Jika Anda bertamu ke rumah seseorang, kadang terpajang di serambi depan atau bagian lain di rumah itu; beberapa foto. Kadang ada foto seorang tentara; foto pernikahan; foto wisuda; foto keluarga, dan semacamnya. Kerap juga ditemukan foto-foto kiai dan tokoh keagaamaan di sana.
Foto-foto itu sepintas tampak hanya sebagai bagian dari seni dekorasi, seperti halnya lukisan atau gambar buah-buahan di ruang makan, ataupun kaligrafi di ruang khusus. Namun, sesungguhnya foto-foto itu memberikan informasi tentang identitas pemilik rumah. Foto berbicara banyak hal tentang arah dan kecenderungan orangnya.
Saya tidak sedang menulis sebuah analisa tentang hubungan foto pajangan dan pemilik rumah. Karena untuk memhami hal semacam itu sebetulnya cukup dengan cara membiasakan diri mengamati foto-foto di setiap rumah orang yang kita kunjungi. Saya tiba-tiba teringat sesuatu; foto keluarga, saat seorang teman bertanya tentang 'keluarga' saya beberapa bulan yang lalu.
Di banyak tempat, terutama luar negeri, pertanyaan tentang keluarga sebagai identitas amatlah krusial, sangat sensitif. Namun karena teman dan saya sama-sama mengerti satu sama lain, pertanyaan itu menjadi pertanyaan hiburan yang mengesankan keakraban. Dan justru dari situlah saya sadar bahwa selama ini, selama 9 tahun pernikahan, kami belum pernah foto bersama secara khusus untuk membuat sebuah "foto keluarga".
Belakangan saya tahu, ada banyak keluarga yang mengundang fotografer profesional untuk mengabadikan kebersamaan keluarganya dalam sebuah foto. Ada pula yang menyewa pakaian, berdandan, dan pergi bersama-sama ke sebuah foto studio untuk kepentingan foto bersama. Secara kebetulan, akhirnya kami bisa membuat foto keluarga setelah kedatangan tamu seorang instruktur foto di sebuah sekolah fotografi terkenal di Jakarta. Ya, hari itu, Bapak Tedi K. Wardhana mengambil gambar untuk foto keluarga kami untuk yang pertama kalinya.
08 Desember 2012
30 November 2012
Seragam Bapak-Ibu
Baju “seragam bapak-ibu”, baju yang dibuat dari kain dan
atau motif sama dan diguakan oleh seorang pasangan suami-istri, termasuk jenis
yang tidak saya suka. Dari dulu saya tidak pernah membayangkan akan memiliki
jenis pakaian seperti ini. Namun, sejak tahun 2006, ketika saya memperoleh hadiah
dua potong kain yang tampaknya memang dirancang model seperti itu, maka saya pun
membautnya untuk pertama kali.
Belakangan, saya memiliki pakaian sejenis tidak hanya satu. Ada beberapa motif yang
sama dan akhirnya menjadi bagian dari penghuni lemari pakaian kami. Terus terang,
saya masih tetap tidak suka menggunakan pakaian model semacam ini dengan alasan
seperti mengesakan simbol harmonis yang dipaksakan. Mungkin, dugaan saya
terlalu berlebihan. Akan tetapi, saya tidak menyalahkan model “seragam
bapak-ibu” ini. Karena itu saya tidak bikin kampanye agar orang lain tidak
mengenakannya juga. Saya hanya kurang suka tanpa alasan yang dibuat-buat, dan
itu bergantung kepada selera saya pribadi.
Suatu hari, tepatnya tanggal 2 Maret 2012, saya pergi ke sebuah
pesta pernikahan teman di Tulungagung. Karena ingin simpel, saya hanya membawa
sebuah tas selempang kecil, berisi 1 sarung dan 1 baju ganti. Saya berangkat dengan
perkiraan waktu yang pas. Berangkat tengah malam dari rumah, kira-kira pukul 10
lewat sedikit saya sudah tiba di Tulungagung. Acara akan dilangsungkan bakda Jumat.
Menjelang shalat Jumat, saya numpang mandi di rumah tuan
rumah. Begitu hendak akan mengenakan baju ganti itu, ternyata saya salah bawa
pakaian. Yang saya bawa dalam tas selempang itu ternyata pakaiain istri saya
yang motif dan bentuknya nyaris sama. Kala itu pula, sontak bertambahlah rasa
enggan saya untuk memiliki “seragam bapak-ibu” seperti ini. Apa boleh buat, akhirnya saya tetap memakai baju yang telah
saya pakai 12 jam yang lalu dan sudah menempuh perjalanan 300-an kilometer.
23 November 2012
Iman dan Tanda Tangan
“Tanda tangan dua kali lagi, Pak, di sini dan di sini!”
Petugas bank itu menunjuk bagian yang mestinya saya tanda tangani. Saya pun lalu melakukan perintahnya. Setelah selesai, petugas melihat tanda tangan tersebut dengan cermat. Dahinya berkerut. Alisnya bertaut.
Dia menatap saya sambil berkata, “Kok tanda tangan Bapak beda satu sama lain?”
Saya tersenyum dan menjawab enteng, “Iman seseorang saja berubah-ubah, Mas, apa lagi cuma tanda tangan.”
Petugas itu tersenyum. Mungkin karena sudah terbiasa nasabah dengan berbagai gaya dan watak, dia tenang saja menjawab.
“Ya, tidak bisa begitu, Pak. Kalau urusan tanda tangan di bank, harus sama, Pak! Mari, Bapak tanda tangan sekali lagi.”
* * *
Saya ingat akan perkataan itu, perkataan yang sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saya masih ingat hingga sekarang. Apa pasal? Saya merasa bersalah karena telah sembarangan berkata-kata. Dalam istilah anak muda di Madura, itu yang diebut “kormeddal”, yakni “asbun” atau asal bunyi. Ya, memang benar apa yang saya katakan, tapi tentu tidak tepat diucapkan di hadapan petugas bank itu, pada waktu itu.
Benar dalam ucapan belum tentu tepat saat disampaikan. Waktu dan situasi tetap harus menjadi bagian yang harus dipertimbangkan. Saya rasakan sekarang. Terlalu percaya diri, bagi orang lain, terkadang sungguh menyebalkan.
25 Oktober 2012
Pamer Kebaikan
Nabi menganjurkan kita bersedekah dan beramal baik. Salah satu keutamaan sedekah adalah dengan cara merahasiakannya. Karena itu, ada istilah “shadaqah sirr”, yaitu sedekah dengan merahasiakan penyantunnya. Dengan redaksi yang berbeda, mungkin kita bisa menjabarkan cara ini dalam kalimat berikut: “Hendaknya, amal baik yang telah dilakukan oleh tangan yang kanan tidak sampai diketahui oleh tangan yang kiri.”
Ungkapan di atas menyiratkan sebuah pelajaran agar kita terbiasa bersikap dan bersifat ikhlas, yaitu melakukan sesuatu setulus hati. Dengan ungkapan seperti itu, kita diajari berbuat baik tanpa perlu sanjungan dari orang lain. Kita senantiasa merahasiakan amal-amal baik yang kita lakukan.
Namun, belakangan, adanya jejaring sosial seperti blog, facebook, dll. telah membuat cara pandang manusia berubah. Kita melupakan hal ini. Banyak orang yang selalu bergairah untuk narsis. Semua amal kebaikannya dipamerkan kepada orang lain, seolah-olah orang lain harus juga tahu bahwa ia telah melakukan amal baik.
Sungguh, saya berlindung dari cara yang seperti ini.
Ungkapan di atas menyiratkan sebuah pelajaran agar kita terbiasa bersikap dan bersifat ikhlas, yaitu melakukan sesuatu setulus hati. Dengan ungkapan seperti itu, kita diajari berbuat baik tanpa perlu sanjungan dari orang lain. Kita senantiasa merahasiakan amal-amal baik yang kita lakukan.
Namun, belakangan, adanya jejaring sosial seperti blog, facebook, dll. telah membuat cara pandang manusia berubah. Kita melupakan hal ini. Banyak orang yang selalu bergairah untuk narsis. Semua amal kebaikannya dipamerkan kepada orang lain, seolah-olah orang lain harus juga tahu bahwa ia telah melakukan amal baik.
Sungguh, saya berlindung dari cara yang seperti ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
