menggunakan untuk olah kata-kata. Gambar dan desain sama sekali tidak, paling banter saya cuma pakai “paint”. Yang agak terasa berat hanya kalau saya membuka Adobe Audition. Lah, makanya, untuk apa saya pakai spesifikasi lebih tinggi lagi kalau hanya digunakan untuk Word saja?
Buat apa?
Lenovo Core Duo |
Nah, sekarang, di awal 2017, ketika kecepatan sudah melonjak ke 10 Mbps dengan IndiHome, didukung oleh CPU yang jauh lebih gesit, saya malah bingung. Kecepatan yang dari dulu diidam-idamkan itu ternyata malah jadi antiklimaks, seolah ia hanyalah halusinasi saja. Dulu itu, sembari streaming, saya bisa sambil lalu baca buku atau ngedit tulisan karena menunggu jaringan yang masih terasa rada lemot, namun kini hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Sekarang, begitu kita klik video, streaming langsung ngebut. Film yang durasinya 120 menit seakan-akan bisa ditonton hanya dalam 15 menit saja.
Dampaknya? Musuh cepat terbunuh, pahlawan cepat menang.