21 Desember 2017

Dualisme "Rasa Memiliki" dan Persoalannya

Ada dua sisi "rasa memiliki": rendah dan tinggi. Adapun posisi tengahnya disebut tak punya rasa, tak peduli. Rendahnya rasa memiliki masyarakat kita umumnya tampak jika ia berkaitan dengan fasilitas publik. Contoh: lampu jalan dibiarkan terus menyala hingga siang hari padahal saklarnya nempel di tiang yang berada di tempat lalu lalang orang (belakangan sudah ada yang diotomatisasi dengan sensor cahaya). Meskipun mendapatkan manfaat dari lampu itu "seolah-olah secara gratis", masyarakat tidak punya rasa eman dan rasa memiliki karena menganggap hal itu "urusan pemerintah". Mereka hanya memiliki kebutuhan terhadap cahayanya di malam hari, sedangkan di pagi dan siangnya mereka lebih membutuhkan gratisan nasi pecel atau soto untuk sarapan.
Di sisi lainnya, "rasa memiliki" masyarakat bisa naik mendadak (seperti pengidap darah tinggi yang habis makan gulai kambing) apabila ada fasilitas publik yang dapat dimanfaatkan justru untuk kepentingan pribadi, semisal tiang lampu penerangan jalan tersebut ambruk mendadak. Biasanya, muncullah beberapa orang secara tiba-tiba, seolah-olah mereka itu keluar dari dalam tanah, lantas bergotong-royong mengangkat tiang tersebut dan menyelamatkan lampu LED-nya. Mengangkatnya tentu bukan untuk diberdirikan lagi, melainkan untuk diangkut ke rosokan, ditimbang, dijual kiloan. Adapun lampunya diselamatkan dari rebutan tangan penjarah, diamankan sendiri di rumah.
Kasus seperti ini mirip dengan nasib pot-pot bunga nan imut yang diletakkan di atas separator jalan kota yang kurang terurus. Yang dibayar untuk mengurusnya mungkin terlalu sibuk mengurus "bunga-bunga lainnya yang mekar di hatinya" sehingga tidak sempat mengurus bunga sungguhan. Akhirnya, "rasa memiliki"-nya diambil alih oleh seseorang yang melintas di malam hari, memindah beberapa pot tersebut ke halaman rumahnya.
Rasa memiliki (sense of belonging) bukanlah masalah penting di negara yang ekonominya mapan dan keamanannya stabil. Di kita, ini masih gawat sebagai persoalan. Lalu, siapakah yang paling layak menyelesaikan masalah ini? Kita, bersama, meskipun ia nyatanya adalah pekerjaan rumah bagi motivator dan dai untuk membangkitkan kesadaran kolektif tentang pentingnya rasa memiliki. Boleh juga dijadikan agenda Badan Bahasa untuk membahas fungsi ketaksaan makna dalam kata maupun frase serta apa saja dampaknya bagi pemahaman dan kesalahpahaman masyarakat.
Yang jelas, walaupun Perum Pegadaian bisa membereskan segala masalah tanpa masalah, tapi justru akan jadi masalah kalau sampai ikut-ikutan ngurus masalah ini, akibat rasa memiliki yang salah. Meskipun tampak sepele, tapi serius bahaya jika sesuatu diurus bukan oleh ahlinya, seperti dakwah diurus oleh penggiat dunia hiburan dan fatwa agama dipasrahkan kepada orang yang justru baru mempelajarinya.

22 November 2017

"Ikut Sampai Depan!"

Sejak dulu, saya sering nunut orang yang sedang bersepeda motor sendirian. Ada yang mau, ada yang menolak. Kalau mau tentu senang, kalau ditolak, ya, harus sabar, tidak perlu baper. Ingat, kan, sama setiap ending film televisi Hulk? Lakonnya pasti selalu ditolak setiap kali mencegat mobil tumpangan.

Semasa kuliah, dulu, saya sering bawa ransel besar. Salah satu isinya adalah helm (helm dulu itu kecil, kayak helm proyek, enggak seperti helm SNI yang gede seperti zaman sekarang). Malah kadang enggak ada buku di ransel itu. Kalau dapat rezeki tumpangan ke jalan besar, saya akan segera memasangnya. Ah, naik sepeda motor itu ternyata tidak perlu beli motor. Modal helm dan sedikit pede ternyata juga bisa.

Terakhir saya lakukan nunut orang itu di Kamal, tahun lalu. Kata kuncinya adalah “ikut, Mas/Pak, sampai depan!”. Rupanya, frase “sampai depan” ini jauh lebih efektif daripada satu kata “ikut!” saja. Frase “sampai depan” menandakan kita hanya mau nunut tapi tidak jauh, tidak sampai melintasi hutan-hutan yang mungkin akan membuat seseorang itu berpikiran bahwa kita ini bukan orang baik-baik.

Tanggal 30 Oktober lalu, kejadian seperti itu saya alami lagi. Saat itu, kami terjebak antrian panjang di Blega karena perbaikan Jembatan Sempar yang belum kelar. Antriannya sampai ke SPBU. Saya langsung turun dan melihat-lihat. Mobil bergerak pelan, tapi masih lebih cepat langkah saya. Saya pesan kepada Aploh, sepupu yang menjadi teman duduk saya di jok depan mikrobis ELF yang kami sewa, "Ploh, Nanti aku naik dari jembatan."

Perbaikan jembatan secara bersamaan di beberapa titik jalur selatan Madura (dan hanya satu titik di jalur utara) membuat jarak dari rumah saya di Sumenep seakan semakin jauh ke Surabaya. Malam itu, kami pergi secara rombongan  menuju Bandara Juanda. Ada 65 orang semuanya, diangkut dengan bis ¾ (medium), 1 Isuzu ELF panjang, dan beberapa mobil. Penerbangan pukul 6 pagi. Kata kunci dari Hassan selaku kordinator: harus subuhan di masjid bandara.

Sembari melihat arus yang tersendat, saya pindah ke sisi utara, mengambil kamera, dan mulai mengintai mobil-mobil yang akan menyerobot dari arah timur. Saya ingin tahu teknik melanggar ala mereka serta bagaimana cara mereka bermanis muka jika nanti kres dengan mobil dari arah depan, dan bagaimana pula trik dan tips ngeles dengan cara masuk kembali ke barisan atau menyingkir ke bahu jalan. Itu inti mengapa saya turun dari kabin ELF.

Tak terasa, saya melangkah lumayan jauh, hingga di PLN Blega. Arus masih tertahan. Lanjut lagi, saya melangkah sampai persis di jembatan. Kemudian, dengan santainya, saya duduk di gardu, bersama beberapa orang yang tampaknya memang haus hiburan, yaitu orang-orang yang menikmati kemacetan sebagai tontonan.

Ada yang bergerak-gerak. Saat merogoh tas, eh, ada panggilan, dan sudah beberapa kali. Ternyata, suara panggilan tidak terdengar dan getar vibrator HP tidak terasa. Agak berisik mungkin sebabnya.

Saat saya telepon balik, ternyata mobil rombongan sudah ada di Indomaret, jauh agak ke selatan, sudah mendekati jembatan yang dekat pasar.

"Mana?"
“Masih di jembatan.”
“Wah, kami menunggu dari tadi, hampir saja kami tinggal.” [1]
“Oh, tunggu...”

Saya agak panik. Kalau jalan kaki, ya, lumayan jauh dan pasti banyak mengulur waktu, kalau ikut angkutan, pasti enggak ada karena kala itu tengah malam, kalau cari ojek, enggak rasional, ojeknya belum tentu ada dan belum tentu mau karena jarakya terlalu dekat.

Kebetulan, ada seorang bapak-bapak melintas dengan motor Mio. Kebesaran tubuhnya membuat Mio itu jadi kayak sepeda anak balita roda tiga.

"Pak, ikut sampe depan!"

Berbarengan dengan saat ia menoleh, saya langsung duduk di sadelnya. Susah juga kalau harus nunggu jawaban dan neko-neko. Saya kira, ungkapan “sampe depan” itu sudah cukup ampuh untuk membuatnya luluh, menerima saya sebagai pemboncengnya. Bapak itu jelas tidak tahu, di manakah yang dimaksud 'depan’ itu, tapi terbukti dia mau.

Intinya begini. Adapun tips atau cara menghentikan sepeda motor yang melintas, dapat digunakan;

1. Menggubit (melambaikan tangan seperti memanggil-manggil orang di kejauhan)
2. Mengangkat tangan kanan dengan jari mengembang
3. Mengangkat tangan dengan menunjukkan jempol

Pokoknya, jangan melakukan penyetopan dengan cara menghadang di tengah jalan dengan kedua kaki mengangkan karena itu cara alay. Atau, lebih-lebih, jangan lakukan penghadangan dengan senapan atau senjata tajam karena nanti Anda akan diduga perampok.

Setelah mereka berhenti, segera ucapkan rapalan di atas, "Pak/Mas, mau ikut/nunut sampai depan!". Saya semakin yakin, bahwa frase “ikut sampai depan” itu memang efektif sebagai kata kunci untuk menumpang, meskipun ambigu. Saya sudah melakukannya beberapa kali. Kalau kita menyebut nama tempat secara spesifik, tumpangan mungkin ogah dan boleh jadi masih akan ada debat di antara kita. Jadi, gunakan kata “depan sana” atau “sampe depan saja” kalau Anda mau cari tumpangan gratisan di saat terdesak. Insya Allah, orang asing pun pasti mau, asal saja tampang Anda (yang cowok) tidak mencurigakan laksana perampok dan orang yang mau Anda ikuti itu adalah seorang gadis remaja.




[1] Ancaman “hampir saja mau ditinggal” ini serius akarena kami terancam hangus tiket untuk 65 penumpang Citilink di pemberangkatan pukul 06.00 dari Juanda – Balikpapan 

17 November 2017

Cara Baru Menjual Mangga


“Mangganya sekilo, berapa, Pak?”
“Duabelas ribu, Bu.”
“Mahal banget, kayak di supermarket jadinya. Saya pergi ke sini kan cari mangga yang sama dengan yang di super market tapi harganya yang lebih murah, Pak. Masa harganya sama dengan yang di supermarket, sih! Huh!”
“Tapi, ini mangga asli, Bu, asli Probolinggo, ibukotanya mangga.”
“Lha, iya, Pak. Tapi, kok mahal banget.”

Karena si bapak yang belakangan diketahui bernama Nidin itu terdiam, seperti kena skak-mat begitu, maka giliran ibu muda ini mengambil sebuah, menimang-nimang, menimbang-nimbang, membolak-balik seperti petugas perum pegadaian memeriksa keaslian emas. Teliti sekali tampaknya si ibu ini, sampai-sampai Nidin jadi keki.

“Bisa 8 ribu, Pak? Saya mau ambil 5 kilo kalau bisa.”
“Belum bisa, Bu. Sudah deh, saya turunkan seribu, jadi 11 ribu per kilogram.”
“Masih kemahalan, Pak. Bagaimana kalau 9 ribu?”
“Wah, tetap gak nutut, Bu. Harga segitu saja masih belum nutup sama biaya angkutnya dari Probolinggo sana.”

Si ibu ini tidak menawar lagi, tapi juga tidak pergi. Ia mengulang aksi seperti tadi: menimang-nimang, menimbang-nimbang, dan tampaknya tetap tidak jadi beli.

“Lagi pula, salah Bapak, sih, jualan mangga sampe ke Bekasi, kan mahal di ongkos. Kenapa tidak jualan di Probolinggo sana saja, Pak?”
“Takut saya, Bu, diburu orang. Jadi, saya jualan mangga sampe Bekasi ini juga karena melarikan diri, kok.”
“Hah? Serius? Apa kasusnya, Pak?” tanya si Ibu mulai pasang tampang kecut.
“Pembunuhan!”
“Wah, bapak ini, kok, serem, sih. Apa pasalnya, Pak, kok sampe membunuh?”

Bapak itu lalu diam, menunduk. Ia memperbaiki posisi mangga-mangga dagangannya tersebut  agar kembali menarik dilihat calon pembeli karena tadi sudah diobrak-abrik sama si ibu muda.

“Mmm, nganu, Bu. Saya pernah membunuh calon pembeli yang tidak jadi beli, yang cuma nawar-nawar melulu. Akhirnya, karena saya sebel, saya bunuh saja dia biar tidak kelamaan ngoceh.”


Mata ibu muda mindzalik. Ia membuka tas, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan membeli 5 kilogram mangga tersebut dengan harga asal. Kali ini ia tidak bicara lagi, tidak menawar pula.  Kalau saja si ibu ini sebuah ponsel, pastilah profile-nya baru saja diubah: dari ‘outdoor’ ke ‘vibrate only’.

CATATAN: jika ada kesamaan nama dan tempat, semua itu hanya dibuat-buat supaya kayak kebetulan. Tapi, jangan marahi saya. 

06 November 2017

Liburnya Jumat, Bolosnya di Hari Ahad


Saya melangkah menuju madrasah tempat dulu saya belajar, MANJ. Tampak ada tiga orang guru di sana, sedang duduk-duduk. Saya menyalami mereka dan langsung memperkenalkan diri, siapa tahu beliau bertiga tak satu pun yang ingat saya.

"Pak, abdina Faizi, Sumenep, kalowar 1993, paper bimbingan Panjenengan, Pak Nasir!" kata saya kepada guru yang saya salami terakhir, Pak Nasir, sembari menjelaskan identitas diri selengkap-lengkapnya.
"Ooo, iya, ya, ya... Dalam rangka apa ini?"
"Enggak ada, Pak, cuma main saja ke sini."

Lalu terjadilah percakapan jangkar dengan satu guru lagi, dalam keadaan tetap berdiri. Saya akan segera pergi dan para guru itu tampaknya juga mau ke ruangan untuk istirahat.

"Mmm... Anu, Pak. Saya minta maaf," lanjut saya.
"Maaf apa, ya?" susulnya
"Dulu, beberapa kali saya, saya loncat di situ," sembari menunjuk ke ujung timur, "pergi ke Warung Buk Niti, pada saat jam masuk tapi saat tidak ada guru."
"Ya? Ha, ha," Pak Nasir tersenyum lebar, senyum memaafkan.
"Iya, Pak. Enggak sering, lho, hanya beberapa kali saja. Di antaranya adalah saat Panjenengan sedang piket. Saya lari berjinjit ke timur saat Panjenengan sedang menoleh ke barat."  Saya menahan tawa.
"Iya, ya, ya..." Tangan beliau yang kekar menepuk bahu saya yang ringkih.
"Doakan saya, Pak," pinta saya seraya menyalami lagi lalu bergerak meninggalkan madrasah.

Godaan Bolos di Hari Ahad

Pada hari Ahad, sama seperti hari yang lain. Semua madrasah masuk, tidak seperti di luar sana. Kampus pun juga, sama. Hari Ahad adalah hari yang biasa karena haris Kamis malam sebagai weekend kami dan hari Jumat-nya sebagai hari party.

Di pagi hari Ahad, seperti hari lain di luar Selasa dan Jumat, ada beberapa pengajian kitab. Kami bisa memilih, ke masjid atau ke langgar Dalem Barat. Di Masjid ada Kiai Zuhri. Di Delam Barat ada Kiai Hasan Abdul Wafi. Saya yang mondok di dalem Kiai Malthuf malah masih dapat keringanan lagi sebab kala itu komplek kami masih tidak terintegrasi dengan PP Nurul Jadid secara administrasi, melainkan mandiri.

Saat saya akan boyong, komplek kami akhirnya punya nama: “Daerah Jalaluddin Ar-Rumi” dan berafiliasi dengan “Gang A PPNJ” setelah nama daerah usulan kami sebelumnya, “Abu Nuwas”, ditolak oleh pengasuh. Alasan penolakan usulan kami itu sengaja memang tidak kami tanyakan karena takut suul adab.

Karena status komplek yang independen inilah kiranya yang membuat kami kadang arogan dan sok leluasa untuk tidak ikut pengajian di pagi hari. Saya dan kawan-kawan malah pergi ke Tanjung. Yang sering adalah pergi ke warung ketan, makan ketan dan minum kopi, duduk berjongkong di atas bangku, bersama para tetangga, abang becak yang banyak, juga petani sebelum ke sawah. Alangkah bebasnya! Pengurus yang kadang beroperasi pagi untuk mencari santri yang keluyuran tak berani bertanya, apalagi menegur. Sudah tahu mereka kalau kami, santri daerah Ar-Rumi tidak bisa diseret dengan pasal pelanggaran karena punya status sendiri, istimiwir.

Balik lagi ke soal Hari Ahad...

Hari Ahad sering bikin saya galau. Saya sering ngumpet di kamar, terutama kalau lepas istirahat jam pertama, pukul 09.00. Kebetulan, muter radio boleh di komplek kami, tidak seperti di kompelek yang lain. Syaratnya cuma “asal tidak keras dan berisik”. Dan ini merupakan salah satu yang membuat saya tertarik tinggal di komplek ini setelah tidak mampu bertahan lama di PP Madrasatul Qur’an, Tebuireng.

Ada dua hal yang merangsang untuk bolos di hari Ahad:

Pertama,  mendengarkan radio Suzanna di pagi hari, pukul 09.30-10.30. Jadi, sangat beruntung jikalau di jam segitu tak ada guru. Saya akan nyimak penyiar Bung Mario berceloteh tentang perkembangan musik rock dunia, mulai dari info terkini dari Billboard Top 40, majalah Kerrang atau Metal Edge. Program acara Bung Mario ini bertajuk MBR (mungkin “music by request”). Lagu-lagu era tahun 92, seperti “Pull Me Under” dari Images and Words-nya Dream Theater saya tahu darinya, sebelum ada radio lain yang memutarnya. Bung Mario terkadang menyelingi komentarnya dengan sedikit sesumbar, semacam ungkapan “kami memperdengarkan ini pertama kali untuk Anda karena album ini belum beredar di Indonesia”. Begitu pula, dari Bung Mario inilah saya tahu band-band rada asing (kala itu) seperti Queensr├┐che, The Almighty, tidak hanya seputar Warrant, Aerosmith, dan Bon Jovi.

Kedua, program “Rajawali Rock Line” asuhan Abas Fadli. Acara ini mulai pukul 15.00 dan berakhir pukul 16.00. Sayang sekali, acara ini kres dengan shalat jamaah salat ashar dan  pangajian Tafsir Ayatil Ahkam yang diampu oleh pengasuh. Nah, sayangnya lagi, saya tidak bisa bolos demi yang ini. Bukan karena program RRL lebih menarik dari MBR, bukan, melainkan karena susah cara bolosnya sebab pondok saya dekat sekali dengan mushalla. Pasti langsung ketahuan kalau saya tak hadir atau memutar terlalu keras. Jadi, hanya libur pengajianlah yang dapat menyelamatkan saya dari menikmati hidangan perkembangan musik rock dunia.

Kalau ingat masa SLTA di pondok, terasa senang sekarang. Kami belajar ‘nakal’ hanya pada tataran seperti itu, tidak berani keluyuran bareng lawan jenis di malam Jumat atau malam Ahad. Tapi, saat ini zaman sudah sangat pesat berubah, baik kemajuan maupun kemerosotannya. Coba saja perikasa lirik lagu zaman dulu ini: “Mati aku ayahku tahu / Aku sedang berjalan dengan pacarku / Mati aku ayahku tahu / Aku sedang berkencan dengan pacarku”.  Jalan berduaan saja, Rita Sugiarto itu sudah takut sekali, takut ketahuan, takut dipukul ayahnya. Lalu bandingkan dengan lagu/lirik berikut: “Kuhamil duluan sudah tiga bulan / Gara-gara pacaran tidurnya berduaan / Ku hamil duluan sudah tiga bulan / Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan”: hamil duluan saja malah diberitahukan sambil jogetan. Sungguh, jarak masa lagu yang pertama dan yang kedua itu tidak begitu lama, terbukti saya masih sama-sama menututinya.

Ngeri, kan?


Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (4) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog