24 Januari 2009
18 Januari 2009
KELIRU KAMPANYE
Di acara tahlilan Pak Fulan…
Seorang tokoh datang terlambat, yakni ketika tahlilan sudah dimulai. Kedatangannya mencuri perhatian. Yang telat, pasti mencuri perhatian.
“Oh, panjenengan, ya?” kata Sahrul yang menyambut tamu.
“Maaf, saya terlambat,” balas Su’din, orang yang baru datang itu.
“Oh, ndak apa-apa. Baru dimulai kok. Mari, silakan…”
…dan tahlilan pun berjalan sebagaimana biasa! Seusai acara, orang-orang bubar. Tetapi, sebagian yang lain tidak segera pulang karena rupanaya, Su’din tidak segera pulang. Yang lain sungkan. Su’din memulai pembicaraan bernuansa kampanye:
“Hmm. Maaf, telat. Soalnya tadi malam saya melayani tamu sampai larut malam. Kawan-kawan politisi mengundang saya untuk nyaleg. Sebetulnya saya tidak mau mencalonkan diri, tetapi mereka ngotot dan meminta serta memaksa saya untuk menjadi caleg dari PEG yakni “Partai-Eceran dan Grosir”. Saya bilang, pokoknya saya tidak mau mencalonkan diri. Saya akan merasa berat jika mendapat tugas mewakili suara rakyat. Kalau Kalian mau, ya, segala sesuatunya tolong Kalian yang persipakan. Pokonyna saya tidak mau ribet ngurus ini-itunya.”
Su’din menarik napas. Ia menebar senyuman kepada seluruh hadirin yang ada di majelis tahlilan itu. Setelah menyeruput kopinya, ia melanjutkan, “Ya, saya bilang ke mereka tentang suara hati saya itu. Dan mereka akhirnya sepakat. Mereka siap mengurus segala urusan administrasinya.” Su’din tersenym lagi, “Alhmdulillah. ternyata saya masih paraddu (laku) sama kawan-kawan dan masyarakat untuk menjadi caleg yang semoga nanti dapat mewakili suara-suara rakyat di gedung dewan.”
Su’din masih bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah masyarakat yang sudah pernah ditanganainya. Pada intinya, dengan ceritanya itu, dia merasa memang cekatan dan mampu menjadi pengayom dan menjadi penyambung lidah masyarakat dengan pemerintah.
Tapi, tiba-tiba Sahrul menyeletuk, “Kalau begitu, saya tidak mendukung Panjenennan!”
Su’din terheran-heran.
Sahrul: “Lha, bagaimana mau mendukung orang yang gak niat? Tadi sampeyan bilang sebetulnya saya tidak mau mencalonkan diri, tetapi dicalonkan… Ini
Tag: “tidak mencalonkan diri, tetapi mau kalau dicalonkan” adalah pernyataan yang mirip dengan “mengapa pohon-pohon kelapa itu ditebang? Ya, karena kalau dicabut gak ada yang kuwat, Bro!”
Teori Penamaan
“Mengapa disebut Karang Jati? Karena di situ dulu banyak pohon jatinya!”
Demikian ia berargumen, mengacu pada komplek Karang Jati, kediaman Kiai Abdul Basith Bahar. Rupanya, dia ingin meneguhkan “teori penamaan” (kurang jelas, apakah demikian pula yang dikatakan oleh Vladimir Propp?). Akan tetapi, H. Hafid mencoba memancing di air keruh dengan mencoba membantahnya.
“Lho, itu di rosong, di tempatku, banyak pohon jatinya, kok tidak diberi nama Karang Jati?”
“Lha, beda itu,” potongnya, “karena penanaman jati di rosong itu adalah “jati proyek”, beda dengan Karang Jati tempatnya Kiai Abdul Basith!” Dan belum lagi ada orang lain yang menyahut, tanpa mempedulikan keberatan H. Hafid terhadap sanggahannya, Abdul Lathif meneruskan teorinya
“Dadduwi berarti Madunya Kiai Syarqawi; Berca berarti Somber Caca (sumber gosip); Karduluk artinya mekar dan dhuluk (subur)…”
Kini, giliran H. Saiful yang menyanggah, “Begini, Tep. Coba kamu perhatikan Kebun Jeruk, ndalemnya Kiai Naufal itu, mana ada pohon jeruknya? Gak ada, kan?”
Bagaimana jawaban dia?
“Siapa suruh mau diberi nama Kebun Jeruk! Salah sendiri mau dikasih nama begitu! Harusnya kamu menolak, Mister!”
11 Januari 2009
Kecelakaan Lalu Lintas
Konon, meskipun pertumbuhan GDP / pemasukan per kapitanya berbeda, Indonesia, India, dan Italia dapat disamakan dalam hal lalu lintasnya. Katanya si empunya cerita: sama-sama tidak disiplin!
Ini cuma gambaran:
seorang kawan bercerita kalau pada suatu saat, ia mengajak kawannya yang orang Brazil, naik bis ''Restu'' dari arah Malang menuju Surabaya. Si Brazil ini sudah minta ampun dan tobat amit-amit mau turun melihat cara mengemudi bis yang tampaknya lebih hebat daripada Schumi.
Padahal, bis baru nyampe Singosari. Kawan saya itu memenuhi permintaannya. Akhirnya, si Brazil mengajak pindah ke bis yang lain. Eh, sopir bis "Pemudi'', bis yang yang akhirnya dicegatnya itu, juga tak kalah hebatnya.
Akhirnya, mereka berdua tetap naik bis tersebut ke Surabaya. Kawan saya santai saja. Sedangkan si Berhasil ini tidak ''brazil'' menaklukkan ketegangannya: sport jantung Malang-Surabaya.
(Buat K. Naqib Hasan, maaf saya tidak mengganti nama bis Restu dan Pemudi dengan Jawa Indah dan Pelita Mas; buat Pak Darmaningtyas: ''Apakah Instran sudah mengadakan penelitian tentang laka-lantas dan munghubungkannya dengan kecerdasan korban/pengguna jalan?'')
Nah, enaknya gimana, ya? Masyarakat tidak senang antri. Palang pintu kereta api pun diterobos kalau keretanya kelamaan lewat. Bikin SIM pakai "orang dalam" karena males antri (meskipun memang sering tanpa tes), akibatnya; lampu sen/leting yang berkedip-kedip itu pun dikira lampu disko. Gak tau gunanya kalau lampu itu diciptakan agar berguna BAGI ORANG LAIN dan bukan buat diri sendiri. Lampu lalu-lintas (lampun merah) pun diterabas. Setelah kena semprit, sebelum terjadi gencatan senjata atau tilang, berdialog dulu yang enak;
DIALOG I:
Petugas; ''tau apa gunanya lampu merah?''
Pelanggar; ''tau, pak.''
Petugas; ''kok nerobos?''
Pelanggar; ''gak kelihatan soalnya''
Petugas; ''hah?? lampu terang gede merah kayak itu masih gak kelihatan?''
Pelanggar; ''bukan lampunya, pak. Bapaknya yang nggak kelihatan sama saya. Eh, pak, emang dari tadi bapak ada di mana sih?''
DIALOG II (setelah ditilang):
Petugas; ''Hati-hati di jalan. Jangan grusa-grusu.. Keluarga Anda menunggu di rumah''
Pelanggar; ''lha, ya, itulah... Saya ada tamu dari jauh, tadi ditelepon. Makanya terburu-buru, Pak. Saya ditunggu keluarga di rumah..''
