05 Desember 2009
Anak Gila
“Nak, jangan nakal, ayo mandi.”
“Enggak…”
“Ayo, Nak, mandi.”
“Enggak. Bapak gila!”
Ini anak rupanya sudah mulai keterlaluan. Masak, bapaknya dibilang gila. Namun, dengan bekal kesabaran tingkat tinggi, sang Bapak tidak mengurungkan niatnya untuk membujuk si anak agar segera mandi. Ia coba-coba menggoada:
“Kalau bapak gila, kamu memang anaknya siapa?”
Anaknya menjawab, “Anak orang gila.”
25 November 2009
Ceper
Dengan teknolgi hidup pun jadi lebih mudah. Manusia menemukan teknologi suspensi. Mulai dari per daun, shockbreaker, hingga per keong, dan belakangan suspensi udara (air suspension).
Namun, karena kreativitasnya pula, manusia juga selalu ingin menemukan pembaruan, meskipun terkadang hal itu tidak lazim, tidak “pada umumnya”, yang intinya: yang tidak sama dengan yang lain. Baru!
Salah satu cara mencari yang baru adalah dengan langkah modifikasi. Dan salah satu bentuk modifikasi di bidang ini adalah memendekkan jarak ground clearance (jarak bagian bawah kendaraan dengan bumi). Istilah modifikasinya adalah ceper (mapa’ dalam bahasa Madura).
Mobil yang diceperkan, tentu suspensisnya jadi tidak enak. Tujuannya, mungkin, demi sedap saat dipandang atau tidak banyak beradu satu-lawan-satu dengan angin yang datang dari depan saat melaju kencang.
Tapi, terus terang aku belum paham jika langkah ini diterapakan pada kendaraan besar, seperti bis. Mengapa bis Omah Mlaku yang bermesin Volvo B12M ini juga ceper, ya? Dibandingkan bis lainnya, ground clearance bis ini sungguh dekat sekali dengan permukaan jalan.
Dan aku akan lebih tidak paham lagi jika langkah ini diterapakan pada songkok: “songkok ceper”! Suspensi bagian mana yang jadi tujuannya? Entahlah..
17 November 2009
Kalimat Efektif
“Kalimat efektif itu, Saudara- saudara,” kata Pak dosen itu berapi-api, “Adalah kalimat yang secara tepat mampu mewakili gagasan atau perasaan si penulis. Kita semua tahu, bahwa kalimat itu tidak serta-merta dengan sendirinya akan dapat mewakili apa yang kita sampaikan, bukan? Kadang-kadang, saat kita menulis A, yang muncul justru tanggapan bernada B; salah-paham.”
Pak dosen mundur selangkah ke belakang, mendekati papan, lalu menambahkan begini: “Lagi soal kalimat efektif: agar efektif, kalimat hendakanya memiliki kesatuan gagasan, yakni lengkap subjek-predikatnya, dan boleh objek dan keterangan jika dibutuhkan, harus padu, hemat bahasanya, tidak bertele-tele.”
“Dan tentunya, agar kalimat kita benar-benar efektif, kita juga harus “sadar diksi”, kita harus bisa memilah dan memilih kata yang benar-benar cocok. Tidak menggunakan “mengintip”, meliankan “menjenguk”, jika yang kita maksud adalah “melihat orang sakit”. Oya, ejaan dan tanda baca harus diperhatikan juga ya!”
Diam sejenak. Tampaknya, kali ini saatnya untuk membuka sesi pertanyaan.
“
Semua mahasiswa extension yang kebanyakan telah berusia 30 tahun ke atas itu diam saja. Sepertinya mereka sudah sangat paham dengan penjelasan materi “kalimat efektif” hari itu.
“Mari,” kata pak dosen mempersilakan sekali lagi. “Apa Anda semua sudah paham betul dengan kalimat efektif ini?” Wajah-wajah datar menghampar di hadapan pandangan pak dosen berkaca mata itu.
Tiba-tiba, satu orang mengacungkan tangan.
“Iya!” Kata pak dosen menyambut dengan senyuman
“Efektif itu artinya apa, Pak?”
09 November 2009
Pengawalan untuk Orang Miskin
Naik L300 dari Baranta menuju Sampang, tanggal 7 kemarin Nopember, pada kisaran jam 9:45-an, aku berpapasan dengan segerombolan orang gede ber-moge: ples! Cocok! Mereka datang berkonvoi, dikawal, dan masuk ke arela parkir Pantai Camplong. Pak polisi mengatur lalu-lintas. Mereka juga datang dengan kendaran mewah. Sempat kulihat ada BMW sport berwarna merah beratap kanvas, juga Alphard, serta entah apalagi.
Setelah kurang lebih 10 menitan terjebak macet karena mereka, mobil yang kutumpangi pun akhirnya bergerak lagi. Di dalam kabin mobil yang panas, Zulkarnaen, si pengemudi dari Bandaran ini berkomentar. “Saya tidak kagum melihat rombongan Harley ini. Mengapa tidak ada pengawalan untuk orang miskin?” Katanya sedikit masam. Dia bicara sendiri dengan tatapan lurus ke depan. Aku tidak berkomentar, karena yakin ada kelanjutan dari komenetar Si Zulkarnaen ini.
Terbukti: “Yang saya herankan, mengapa penumpangku begitu sepi hari ini..” lanjutnya seraya tersenyum. Berbarengan dengan itu, segera kusodorkan uang 5000-an untuk ongkos. Kernet menerimanya tanpa ekspresi. Aku maklum. Karena setelah kutengok ke belakang, hanya ada satu penumpang di
Masih terngiang, “Mengapa tidak ada pengawalan untuk orang miskin?”
Dan aku turun dari mobil itu untuk mencegat mobil berikutnya yang akan mengantarku ke arah Bangkalan.

