Pulang dari membeli ayam geprek, satu dari dua anak saya menangis. Mestinya mereka senang karena mau makan, eh, malah galau. Dia masuk kamar dan sesenggukan.
Ibu bertanya, “Mengapa menangis?”
Si kakak yang menjawab, “Dia memangis karena penjual nasinya tadi bertanya begini: ‘Mengapa kamu bawa kotak? Mau buat bekal, ya?’, terus Acid diam dan baru nangis di sini.”
Kejadian ini tidak saya ketahui kecuali setelah menerima laporan dari istri.
Tadi, sebelum berangkat, saya memang kasih syarat (sebagaimana biasanya begitu), bahwa kalau mau membeli makanan haruslah bawa kotak sendiri. Komitmen untuk mengendalikan sampah-plastik-sekali-pakai memang saya tanamkan sejak dini, dan karena ia adalah komitmen, maka ia pun harus dipegang kuat-kuat. Saya punya banyak kotak, termasuk Tupperware warna-warni, namun untuk kali ini saya suruh pakai kotak plastik yang lain saja, yang agaknya terlalu besar untuk seukuran nasi ayam. Bisa jadi, ini awal ia jadi sumber pertanyaan si penjual.
Meskipun terasa berat dan sulit harus menjelaskan alasan pengendalian sampah plastik kepada anak sekecil itu (yang masih kelas 3 dan 4 sekolah dasar), sang ibu tetaplah menjelaskannya juga, mengapa mereka harus membawa kotak nasi sendiri dan mengapa sang penjual menanyakannya.
“Penjual nasi itu bertanya begitu kepada kalian adalah tanda kalian ini keren! Penjual nasi pasti tidak pernah bertemu orang seperti kalian, yang datang untuk membeli nasi tapi membawa wadah sendiri. Dia bertanya karena tidak pernah melihat orang yang begitu. Jadi, jangan nangis. Kalian sudah keren.”
Si kakak sudah pernah membaca sebagian esai dalam buku “Merusak Bumi dari Meja Makan”, makanya dia tidak banyak komentar.
Sumber Foto dari SINI


Tidak ada komentar:
Posting Komentar