* * *
Saat Afifi dan Hamzah mau pulang dari kantor dan tiba di parkiran sepeda motor, mendadak terdengar jeritan seekor kucing, eyaaaww.... Afifi langsung meloncat mundur. “Ya Allah!” serunya, kontan, eh, spontan. Secara tak sengaja, salah satu kakinya menginjak kucing ketika ia melangkah mundur. Si meong tidak tidak kelihatan karena berada di belakang tumitnya.
“Waduh. Gawat.”
“Terus gimana?”
“Ini kayaknya
keseleo.”
“Kayaknya patah itu, bukan cuman
keseleo.”
Sejurus berpikir, Afifi lantas ngajak Hamzah
untuk membawa kucing tersebut dokter hewan. Berangkatlah mereka ke tempat yang
dimaksud.
“Kenapa?” kata pak dokter.
“Anu, Pak, kena injak.”
Dokter memeriksa. Setelah mengamat-amati,
menimang-nimang, mengusap-usap, dokter bilang. “Ia dislokasi tulang. Saya
tidak sanggup, harus dirujuk
ke Rumah Sakit Hewan.”
“Memang ada, Pak?”
“Ada, di Sekip sana, di FKH UGM.”
Air muka kedua orang tadi sontak berubah. ‘Kok
jadi berabe begini, ya?’ pikir salah seorang keduanya. Kucing liar yang secara tak sengaja kena injak
itu ternyata menyita banyak waktu mereka. Mestinya, mereka sudah sampai ke
kontrakan masing-masing, tapi ini malah ribet mengurusnya.
Keduanya mengadakan diskusi dadakan, “Quo Vadis
Kucing Ini”. Kucing liar
yang tak bertuan tersebut telah menyulitkan mereka. Dibiarin kok rasanya berdosa karena tak tanggung
jawab,
Diurus kok malah menghabiskan jatah waktu
untuk leyeh-leyeh mereka berdua. Kucing tadi telah membuat mereka harus nambah shift
untuk sesi tak terduga.
“Kucing ini harus operasi besar.” Pak dokter menatap wajah Afifi dan Hamzah
bergantian.
“Terus, biaya opname
kira-kira berapa?
“Sekitar 600-an ribu, belum termasuk biaya
operasi...”
“Pak,” Afifi memotong.”Tidak ada cara yang lain, Pak? Anu, Pak. Ini sebetulnya kucing liar...” dan dia pun menjelaskan kronologi kejadiannya dari
depan. “Jadi, kucing ini bukan kucing piaraan seperti kucing Angora itu.”
“Ada.”
“Apa itu?”
“Euthanasia!”
Afifi dan Hamzah saling padang. Air mukanya
keruh mendadak. Keduanya OTW pingsan.