Dicarikan alasan apa pun, nyontek itu tetaplah bentuk kejahatan. Memang betul, ada tulisan yang sama tapi tidak persis dan itu terjadi kebetulan, tapi tentu hanya untuk satu-dua kalimat saja toleransinya. Kalau “sama persis”-nya hingga beberapa paragraf dan atau bahkan satu bab, ya, susah menyembunyikan kedok sontekannya.

Nyontek itu ada dua: main kasar dan main alus. Yang kasar biasanya cepat ketahuan (dilakukan karena terburu-buru kejar target atau setoran atau karena orderan). Yang alus biasanya aman, atau ketahuan tapi setelah waktu yang lama, atau hanya tertuduh namun tidak sampai ke tingkat perdata karena bukti tidak cukup kuat.

Sontekan yang sering bermasalah itu kalau hanya modal salin-tempel secara lugu. Salah satu teknik nyontek adalah dengan membuat parafrasa baru. Caranya, teks dipahami dulu, diolah lagi, kasih bumbu-bumbu sedikit, lalu tuang ke dalam loyang ketikan, jadilah. Cara lainnya adalah dengan; ambil semua tulisan secara utuh lalu ubah kata per kata, frasa per frasa. Setelah itu, gantilah dengan yang lain, yang mirip atau sepadan sesuai dengan tema dan gagasan.

Berikut ini ada tiga paragraf yang saya lampirkan. Secara susunan, satu sama lainnya sama, hanya ada perubahan pada kata per kata, frasa per frasa. Selamat mencoba, tapi jangan coba-coba!


USTAD SUHO

Setelah selama setahun lebih sebulan belajar secara otodidak lewat medsos dan kitab-kitab terjemahan, sekarang Suho sudah mulai tampil di balik mimbar, menyampaikan fatwa ini dan itu. Karena beruntung bisa masuk televisi, dakwahnya semakin hari semakin tersebar luas. Atas prestasinya ini, Suho mendapatkan gelar baru: Ustad Suho.

Muis, begitu juga banyak orang lainnya, mengagumi keberhasilan Suho hanya dengan satu kriteria: Suho punya banyak pengikut di media sosial meskipun itu bukan orang sungguhan alias akun-akunan. Kata Muis, ini adalah satu pertanda bahwa Suho memang pintar. Buktinya, ia mampu belajar agama dengan cepat dan kini sudah punya banyak penggemar/langganan. Bukankah kenyataan ini sudah cukup menjadi bukti bahwa semua yang disampaikan Suho itu benar adanya?

Di tempat lain, keberadaan Suho telah membuat galau Hamdi yang selama 10 tahun mengaji tafsir dan balaghah Alquran saja masih belum mampu menyesat-nyesatkan temannya yang tidak sepaham dengannya. Hamdi juga sudah belajar ushul, qiyas/analogi, balaghah, tafsir, dll, tapi tidak terkenal juga, tidak punya jamaah, sedangkan yang baru 1-2 tahun sudah ngetop minta ampun. Apa nggak bikin baper yang begituan itu?

DRIVER SUHO

Setelah selama setahun lebih sebulan belajar secara otodidak di lapangan dan video tutorial, sekarang Suho sudah berani duduk di belakang kemudi, menjalankan mobil ke sana ke mari. Karena beruntung bisa beli mobil sekaligus ‘beli’ SIM, daya jelajahnya semakin hari semakin jauh saja. Atas kemampuannya ini, Suho mendapatkan gelar baru: Driver Suho.

Muis, begitu juga banyak orang lainnya, mengagumi keberhasilan Suho hanya dengan satu kriteria: Suho punya banyak pengikut di media sosial meskipun itu bukan orang sungguhan alias akun-akunan. Kata Muis, ini adalah satu pertanda bahwa Suho memang cekatan. Buktinya, ia mampu belajar mengemudi dengan cepat dan kini sudah punya banyak penggemar/penyewa. Bukankah kenyataan ini sudah cukup menjadi bukti bahwa semua yang dimiliki Suho itu ngetop adanya?

Di tempat lain, keberadaan Suho telah membuat galau Hamdi yang selama 10 tahun jadi sopir trayek masih belum mampu membuat penumpangnya histeris karena tidak berani nyalip di tikungan, tidak berani belok mendadak atau pindah jalur tanpa sein. Hamdi juga sudah belajar kerja-kinerja mesin, rambu-rambu, etiket, dan teknik mengemudi aman tapi kok tidak terkenal juga, tidak punya penggemar, sedangkan yang baru 1-2 tahun sudah ngetop minta ampun. Apa nggak bikin baper yang begituan itu?

PENYAIR SUHO

Setelah selama setahun lebih sebulan belajar secara otodidak lewat medsos dan buku-buku fotokopian, sekarang Suho sudah berani menerbitkan buku puisi, mengisi seminar ini dan itu. Karena beruntung bisa masuk koran, popularitasnya semakin hari semakin naik dan dikenal oleh orang ramai. Atas prestasinya ini, Suho mendapatkan gelar baru: Penyair Suho.

Muis, begitu juga banyak orang lainnya, mengagumi keberhasilan Suho hanya dengan satu kriteria: Suho punya banyak pengikut di media sosial meskipun itu bukan orang sungguhan alias akun-akunan. Kata Muis, ini adalah satu pertanda bahwa Suho memang cerdas. Buktinya, ia mampu belajar puisi dengan cepat dan kini sudah punya banyak penggemar/langganan. Bukankah kenyataan ini sudah cukup menjadi bukti bahwa semua yang disampaikan Suho itu keren adanya?

Di tempat lain, keberadaan Suho telah membuat galau Hamdi yang selama 10 tahun belajar tata bahasa dan gaya bahasa, masih belum mampu menjelek-jelekkan karya temannya yang tidak dimuat-muat oleh koran dan majalah. Hamdi juga sudah belajar logika, sejarah sastra, teori interpretasi, dll, tapi dia tidak terkenal juga, tidak punya penggemar, sedangkan yang baru 1-2 menulis tahun sudah ngetop minta ampun. Apa nggak bikin baper yang begituan itu?

Catatan: ini hanya contoh dasar. Anda bisa mengembangkan teknik lain, mengubah ini dan itu, mengembangkan kalimat, dan seterusnya.



Labels: ,




Minta Nama

Minggu, Juli 03, 2016


Pada suatu pagi hari Jumat di pertengahan tahun 2015, datang dua orang pemuda. Saya agak heran karena dia tidak pernah saya lihat bertandang ke mari sebelumya. Lagi pula, ia datang pagi sekali. Sepintas, keduanya tampak sebagai mahasiswa semester awal.

Setelah menyuguhkan minuman dan berbasi-basi “dari mana”, saya tunggu ia menyampaikan maksud dan tujuan, tak disampaikannya pula hingga saya suguhkan penganan. Rupanya, tamu ini tipe tamu ‘lawas’: pantang menyampaikan maksud dan tujuan sebelum tuan rumah yang menanyakan. Karena saya tahu ada aturan-tidak-terlulis semacam itu dalam tradisi kami di Madura, maka saya pun yang mulai bertanya.

“Maaf, ada tujuan apa?”
“Saya minta nama.”

Saya menautkan alis, memperhatikan lagi kedua tamu ini lebih cermat. “Masa iya usia segini sudah punya anak? Tampangnya juga kayak mahasiswa imut semester awal…” Begtulah saya bertanya kepada diri sendiri, membatin.

“Maaf, jangan tersinggung, ya!” pinta saya berhati-hati, “Apakah Anda sudah menikah?”
“Belum.”
“Loh, kok mau minta nama? Memang nama buat siapa?”

Sepi sesaat. Teman yang satu menggoyangkan sikunya ke paha teman satunya. Saya menangkap itu sebagai isyarat ‘siapa yang mesti jadi juru bicara’.

“Mmm… nama buat BAND kami!”

Astaga! Saya nyaris terjengkang dibuatnya.



Labels:




Ketika Ucap-Tulis Menjadi Doa

Jumat, Mei 06, 2016


"Alaaah, impas kok kalau dihitung dengan kerjanya," dalih Samaon ketika dirisak perihal laba padinya yang baru panen.
Banyak orang yang bilang impas dengar arti untung; bilang lumayan padahal laba banyak. Kalau rugi sedikit saja, mengeluhnya panjang sekali. "Hati-hati kalau ngomong," pesan nenek saya, dulu, mewanti-wanti agar tak sembarangan. "Salah-salah, omongan biasa jadi doa."
* * *
"Aku ingin jalan-jalan terus yang sekiranya tidak perlu mengeluarkan ongkos. Pasti seneng, ya, jalan-jalan tanpa modal seperti itu," kata Sinu pada kawannya yang menanyakan keinginan terbesarnya. TERKABUL: Sinu jadi kondektur.
 
"Saya mau pamit cari kerja ke Malaysia, Kiai," tutur Hamdan pada Kiai Abdullah saat ia pamit pergi merantau. Setahun kemudian, Hamdan pulang kena tangkap polis. TERKABUL: ia dapat kerjaan jadi tukang bangunan tapi cukongnya nakal. Dia kerja melulu tapi tak dibayar.
 
Samsul sudah naik haji, tepatnya dihajikan pemerintah, dulu ketika ia menjabat orang penting. Kali ini, ia akan pergi haji dengan biaya sendiri bersama istrinya karena dulu ia pergi hanya seorang diri. "Panjenengan mau haji lagi, Pak?" tanya koleganya. "Ah, Ndak, cuma mau ngantar istri saja.". TERKABUL: Samsul pergi ke Makkah bersama istrinya di musim haji tapi tidak bisa menunaikan rukun-rukun haji karena pas bertepatan di kala itu ia sakit keras, padahal seger waras ketika datang dan ketika akan pulang.
 
Mamat pamit merantau kepada iparnya, Sundari, agar istrinya yang kebetulan adik kandung si Sun ini dijaga. "Aku mau cari kerja di negeri jiran, ingin bangun rumah sendiri agar tak numpang lagi kepada ayahmu," katanya.
Enam bulan, Mamat dipulangkan, kena tangkap polis. Ia tak membawa duit. TERKABUL: Mamat langsung dapat kerjaan jadi tukang bangunan tapi tuannya curang; Mamat hanya dikasih kerjaan, tapi tidak dibayar.
 
 






Manajemen Popok

Rabu, April 06, 2016


Popok itu, saking remehnya, sampai tidak pernah diperhatikan dalam keseharian kita. Gonjang-ganjing politik, kesemrawutan lalu lintas, penipuan, buruknya pelayanan publik, lebih menarik menjadi tema gosip dan keluhan. Sisanya, kita sibuk mencari uang, uang, uang; kerja, kerja, kerja. Saya yakin, semua keluarga yang punya anak pasti punya urusan dengan yang remeh-temeh ini: popok. Ketika seseorang memberi tahu saya bahwa ia menghabiskan uang 5 juta rupiah hanya untuk buat beli popok anaknya hingga berusia 2 tahun, saya berkesimpulan bahwa kita harus bikin manajemen popok. Dalam taksiran saya, ya, memang segitu kira-kira habisnya, yakni 5 jutaan. Ruwet juga ngurus popok ini ternyata.

Membuang popok ke keranjang di depan atau di belakang rumah, apalagi di selokan, nyatanya bukanlah sebenar-benar bentuk tanggung jawab, itu hanya pekerjaan memindah; dari kamar mandi ke tempat sampah. Pernahkah Anda berpikir, bagaimana nasib popok anak Anda itu pada akhirnya? Diurai tanah (setelah puluhan tahun kemudian), dibakar petugas, terikut banjir ke sawah ladang orang? Bagaimana?

Saat saya masih kecil, saya mengenakan popok “rambing”, yaitu sobekan kain, kadang perca, atau kain tidak terpakai yang dibentuk sedemikian rupa, dilipat, dan dibungkus plastik (untuk urusan ini saja saya berhutang banyak pada orangtua yang membesarkan saya). Saya menirunya sekarang untuk anak saya. Adanya penemuan teknologi gel yang menyebabkan ditemukannya “popok sekali pakai” membuat orang lebih senang membeli daripada bersusah payah membuat popok sendiri. Berapa pun harga pasti terbeli karena ia membuat kita lebih santai, tak perlu mencuci. Lantas, pernahkah kita berpikir, betapa seremnya sampah popok?

Seorang sahabat yang lain, beberapa hari lalu, becerita bahwa salah seorang tetangganya nyaris baku pukul dengan tetangganya yang lain karena soal popok. Si tetangga satunya ini sering membuat popok anaknya ke sebuah jurang. Benar jurang itu tanah tak bertuan, namun karena jurang tersebut dilewati pipa ledeng, yang mungkin sebagiannya bocor dan rembes, si tetangga merasa jijik sebab pipa tersebut dilalui air minum yang mengalir ke rumah-rumah penduduk. Masalah lainnya; jika hujan lebat turun, popok akan hanyut, dibawa air, lalu berserakan di ladang-ladang, mungkin pula dengan gel yang berubah warna hitam kekuningan.

Dengan menggunakan popok sendiri, atau membeli popok yang bisa dicuci, kita bisa hemat biaya. Lebih dari itu, kita telah berbuat lebih baik untuk alam, yang selanjutnya tindakan itu akan lebih ramah terhadap lingkungan. Saya menggunakan kedua-duanya; popok buatan sendiri dan popok yang bisa dicuci. Hanya kalau kepepet saja, seperti pergi kondangan atau dalam perjalanan jauh, saya menggunakan popok sekali pakai. Berikut cara-cara membuat popok (dalam gambar-gambar di bawah) yang dimaksud: 1. Ambillah kain bekas 2. Potong segi empat (sesuai ukuran) 3. Lipat memanjang 4. Letakkan di dalam bekas popok habis pakai (atau beli yang berbahan plastik) 5. Rekatkan pada dedek bayi 6. (pilihan; boleh diterapkan boleh tidak) Lapisi bagian luar dengan plastik untuk lebih aman dari kebocoran

Sekarang kita tahu, capek, kan, mengurus popok itu? Iya, jelas iya, namun jika kita lalukan, ia akan membuat kocek kita lebih lama susutnya dan jelas-jelaslah kita sudah berbuat lebih baik pada lingkungan. Dan inilah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia, bukan sekadar sebagai orangtua. Masalah sesungguhnya, kekayaan, adanya dana, sedikitnya kesempatan, juga rasa jijik, cenderung membuat orang ingin praktis selagi dia bisa membeli popok sekali pakai, selagi dia punya duit.

Ketika ada orang enggan atau menolak untuk menggunakan popok sekali pakai karena orientasi lingkungan, masih ada pula yang berpikiran bahwa orang yang begitu itu pastilah orang pelit atau kurang kerjaan. Komentar seperti ini tidak perlu dilayani kalau tidak ingin stres. Mereka berkomentar begitu karena mereka tidak pernah bertanya; entah berapa tahun lamanya popok—yang sebagian besar bahannya berbahan plastik—itu dapat diurai oleh tanah? Apakah kita tega meninggalkan bumi ini yang sepenuhnya berisi popok bekas untuk anak cucu kita nanti?

Kalau kita duduk agak lama, tenang, berpikir dengan jernih, urusan dana buat beli popok ternyata urusan yang tidak besar-besar amat. Yang jauh lebih besar adalah ngurus “popok habis pakai sebagai sampah”. Nah! Sebagai orangtua, Anda mampu dan bertanggung jawab membeli popok, tapi mengurus dan mengurai popok habis pakai sebagai sampah, sanggupkah? Cara lainnya adalah dengan membaringkan dedek bayi pada “perlak” (karpet plastik). Anak bebas pipis kapan saja dan orangtua hanya mencuci perlak di pagi hari. Begitu seterusnya. Sayangnya, tidak semua dedek bayi, terutama yang sudah agak gede, mau tidur pada perlak sebab biasanya kurang enak, kurang bisa nyenyak.
Mari mikir, mari berbuat!





x


Labels: , ,




Ada kesalahan di dalam gadget ini

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) Agra Mas (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) becak. setiakawan (1) benci (1) bis (3) bismania (2) blogger (1) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Colt T 120 (1) curhat (4) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) kites (1) kode pos (1) kopdar (2) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (1) Tartil (1) teater (1) teknologi (2) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (21) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog