13 Maret 2011

Duel Meet Dua Penceramah

Berceramah atau berbicara secara monolog di depan orang banyak merupakan salah satu tugas yang tidak bisa saya lakukan. Terbukti, saya pernah berceramah dalam bahasa Madura. Namun kurang dari 10 menit, bahan-bahan omongan sudah habis. Berbeda dengan penceramah yang ahli, mereka bisa berbicara berjam-jam dan tanpa merasa keder untuk mengulik bahan sekali pun sambil jalan.

Ceramah adalah suara satu arus. Tugas penonton hanya mendengarkan, ya
the audience is listening. Maka dari itu, materi-materi yang disampaikan dalam ceramah, di satu sisi, akan selalu aman mengalir sampai ke telinga pendengar. Namun, pernyataan ini bukan berarti penceramah boleh semena-mena dengan gagasan yang disampaikannya.

Di Madura, sering kali ada acara yang menampilkan lebih dari seorang penceramah. Bahkan, pada acara-acara haflatul imtihan atau kegiatan tutup tahun sebuah madrasah, atau maulid nabi, ada yang menampilkan tiga penceramah sekaligus. Suatu peristiwa terjadi berkaitan dengan hal ini: seorang penceramah secara berapai-api mengungkapkan gagasannya di atas panggung. setelah satu jam lebih, ceramah selesai dan dia turun dari panggung.

Mungkin, karena statemen dari si penceramah pertama ini dianggap membahayakan atau khawatir disalahpahami, waktu dimanfaatkan oleh penceramah kedua untuk memberikan tanggapan balik. Sayang, tanggapan baliknya ini cenderung mengadung kritik terhadap pesan yang telah disampaikan oleh penceramah pertama tadi.

Di sana, di bawah panggung, penceramah pertama yang kini duduk di sofa baris depan bersama tuan rumah, tampak mulai gelisah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, berbisik kepada teman duduknya. Ia sampaikan bahwa yang tadi telah disampaikananya telah disalahpahami oleh penceramah kedua. "Padahal saya tidak bermaksud demikian," katanya. "Saya tidak sembarangan begitu."

Hari sudah mulai larut. Begitu penceramah kedua selesai, penceramah pertama meminta waktu kepada panitia, naik ke podioum untuk yang kedua kalinya. Celakanya, karena mungkin takut atau sungkan, panitia memberikan waktu bagi si penceramah pertama itu. Apa yang terjadi? Isi pidato penceramah pertama yang naik panggung untuk kedua kalinya itu pun berisi protes dan bantahan terhadap pernyataan-pernyataan yang telah disampaikan oleh penceramah kedua.

Siapa yang bingung? The audience is listening.

22 Februari 2011

Tamu-Tamu Online


“Setiap tamu akan membawa kebahagiaan; kalau tidak datangnya, ya, perginya.”

Sayang saya tidak tahu, ungkapan ini berasal dari mana. Saya pernah mendengar ungkapan ini secara langsung (bukan dari buku) dari mulut seorang kawan yang ketika itu baru didatangi debt collector, dan ia tidak punya uang. Saat tukang tagih duit datang, ia sedih, dan baru senang ketika ia sudah pergi.

Bulan Pebruari ini saya kedatangan banyak tamu dari jauh, antara lain Binhad Nurrohmat, Andy Fuller dan Sarah yang datang awal bulan. Lalu, tak lama setelah itu, datang lagi Nano Darmawansyah, Heru, dan Coradion. Dua hari setelah mereka bertiga, datang lagi rombongan Ade Boim dan Bagus Wiranto dengan 6 orang yang lain. Kebanyakan dari tamu itu adalah teman online, mereka yang sebelumnya saya kenal lewat milis atau jejaring sosial/facebook. Mereka semua berasal dari Jakarta.

Hari ini saya kedatangan tamu dari Gresik, Jauhari Ahmad dan Azmil Muftaqor. Mereka berdua ini, seperti beberapa tamu yang lain, mengaku tidak membawa maksud apa-apa selain silaturrahmi. Jadinya, saya tidak merasa aneh kalau mereka, seperti halnya beberapa tamu di atas lainnya, hanya tidur-tiduran seharian di kamar dan tidak pergi ke mana-mana.

Demikianlah, saya senang dengan kedatangan mereka yang datang tanpa maksud apa-apa. Tadi malam, saya mendengar ceramah seorang muballigh, katanya, “tamu yang banyak maunya, sekali memperoleh apa yang dia maksud dari kita, akan jarang bertandang lagi, bahkan mungkin tidak akan kembali lagi.”


05 Februari 2011

Ditilang, Mengancam


Ini adalah adegan percakapan antara penumpang dan petugas. Sopir mobil carteran terlanjur pasrah dan diam karena STNK dan SIM-nya sudah berpindah ke tangan petugas.

“Kendaraan Anda kelebihan penumpang!” kata petugas dengan nada tegas.

“Beh, Pak! Kami ini mau pergi ziarah ke Syaikhona Kholil, Pak!”

“Iya. Itu urusan Anda, mau ke mana saja terserah Anda. Tapi kendaraan ini kelebihan penumpang dan tetap harus ditilang. Mari, mari kita selesaikan di pos.”

“Lha... Pak! Pak! “Orang tua itu memanggil-manggil petugas. Sementara si sopir pasrah karena membayangkan denda yang harus dibayarkan, di pos atau di pengadilan.

“Pak!!” Kali ini, lelaki itu memanggil petugas dengan nada nyaris berteriak, “Sampeyyan ini mau tilang kami? Benar? Sampeyyan ndak takut kena tola (tulah)? Kami ini mau ziarah ke pasarean Syaikkona Kholil lho. Awas, ya. Saya ndak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Sampeyan besok.”

04 Februari 2011

Plat M


“Jangan! Jangan mutasi mobilmu ke plat M kalau memang mau digunakan perjalanan ulang-alik Madura-Jawa..”

Testimoni ini, dulu, kerap kali saya dengar di sela-sela pembicaraan antarpengemudi atau para pemilik mobil carteran. Di Madura, sebagaimana lazim diketahui di era pertengahan 80-an hingga awal 90-an, banyak sekali kendaraan MPV/station wagon (berupa Colt T 120, Hiace, L300, atau Suzuki Carry, yang digunakan mobil carteran. Umumnya, mobil-mobil ini disewa untuk kepentingan kondangan ke Jawa, ziarah, atau lainnya.

Dulu, saat semua kendaraan harus melewati penyeberangan Kamal untuk tiba di Ujung (Jawa), kendaraan-kendaran plat M, kata gosip yang berkembang di kalangan sopir, senantiasa jadi santapan empuk dalam urusan tilang. Biasanya, pelanggaran tersebut mencakup urusan tuduh-menuduh seputar “taksi gelap”, dan lain-lain. Mengapa palt M? Anehnya, ini juga kata gosip yang mereka kembangkan, kendaraan serupa akan relatif lebih aman asalkan plat nomornya non-Madura (bukan plat M), lebih-lebih plat L (Surabaya). Karena itu, banyak pemilik kendaraan yang beroperasi di lintasan ini justru memutasi nomor polisinya menjadi plat L.

Bagaiamana ketakutan ini bisa terbentuk? Saya tak mengerti, mengapa, kapan, dan bagaimana kenyataan semacam ini terjadi, berjalan, dan rasanya terus berlangsung hingga hari ini. Boleh jadi, hal ini diakibatkan oleh banyaknya kasus pelanggaran tatib di masa lalu yang telah dilakukan oleh mobil-mobil berplat M. Tapi, seberapa banyak yang melanggar? Mengapa teror itu berlangsung hingga hari ini? Dampaknya, “mereka yang berjalan di jalan yang benar” akhirnya terkena dampak perasaan inferior juga, ikut-ikutan minder. Di atas semua itu, saya juga tidak tidak tahu, berapa banyak mobil bodong yang berkeliaran di luar sana dan karena penampilannya yang keren dapat terlepas dari jerat pelanggaran tatib ini.

Apakah ini merupakan bagian dari persoalan identitas; pencitraan yang tercipta sejak era kolonial; dampak buruk dari entologi yang berkembang?

Waduh, kok jadi bertanya terus menerus sih? Eh, kok malah tambah bertanya? :-)

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) Merusak Bumi dari Meja Makan (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) plastik sekali pakai (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sampah plastik (1) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog