14 Oktober 2017

Nazar dan Jenisnya


Ada yang suka bernazar, ada pula yang enggan. Di antara mereka, ada yang tidak peduli terhadap kedua tipe tadi, bahkan terhadap apa itu nazar (dibaca: nadzar) pun tak tahu.
Nazar adalah perjanjian terhadap diri sendiri untuk melakukan suatu amal (lelaku yang baik) apabila harapan atau keinginannya telah terkabul.

Bagi orang yang tertentu, bernazar itu dianggap sebagai tindak pemacu (katalisator) dan juga pemicu amal karena dengannya seseorang akan melakukan badzlu al wus'i (pengerahan maksimal daya upaya) untuk mencapai tujuan sembari berharap ia juga menjadi doa agar dikabulkan. Yang tidak suka bernazar juga punya alasan. Menurut kelompok ini, bernazar hanya akan membuat orang jadi pelit dan pamrih. Bagaimana tidak akan begitu jika mau beramal hanya setelah mendapatkan yang diharapkan? Cara ini dianggap pamrih karena sudut pandangnya "bisnis banget".

Pro-kontra tidak akan dibahas di sini karena esai ini bukan masail fikih. Ini hanya semacam potret kecil atas sebagian fenomena sosial yang ada di sekitar kita. Terlepas dari pendapat-pendapat di atas, saya akan berikan beberapa contoh nazar.

* Nazar Biasa:
"Kalau proyek saya ini 'deal', saya akan berziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim dan mengajak seluruh kerabat tanpa memungut biaya."

* Nazar Palsu
"Kalau nanti impotensi saya sembuh, saya akan kawin lagi." Ada juga contoh lain yang sama palsunya: "Kalau saya bebas dari maag, saya akan makan sepuas-puasnya."

* Nazar Curang (terutama anak Bismania)
"Kalau skripsiku kelar, aku bernazar jalan-jalan naik bis tingkat, tidak masalah meskipun Scania, bahkan andaipun harus duduk di muka."
  

Kalau ada yang mau menambahkan, silakan. 

28 Agustus 2017

Ngomong Dulu, Pikir Belakangan!



Apa-apa di dunia ini kalau terlalu dibawa serius akan bikin stres. Contoh, ada kalanya orang yang sudah dewasa tetapi “tidak bisa ngomong”. Maksud saya begini. Ketika ada seorang sahabat bilang, “Mau kamu saya kasih ponsel?”. Temannya menjawab ketus. Kayak apa? Dia menjawab bukan dengan ‘Oh, ya? Makasih, ya!’ melainkan dengan, semisal, ‘Boleh lah, gak apa-apa!’. Ada yang salah? Ya, masa dikasih hadiah bilangnya kejam dan ketus begitu.

Mengapa hal-hal remeh seperti ini terjadi? Karena ada orang yang suka ngomong dulu tapi mikir belakangan, memutuskan dulu dan mempertimbangkan kemudian.

Itu juga sama kasusnya dengan tempo hari ketika saya datang ke sebuah klinik. Ceritanya begini: karena baut pembuangan air kamar mandi di dalam kamar yang saya pesan itu bermasalah, bocor alus yang kalau ditinggal semalam diperkirakan esoknya langsung habis, saya bilang ke petugas. “Mbak, saya pindah kamar saja, atau tolong ini diperbaiki.”
Apa jawaban dia?
“Begini saja, Pak. Krannya dibuka keciiiil saja, nanti ‘kan air tetap penuh.”
“Lah, bukankah itu buang-buang air, Mbak?”
“Ya, Ndak apa-apa, Pak. Toh Bapak juga bayar buat tinggal di kamar ini.”
Jadi, dia mikir bahwa perialku boros (dan tidak berguna) itu tidak masalah asalkan kita mau dan berani bayar untuk itu.

Inilah contoh orang yang ngomong dulu mikir belakangan. Bagaimana orang-orang ‘yang bermasalah ini bisa punya cara berpikir seperti itu? Pastilah karena ia sering melihat yang berlaku begitu atau juga dibilangin orang lain agar berlaku seperti itu atau dia memang suka memutuskan cepat tapi mikirnya lambat (atau malah enggak pakai mikir? Hah?).

Saya sering menemukan lampu-lampu jalan yang terus menyala di siang hari, padahal ia berada di depan rumah orang. Tidak mampukah dia meluangkan waktu untuk memadamkannya padahal dialah yang paling diuntungkan dari fasilitas itu? Ketika lampunya mati, dia hanya bisa mengeluh ke sana ke mari. Tapi ketika berfungsi, dia tidak dapat berperilaku untuk menghemat dayanya.


Di hotel-hotel tertentu, hotel yang pengelolanya sudah punya wawasan environmental yang baik, handuk yang tidak dipakai tetap tidak akan dicuci. Mereka hanya akan mencuci handuk yang sudah diletakkan ke dalam keranjang. Apakah hotel yang tarifnya sudah mahal itu masih pelit juga? Oh, bukan, bukan begitu pola pikirnya. Mereka menganggap bahwa untuk apa handuk yang tidak dipakai kok mau dicuci? Kalau dicuci kan nanti harus pakai deterjen? Dan bukankah deterjen itu juga merusak tanah, air, lingkungan? air? Urutannya begitu.

Nah, coba Anda lihat orang yang meletakkan gerobak sampah ini. Setengah gerobaknya menutup pintu.  Mungkin dia parkir begitu saja. Tapi, masa dia tidak mampu kalau mendorong sedikit, anggaplah setengah meter lagi ke depan, sehingga tidak dapat menutup jalan? Percayalah, akan asyik andai setiap langkah yang kita putuskan itu kira pikir dulu, seremeh apa pun itu urusannya



01 Agustus 2017

Susahnya Menghadapi Nidin


Jika Anda lulus akpol dan jadi polisi (lalu lintas), berdoalah supaya tidak bertemu Nidin. Paling tidak, berdoa dan berusahalah agar Nidin cukup terlahir satu saja, jangan sampai sepuluh apalagi ratusan. Akan berabe hidup ini jadinya.

Tugas polisi itu berat, lho. Kalau tugasnya itu dienteng-entengkan, berarti dia polisi perkecualian, mungkin gadungan atau pengangguran yang sedang menyamar. Jika melihat ruwetnya lalu lintas di jalan dan kebiasan buruk masyarakat dalam berkendara, serta rendahnya penghargaan antar-sesama pengguna jalan, Anda punya dua pilihan: bercita-cita jadi polisi lalu lintas untuk ikut ambil bagian dalam mengurai permasalahan atau justru menghindarinya sama sekali.

Akan tetapi, di antara itu, masih ada jalan tengah: Anda tetap menjadi rakyat biasa tetapi—dengan niat tulus—ikut serta membantu pak polisi dalam memberikan penyadaran terhadap masyarkat akan resiko berlalu lintas di jalan raya, terutama bahayanya. Begitu juga, tugas Anda yang lain adalah mewanti-wanti sesama rakyat agar tidak melakukan praktik suap dan sogok (terhadap pak polisi) sebab itu seperti penyakit sampar: berbahaya dan menular.

Saya sebut beberapa contoh saja:

Ada rombongan ziarah ke Mertajasa, Bangkalan. Mereka naik L300 'stesen' yang isi normalnya 7 orang itu namun disesaki 17 orang, tentu saja dengan cara duduk gaya meringkuk. Di sebuah ruas jalan, mobil diberhentikan oleh pak polisi, akan ditilang mungkin. Katanya, mobil kelebihan muatan.
Tapi, apa jawaban Nidin yang kebetulan menjadi salah seorang penumpangnya? “Kami ini mau sowan ke Syaikhana Muhammad Khalil, Pak. Apa Sampeyan tidak takut 'tulah' kalau Sampeyan menghalang-halangi tujuan kami?”

***

Nidin datang ke samsat. Turun dari parkiran, mendekat ke loket, lalu meringsek di antara antrian: “Mau beli SIM, Pak!” katanya dengan nada bicara seolah dia sedang pesan bakso.
“Beh, apa-apaan ini kok langsung beli. Daftar dulu, ujian dulu!”
Nidin: "Ujian? Masa’ mau langsung ujian jika saya belum pernah dapat materi pelajaran?”

***

“Kok pake peci? Mana helm-nya?”
“Peci ini sudah di-asma’, bahkan ada hizib Andarun-nya juga. Peci ini tidak akan lepas dari kepala saya karena sudah ‘nonggal’ (manunggaling),” jawab Nidin dengan bangga ketika petugas menghentikannya.
Petugas: (sembari tersenyum) “Kalau nanti jatuh dan kepala Anda kejedug aspal?”
Nidin: “Dengan seizin Allah, aman, Pak. Paling-
paling cuman aspalnya yang hancur.”

***

Petugas: “Jangan grusa-grusu begitu kalau mengemudi. Hati-hati di jalan. Keluarga Anda menunggu di rumah.”
Nidin: “Lha, iya. Saya pulang tergesa-gesa ini justru karena barusan ditelepon. Saya memang ditunggu sama orang rumah. Katanya ada tamu.”

Pernah juga, suatu waktu, Nidin ingin masuk ke gang yang ada rambu ‘forbidden’-nya (bundaran merah bergaris melintang di tengah; pertanda “dilarang masuk”). Rupanya, dia ogah jika harus memutar karena tujuannya berada di ujung jalan. Nidin memundurkan mobilnya, lalu masuk secara mundur.
“Apa-apaan ini, Din?” tanya Hamdi yang duduk di sampingnya, heran. “Mobil 'kan tidak boleh masuk di timur sini?”
Nidin: “Aku ini ndak masuk, Di, tapi mundur. Anggap saja kita masuk dari arah barat cuma kebablasan dan ini hanya mundur sedikit ke belakang.”

***

APA ENGGAK STRES Anda jadi polisi kalau yang dihadapi selalu orang-orang semacam Nidin ini? Tapi, yang namanya Nidin itu akan selalu ada di dalam hidup ini. Jadi, usaha untuk lebih baik memang harus terus diperjuangkan, tapi jangan terlalu berandai-andai hidup ini menjadi sangat tenang dan tertib karena hal itu akan membuat Nidin kehilangan pekerjaan. Dampaknya malah lebih buruk daripada penyakit sampar karena ia menggerogoti pikiran. Tanpa Nidin, lambat-laun Anda akan kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan.

Sabar, ya, Pak! Saya akan bantu Anda dengan cara ngomong baik-baik terhadap Nidin-Nidin ini melalui ceramah dan diskusi buku "Celoteh Jalanan".

26 Juli 2017

Makanan Sebagai Obat atau Obat Sebagai Makanan?

  "Obat demam Sampeyan ini mudah, Mas," semprot Mbah Tomy kepada Mas Joni yang duduk jarak sedepa tepat di depan hidungnya. Sembari menepuk-nepuk bahu pasiennya ini, ia menambahkan, kali ini dengan suara lebih pelan. "Obat Sampeyan itu bukan paracetamol, tapi soto!"
"Serius?" Mas Joni melongo, ragu.
"Ya, habis ini Sampeyan pulang, cari soto, minta tambahan bawang goreng dan jangan lupa sambal cabe-nya yang banyak."
"Baik, Mbah Tabib. Tumben sekali hari ini: saya harus minum obat yang enak sekali."
"Tapi, nganu... Mas," imbuh Mbah Tomy, "berfantasinya dikurangi, ya!"


***


Di kesempatan terpisah, saya mengonfirmasi kedua belah pihak, apa cerita di atas itu benar atau tidak, ternyata benar adanya. Menurut Mbah Tomy, meskipun sama-sama berfungsi sebagai obat batuk, kukusan kembang blimbing wuluh, jahe hangat, jeruk nipis bertandem kecap, beda peruntukannya. “Masing-masing resep bergantung pada cuaca dan kondisi pasien. Herbal itu tidak mudah, justru berada pada kasta tertinggi di ‘maqam’ pengobatan ala kedokteran Timur. Makanya, soal reaksi cepat atau tidaknya sangat dipengaruhi oleh ketepatan komposisi dan caranya,” jelasnya.

Di dalam buku “Mutiara yang Terpendam” (saya lupa nama penyusun dan penerbitnya, yang pasti negera terbitnya adalah Malaysia, kapan-kapan saya susulkan jika ketemu bukunya), dijelaskan bahwa pola makan sangat berpengaruh pada kesehatan seseorang, bahkan ia menjadi kunci obat yang paling mujarab. Sementara ini, kita dibentuk oleh persepsi umum bahwa “makan itu tiga kali sehari”, sementara dalam tradisi kuno—termasuk leluri Islam, makan itu, ya, kalau lapar dan berhenti menyuap ketika perut mendekati kenyang alias sebelum kenyang. Yang mana yang kita pilih? Atau, makan melulu enggak kenyang-kenyang?

Sementara itu, Prof. Hiromi Sinya—saya tahu nama ini dari akupunkturis Mudhar nan Asyik—bahwa ia telah mengobati ratusan panderita kanker hanya dengan mengubah pola makan, salah satunya adalah dengan cara mengunyah (hingga 70 kali dalam sekali suap). Kunyahan sebanyak itu bukan sekadar hanya untuk menghaluskan nasi yang dimakan, melainkan demi produksi enzim. Dan cara ini sebetulnya telah diajarkan oleh nenek moyang kita (atau saya) karena begitulah anjuran dari Nabi Muhammad saw, hanya saja klta manut-manut saja karena beriman, bukan karena tahu alasan ilmiahnya sebagaimana baru-baru ini ditemukan oleh penelitian sains.

Saya lantas ingat kakak saya yang sakit. Dia dianjurkan untuk mengunyah sampai halus. Karena capek, kakak saya pakai cara “moderen”: dia masukkan nasi, kuah, dan lauknyasekaligus ke dalam blender, dimesin, lalu dituang ke dalam piring dan diminum (karena sudah jadi kayak bubur). Cepat sekali cara dia makan. Namun, kalau ingat enzim, ya, sekarang saya tahu, mesin blender tidak menghasilkan enzim karena itu berproduksi dari mulut/liur.

Pada penutup kata pengantar buku “The Miracle of Enzyme-nya Prof. Hiromi Sinya ini, Dahlan Iskan menulis: “Yang mengembirakan dari buku Prof. Hiromi Sinya MD ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim induk bertambah.” Jadi, usahakan Anda merasa makan sate kambing meskipun yang Anda hadapi adalah sate tahu. Tapi, apakah ini mungkin?

Nah, kebetulan, ketika saya menulis esai ini, saya sedang diserang batuk. Makanya, ketika ditelepon teman, suara saya mungkin terdengar kurang mesra. Lantas dia pun bertanya.

"Anda kedengarannya kurang sehat, ya?" Tanya kawan di seberang telepon.
"Iya, agak batuk, Mas."
"Oh, obatnya gampang: jeruk nipis sama kecap."
"Sudah, Mas, tadi malam, tapi reaksi kurang jos. Apa saya salah resep, ya?"
"Emang dibagaimanakan, Mas? Kan cuma diiris, kasih kecap, telan. Gitu aja, kan?'
"Ndak, Mas, sama saya kecap dan irisan jeruknya dimasukkan ke dalam semangkok soto."

Jadi, makanan itu sebetulnya adalah obat kalau kita mempersepsikannya begitu. Kerja obat herbal juga reaktif, asal tepat takaran dan penggunaannya, seperti cerita obat batuk di atas ini.


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog