10 Maret 2013

Tamu Tetap

Tersebut seorang bernama Tamam. Tidak setiap hari sih dia datang ke Lubangsa, menjadi 'tamu tetap' Kiai Warits, cuma sering. Tamam datang tanpa kepentingan apa-apa. Ia datang saja, hanya bertamu saja. Orang banyak menyebutnya silaturrahmi. Kadatangannya ini disebut 'cabis' atau 'sowan'. Yang aneh adalah, bahwa 'cabis' atau 'sowan' itu biasanya sesekali saja, tidak lantas setiap saat dan sering kali. Tamam datang bertubi-tubi.


Saya punya pengalaman yang nyaris sama. Saya juga punya 'Tamam', namun sedikit berbeda. Maksud saya, tamu tetap itu gonta-ganti, tapi jam kedatangan dan kepentingannya selalu sama. Mereka adalah tamu yang 'tidak punya kepentingan'. Adakah tamu yang tidak punya kepentingan? Ada! Ya, termasuk Tamam dan tamu saya itu salah satu contohnya.

Secara prinsip, pasti ada kepentingan di dalam benak setiap orang yang datang sebagai tamu. Masyarakat awam tidak akan menyebut hal itu sebagai kepentingan jika kedatangannya hanya silaturrahmi, meminum kopi, ngomong tanpa topik khusus, misalnya. Adapun kepentingan tamu-tamu tanpa kepentingan ini adalah datang sebagai tamu tanpa kepentingan bisnis, politik, atau lobi-lobi lain. Kepentingannya adalah silaturrahmi. Sedangkan silaturrahmi dipahami orang dengan 'bertandang tanpa kepentingan'.

Omamak-lah, saudara sepupu, yang lantas menyebut tamu-tamu tetap saya itu dengan panggilan 'Tamam' juga (meskipun dia, misalnya, bernama Agus). Bedanya, mereka biasanya datang malam-malam, kisaran jam 9 malam sampe tengah malam, kadang pula setelah 12 malam ke belakang. Beberapa kali saya pernah kedatangan tamu jam 2 malam. Mereka hanya duduk-duduk dan minum kopi.

Sepintas, kedatangan tamu yang model begini sangatlah mengganggu privasi, berhubung saya bukan dukun yang buka praktek tengah malam, bukan pula petugas UGD. 'Kepentingan' mereka pun rata-rata tidak mendesak. Jika saya merasa ingin istirahat, tentu saya bilang apa adanya. Namun,  bagi tamu yang datang dari jauh dan hanya punya kesempatan tengah malam untuk bertemu, jam istirahat tuan rumah-lah, menurut saya, yang harus mengalah. Didatangi orang bertamu itu sebuah kehormatan bagi kita, bahkan andaipun tamu tersebut hendak menipu, umpamanya.

Nah, sekarang soal jam bertamu. Di desa dan kota, ada perbedaan penting perihal jam bertamu. Di kota, saya perhatikan, jam bertamu banyak berlangsung bakda Mahgrib. Hal ini mungkin karena sepanjang hari orang-orang ada di kantor dan tak bisa ke mana-mana. Di desa, masyarakat masih menganggap sakral waktu antara Maghrib ke Isya' sebagai waktu istijabah, peak time untuk ibadah. Jadi, bertamu bakda Maghrib terasa agak aneh karena tuan rumah biasanya ada di langgar/surau. Ini menandakan bahwa suatu tempat menerapkan kebiasaannya sendiri, termasuk dalam hal/jam bertamu.

Secara pribadi, sesekali saya juga menerima tamu pada jam-jam sibuk dimaksud, yakni bakda Maghrib. Bagi saya, itu tak masalah, toh tamu semacam itu tidak datang setiap hari, tidak seperti orang ngapel. Cuma yang begitu itu jarang sekali terjadi.

Saya pernah mendengar cerita tentang kekakuan aturan bertamu di sebuah komunitas masyarakat tertentu, di Eropa. Sebelum bertamu, di sana, konon hendaknya kita mengatur janji kencan lebih dulu. Sebut saja misal, kita akan bertamu ke rumah seorang rekan pada pukul 20.00 malam. Nah, andai kita datang 15 menit lebih cepat (pukul 19.45), ada jenis tuan rumah yang tidak mau mempersilakan kita masuk walaupun dia tahu kita sudah ada di depan pintu, hanya karena belum tiba waktunya. Ini soal kedisiplinan yang super dan kaku, meskipun saya tidak dapat memastikan benar-tidaknya cerita itu.

Leluhur meninggalkan ajaran bahwa tamu harus epangghi'i (diterima dan diperlakukan sebagai tamu). Namun, untuk 'tamu tetap' jenis di atas itu, saya bergantung pada mood. Kalau saya sedang ngantuk, misalnya, saya bilang apa adanya, tidak perlu ewuh-pakewuh sebagaimana mereka juga tidak ewuh-pakewuh dalam memilih jam bertamu. Tengah malam tentu bukan hal yang cocok dijadikan jam tamu (tapi oke saja selagi tuan rumah bersedia) karena ini rumah rakyat biasa, bukan kafe atau night club.

Saya menulis catatan ini karena kini tamu-tamu saya itu pada menikah. Satu pergi datang bujang Tamam yang lain. Yang menikah sudah sibuk dengan anak-istrinya. Yang Tamam masih sering bertandang. Bahkan, ada yang sudah tidak pernah bertamu tengah malam lagi sejak bertahun lalu.

Saya kadang kangen pada mereka. Kapan, ya, mereka datang lagi ke tempat saya pada saat tengah malam sehingga saya merasa terganggu? 'Merasa diganggu' pun menjadi semacam sensasi yang menyenangkan karena sejatinya yang disebut 'mengganggu' itu berhubungan dengan 'keseringan'. Kalau jarang-jarang maka itu disebut rindu namanya; rindu Tamam.

"Seberapa banyak Tamam dalam hidupmu, begitu pula kira-kira kautakar kebahagiaanmu."

6 komentar:

Edi Winarno mengatakan...

KAPAN ya saya bisa bertamu sebagai Tamam ke Guluk-guluk?

Titos du Polo mengatakan...

mari,kapan anda punya waktu lowong.

M. Faizi

tamam mengatakan...

:
meski nama saya adalah "Tamam", tetapi ia asli tanpa kutipan, hehehehe

Anehnya, orang sering salah sebut. Misal: Badrun Tanam, atau Bedrut taman.. kali ini, rupa-rupanya ia menjadi istilah lain dari para pengembara Gus. Sungguh, ini info terbaru :D

Setidak-tidaknya, walo tulisan soal Tamam ini bersifat umum, tetapi muncul perasaan yang kuat, suatu saat.. sepertinya Tamam tanpa kutipan ini bermimpi sampai ke kediaman si pengutip. Semoga saja sebagaimana catatan pengutip, tamu yang tanpa kepentingan selain demi pertautan dan silaturahmi, hehehee..

M. Faizi mengatakan...

@Tamam: mungkin Anda perlu janjian dengan Cak Edi agar bisa berkenalan sebagai Tamam tanpa kutipan dan Tamam dengan kutipan di tempat saya. Saya sudah pernah kopdar dengan beliau beberapa hari yang lalu di depan kebun binatang sirabaya setelah selama bertahun lama hanya kenal di dunia maya...

Edi Winarno mengatakan...

Wah, usulan bagus itu. Bukankah ada istilah banyak Tamam banyak rezeki. Atau yang lebih heroik; musuh satu terlalu banyak, Tamam seribu masih terlalu sedikit. :)

Ahmad Sahidah mengatakan...

Menakar kebahagiaan? Coretan ini telah membantu saya untuk menimbang. Alamak, takarannya bocor. Ha..ha..

Ringan, tapi tajam seperti biasa. Namun, kejutannya tak semua orang bisa.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (23) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog