Banyak orang mengenang hari ini. Namun, umumnya tentang kenangan pahit, minimal célo’. Kenangan tentang teror, sebuah upaya menciptakan suasana ngeri dan takut dalam ketenangan hidup. Teror adalah sakit yang tidak kasat mata. Ketakutan dari jenis ini sangat menukik, tetapi tidak di-belasungkawa-i sahabat dan famili karena tidak kelihatan. Sakitnya bukan ke badan, tetapi pada mental dan perasaan. Sulit melawan teror karena kita tidak sedang berhadapan dengan “yang kelihatan”.
Kasus-kasus teror di Timor-Leste, ditulis sangat apik-deskriptif oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan cerpen “Saksi Mata”. Seno menulis ini konon karena di zaman Orba, ngomong kormeddal atas kepincangan sikap adil pemerintah dapat berakibat subversi dan si empunya ide akan raib entah ke mana rimbanya. Bahkan, tak ketahuan nasib dan makamnya. Karena itu, kata Seno, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Fakta pun difiksikan, disamarkan, untuk menyampaikan kebenaran.
Kasus Trisakti dan Kudatuli adalah serangkaian cerita horor. Namun, di balik itu semua, sesungguhnya, ada sejumlah kisah teror yang tidak sembarang jadi berita. Lazimnya, teror berupa ancaman tak langsung karena lawan sadar penuh dirinya mengandung banyak sifat asam dan masih butuh, antara lain, pada Zirconium Tetrachlorohydrex Glycine, PPG-14 Butyl Ether, Cyclomethicone agar dirinya tak jadi kecut se-asam penakut.
ponsel protolan milik Out of Topic (O-O-T)
Teror dalam perkomunikasian dan pertelponan dan perhapean dan per-sms-an, dalam keseharian kita, terkadang muncul, antara lain, melalui: kawan yang sering gonta-ganti nomer ponsel (usaha pemerintah mewajibkan pendaftaran nomor ke 4444 ternyata kurang berhasil), SMS ancaman dari nomor tak dikenal, panggilan pribadi/private number, telepon mendadak pada hari Jumat jelang siang berisi kabar hadiah/hibah dengan syarat segera menyetor uang muka (dengan berharap kita lengah; diberi kesempatan berpikir tergesa karena terbentur jam tutup kas bank di hari Jumat dan Sabtu-Minggu yang rehat); semua ini juga anak-pinak teror, lho…
Nah, rugi kiranya kita mudah terteror oleh SMS-SMS bersayang-sayang dari nomor tak dikenal. Sebab, melayani yang tak dikenal/tidak jelas rasanya memang kurang berfaedah kecuali untuk mengisi waktu luang (sebagai ganti dari teka-teki silang, kelebihan pulsa, dan jempol yang terlalu berotot buat balas SMS).
“Pa kbr, Sayang….”
“Baik-baik, Sayur! Nih, aku lg makan ama teror mata sapi..."”
Suatu pagi, tetangga saya, dengan membawa main keponakannya, bertandang ke rumah. Siang harinya, dia menelepon, menyampaikan berita kalau si keponakan menangis karena sandalnya ketinggalan. Dia bilang, “Nanti ashar saya ambil, ya!”
Saya jawab, “Silakan, tetapi saya tidak di rumah. Biar saya letakkan sandal itu di depan pintu dan kamu tinggal mengambilnya..”
Agar tidak tertukar, saya sandingkan sandal-si-keponakan-kawan itu bersama sandal kemaharajaan-ku karena khawatir akan tertukar lagi dengan sandal anakku.
Kesimpulan: cara singkat membuat definisi (untuk memperkenalkan sesuatu kepada orang lain) sebetulnya cukup dengan mengenali/memperkenalkan ciri-cirinya, atau sesuatu yang dekat dengannya. Dakwah, demikian atau iklan, saya kira cukuplah dengan memberi ciri, biarlah orang lain membuat pengertian sendiri berdasarkan persepsinya.Ciri-ciri mobil, misalyna, antara lain: beroda empat , berbahan bakar, berkemudi, berkabin, dll.
Namun, sandal yang sebelah kanan di atas mirip puisi. “Sandal ban” biasanya berbahan ban bekas. Dan itu, itu tu…, bukanlah sandal yang berbahan ban bekas. Ia terbikin dari ban anyar Bidgestone Turanza 16” ukuran 60 X 205 yang langsung dibeli dan dipotong-potong untuk dibuat sandal. Tujuannya: mengurangi selip di jalan rumah saya yang licin-padas menjadi satu.
Nah, mengapa kita sulit memahami puisi? Ya, karena puisi menyimpan definisi dan ciri yang tidak terduga, dan karena yang majazi cenderung dibaca dengan hakiki, yang metaforis selalu diterima secara literal; sekurang-kurangnya, seperti sandal itu.
Karena itu, yooook berhenti berburuk sangka atau shu’out dhown (gak baik bagi otak dan bisa mematikan komputer!) Siapa tahu yang ada di hadapan Anda itu puisi pada saat Anda membacanya dengan pandangan hakiki.
(nyambung gak nyambung yang penting menjadi satu, itulah Indonesia)
Kemarin (?); kemarin dari kapan(?), jam 6.25, aku tiba di Terminal Purabaya (nama ini kalah populer sama nama desanya, “Bungur Asih”, sebagaimana terminal lama [Joyoboyo] juga kalah masyhur sama “Wonokromo”). Beberapa kawan sudah menunggu di sana. Cak Awan, si seksi sibuk, dan beberapa kawan yang lain belum datang. Kontak sana-sini, akhirnya, kami berkumpul di luar terminal. Lalu, bersama-sama naik bis BL (Cahaya Mandiri) menuju Ngalam.
Inilah pengalaman pertamaku naik bis bersama penumpang yang seluruhnya sama-sama gemar sama bis. Di dalamnya, kami bercanda, olok-olokan, bersenda gurau, tetapi tetap pada “batasan dan rumusan masalah” bis. Jika berpapasan dengan bis baru, semua melongok dan berkomentar. Di tengah perjalanan melewati Gempol, seorang kawan berteriak, “Rekan-rekan, lihat kanan depan”. Kontan beberapa kawan berdiri, sebagian melongok, “Restu Panda, Adiputro, baru keluar dari karoseri!”. Atau, “Nah, yang depan itu, Handoyo, karoseri Rahayu Santosa!” Begitulah celetuk-celetuk yang muncul setiap kami bertemu dengan bis yang menggugah selera.
Tiba di Waloh (Randu Agung), kami ngumpul. Rombongan dari Jakarta (dengan Blue Star bersasis Mercy 1525) dan Romobngan Jogja (denagn Gege bermesin MB 1521) sudah menunggu. Rombngan semarang masih dalam perjalanan! Restoran besar itu mendadak mirip pasar tumpah. Rowwaame!
Setengah jam kemudian, pukul 8.45, kami bergerak menuju HAI-Rimba Kencana, sebuah manufaktur pembuatan jok dan aksesori bis (Pabrik yang diawal-awal berdirinya [1985] mengerjakan segala jok untuk station wagon seperti Carry, dll ini, sejak 1988 mulai mengerjakan reclining seat untuk bis. Sampai sekarang, RK telah memproduksi 48 jenis kursi.
Sekitar 1,5 jam mendapatkan sambutan yang hangat dari pihak RK, akhirnya rombongan bergerak menuju Restoran Simpang Raya (Singosari) untuk sholat jumat dan makan siang. Nah, di sini, tambah rame karena rombongan Semarang dengan bis Sumber Alam telah tiba. Ternyata mereka telat karena bisnya dibuat ngelen dulu sebelum berangkat. Aku tolah-toleh, sambil bertnaya-tanya dalam hati, “Orang-orang ini pada mau ngapaian, ya? Datang jauh-jauh hanya mau lihat pabrik karoseri? Aneh!” Ada Pak Iie Harfam namanya. Dia dari Padang, Sumatera Barat, datang ke acara cara ini hanya untuk keinginan yang aneh itu. Waduh! Tapi, kalau dipikir, ya, aku datang ke acara ini memang buat apa? (antara lain bahan nulis di bloNG, doG!)
Jam 13.30, sesuai jadwal, kami tiba di Adiputro yang terletak di Bale Arjosari (Kec.Blimbing), persis di perbatasan Kota Malang-Kab.Malang. Begitu masuk gerbang, semua penumpang bis yang kutumpangi langsung berdiri, melongok, melihat bis-bis anyar diparkir. Kami berhambur turun dan langsugn menuju TKP; ambil kamera dan jepret-pret-pret. Salah satu bis yang mencuri perhatian adalah bis Partai Demokrat tunggangan Pak SBY. Bis bermesin 1525 ini menggunakan konsep RV (recreational vehicle), seperti bis Omah Mlaku.
(ini nih, Scania Irizar, 9000 cc) (Ini eb-bis-nya Pak SBY) (di dalam bis, bukan di hotel) (areal parkir Adi Putro)
Di Adiputro, kami berdiskusi kurang lebih 45 menit. Baru setlah itu, kami lihat-lihat pabrik; mulai dari pengepresan, perakitan, pengecatan, hingga bis yang sudah “jadi”. Salah satu yang jadi perhatian di dalam pabrik itu adalah perbaikan bis built-up Scania Irizar milik PO Nusantara. Bis ini dimodifikasi karena harus menyesuaikan dengan aturan Dep.Hub, antara lain pintu penumpang dipindah ke kiri (semula di kanan). Habis jalan-jalan keliling pabrik sampe kaki pegel-pegel, kami duduk manis kembali untuk tukar pendapat.
Pokoknya, acara ini ini seru dan mantab (pake telor)!Pukul 16.40, acara selesai. Sisa waktu digunakan buat foto-foto. Duapuluh menit kemudian, empat bis yang mengangkut bismaniawan dan bismaniatun bergerak meninggalkan PT Adiputro Wirasedjati yang penuh kenangan menuju RM Waloh kembali. Di sana kami sholat Maghrib, istirahat sejak, ngopi-ngopi, dan…berpisah!
Dalam perjalan pulang yang rasanya tidak melelahkan itu, di dalam pikiranku mengambang sebuah khayalan. Eh, bukan, bukan khayalan, tetapi doa: “Ya Allah! Semoga kelak aku bisa naik haji. Dan semoga pula, pergi atau pulangnya, ditempuh lewat jalur darat: naik bis!”
(tambahan: tanbihun! Gak ada hubungannya dengan kopi darat Bismanaia, cuma mau numpang nampang pengen rasanya pegang stir Hino,,,)
Hari Selasa, tanggal 1 April 2009, bagian tengah jembatan Suramadu telah tersambung. Masyarakat bersuka cita atas tersambungnya titik ini. Kelak, kita yang orang-orang dari Madura ini akan menyberangi selat Madura lebih cepat daripada naik tongkang.
Dulu, orang-orang menolak karena khawatir siapa yang berkepentingan dengan jembatan hasil duit pinjaman ini. Apakah pemerintah akan membangun Madura atau membangun (di) Madura? Masyarakat tidak siap, karena belum dipersiapkan. Apa lacur, jembatan sudah dibangun dan kini tinggal tunggu sirene peresmian dibunyikan!
SURAMADU: kira-kira yang dimaksud adalah akronim dari “Surabaya-Madura”.
Mengapa tidak diberi nama Jembatan Surabaya saja?
Mengapa tidak diberi nama Jembatan Madura saja?
Mengapa tidak diberi nama selain keduanya (mis. Jembatan Antarnusa) saja?
Mungkin, penamaan Suramadu merupakan efek dari tabiat kita yang gemar bikin akronim. (Bahkan ada singkatan di dalam akronim, seperti POLRI [pol=polisi, R.I.). Kosa kata memang harus bertambah/ditambah agar bahasa semakin “dewasa”. Soal teknologi kita sudah terlalu banyak mengadopsi dari Bahasa Inggris, yang lain dari bahasa Belanda, keagamaan dari bahasa Arab. Lambat laun, kegemaran menyingkat-nyingkat akan menjadi pabrik kosa kata kita yang tidak terlekaan diluar adopsi (mis. madrasah = madrasah), adaptasi (politic = politik), dan penerjemahan (mis. spare part = suku cadang). Kreativitas “sambung-menymbung menjadi menjadi satu” inilah yang melahirkan, antara lain, rudal (peluru kendali) dan pemilu (pemilihan umum) hingga tidak terasa lagi asal-usul singkatannya.
Pertanyaan tambahan: Surabaya nama Kota di pulan Jawa, Madura nama Pulau. Mengapa tidak diberi nama “Jawamadu” saja? Andai masih ada kesempatan mengusulkan nama, penamaan “Jembatan Madura” kedengarannya lebih gagah daripada “Suramadu” (seperti PenangBridge atau Jembatan Penang). Tapi, iya, ya, kita kan sukanya yang simpel-simple. Tau ah..