Ketika sudah memarkir mobil dan mendekati panggung, saat menghadiri acara Fortuna di lapangan Ambunten, saya sangsi. Ini acara besar tapi tidak ada jedak-jeduk, tidak ada lampu sorot? Memang benar ada tata suara dengan kotak pelantang yang digantung, tapi yang terdengar sampai jauh adalah corong TOA yang cenderung midle dan cempreng, suara orang mengaji Alquran.
Acara tersebut adalah pengajian dan doa keselamatan untuk bangsa, memang diselenggarakan bertepatan dengan Sumpah Pemuda (27 Oktober 2026, malam) karena ada momentum kebangsaannya. Penyelenggaranya adalah Fortuna, nama yang berpotensi menciptakan asosiasi di benak orang yang pertama kali mendengarnya mengacu pada semacam perkumpulan penggemar mobil atau komunitas yang lain. Nyatanya, ia adalah akronim dari Forum Silaturrahim Guru Ngaji, mencakup eks-kawedanan Ambunten, Pasongsongan, Dasuk, dan Rubaru.
Tak lama setelah azan Isya selesai, orang-orang datang berduyun. Ada yang naik sepeda motor, mobil, namun yang terbanyak adalah berjalan kaki. Tidak ada jedak-jedug. Sound system memang besar, tapi alih-alih dentuman bass yang menggelegar, suara orang mendaras Alquran-lah yang paling jelas terdengar, disusul oleh pembacaan kasidah Burdah sampai khatam.
Sekitar pukul 21.00, acara dimulai dengan mendoakan para kiai, para sepuh, dan guru-guru bangsa. Seperti tiga kali datang ke acara Fortuna dua atau tiga kali sebelumnya, saya memperhatikan, lapangan penuh dengan manusia, namun baru hari ini saya tersadar bahwa tak ada keberisikan berarti di sana, bahkan cenderung sepi. Tidak terbayangkan orang sebanyak ini bisa sepakat untuk diam saja. Mereka duduk bersila, sebagian di atas kursi. Tapi, yang paling menarik adalah; tidak ada yang beranjak pergi kecuali acara telah usai.
Ada banyak ketakjuban lain yang bisa dituliskan, tapi artikel ini tidak untuk itu. Artikel ini hanya untuk mengungkapkan kekaguman pada ide dan gagasan mereka yang dengan suka rela telah menyelenggarakan sebuah acara atas nama terima kasih untuk para guru ngaji yang berada di langgar-langgar, yang membangun fondasi, yang—dalam istilah Kiai Thoifur—merawat biji yang kelak bakal tumbuh menjadi pohon. Belum selesai ketakjuban saya karena mereka benar-benar serius hingga mengundang Kiai Kafabih (Lirboyo; didampingi Gus Ahmad, putranya), Mas Hamada (Sidogiri), Lora Najib (Nurul Jadid), dan banyak tokoh yang lain dan ternyata mereka datang, sama seriusnya berarti.
Kiai Kafabih memberi wejangan tentang jasa guru ngaji. Gus Najib menambah semangat (Gus Hamada tidak berkenan, hanya mau membaca doa di akhir sesi). Ada juga orasi kebangsaan dari Ra Mamak dan pembacaan Sumpah Pemuda serta menyanyikan Padamu Negeri bersama-sama. Sementara Kiai Thoifur Ali Wafa datang untuk memberikan ijazah sanad kitab Aqidatul Awam. Semua acara berlangsung khidmat dengan tata suara yang jernih, tanpa musik, dan sama sekali tidak ada dentuman bass yang mengusik.
Mana bupati? Tidak ada! Pejabat teras yang lain juga tidak terlihat. Mereka berhalangan atau mereka memang tidak diundang? Entahlah, saya tidak tahu.
Melihat suasana khidmat, penonton yang anteng, lingkungan yang nyaman, saya terpesona dan bertanya, kok bisa acara yang dihadiri ribuan orang bisa setenang ini? Setelah menimbang, akhirnya saya berkesimpulan bahwa situasi seperti itu tidak terjadi serta merta, melainkan dibentuk, diupayakan. Dari awal semua itu sudah dirancang, misalnya dengan tidak membunyikan tata suara kecuali hanya untuk memperdengarkan bacaan ayat-ayat Alquran lalu puji-pujian kepada Rasulullah. Semua hal itu mendukung, memberikan kesan pada suasana, pada ambience, bahkan pada kosmos secara keseluruhan. Hadirin disambut dengan pembacaan Yasin dan diteruskan dengan Burdah, sehingga mereka masuk dengan niat tulus dan tidak berubah sampai acara benar-benar selesai.
03 November 2026
Sebanyak Itu, Setenang Ini: Fortuna
Langganan:
Postingan (Atom)
