Beberapa kali saya ngerjain tukang becak. Saya naik becak tanpa tanya tarif. Setelah tiba di tempat tujuan, saya baru bertanya berapa bayarannya. Biasanya, tukang becak akan menjawab terserah Sampeyan. Saya tidak tahu, mengapa hampir semua tukang becak selalu menjawab demikian.
Kejadian terakhir yang saya alami adalah bulan lalu, 29 Maret, 2026.
“Sanapa
(berapa)”?
“Caepon Empeyan!” (Terserah Sampeyan)
Lalu, saya julurkan selembar duaribuan! Tukang becak itu bengong, lalu tersenyum. Dia jelas kaget karena saya hanya ngasih uang Rp2.000 untuk jarak yang biasanya (setelah saya tanya lebih dulu pada orang setempat) berkisar Rp25.000.
“Sanapa saongguna?” (jadi berapa, nih?) tanya saya lagi.
Tukang becak itu menjawab diplomtis: “Sebelum berangkat, saya biasa berdoa agar diberi rezeki yang halal.”
“Kalau saya kasih 2 ribu?”
“Terserah Sampeyan!”
Dia memang bilang terserah, tapi jelas air mukanya berubah. Kekagetan tidak dapat disembunyikan meskipun dia berusaha tersenyum. Akan tetapi, dia tahu kalau saya sedang main drama di hadapannya. Saya lalu berkata.
“Pak, kalau Sampeyan tidak benar-benar pasrah dikasih uang 2000 sama penumpang karena Sampeyan bilang terserah, ya, jangan bilang terserah! Nanti akadnya rusak karena saya ijab 2000 tapi ternyata Sampeyan tidak qabul karena keberatan!”
“He, he, he...”
Saya ambil uang kertas 50.000-an. Saya sodorkan. Tukang Becak tersenyum dan tampak mau ambil uang kembalian. Saya bilang, “Tidak perlu kembalian. Ambil saja itu semua.” Saya juga memberinya sebungkus rokok yang harganya sekitar 25.000 sembari berkata, “Anggap saja ini bonus kaget, Pak, gantinya permintaan maaf saya.”
* * *
Hari ini saya membaca berita yang mirip tapi berbeda. Seorang tukang becak narik Bupati. Bayaran normalnya untuk jarak tersebut adalah Rp15.000. Harga segitu adalah tarif normal untuk penumpang biasa. Konon, si tukang becak berharap ongkosnya lebih dari itu karena yang naik bukanlah orang biasa, karena seorang bupati, tapi kok bayarannya ternyata sama dengan penumpang biasa. Bagaimana akad seperti itu?
Saya tidak tahu persis rentenan kejadiannnya seperti apa. Akan tetapi, saya dapat memperkirakan dua kemungkinan: Pertama, tukang becak menyampaikan jabawan template ‘Terserah Sampeyan!’ ketika ditanya tarif. Kedua, memang staf yang membayarkan ongkos pak bupati tersebut aduhai kebangetan ngiritnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar