06 September 2010

Iseng dalam Kesimpulan

Beberapa kali saya memperhatikan, saat di Jogja dulu, kalau saya naik sepeda motor di jalan raya, dan pada jam yang sama ada pertandingan tinju dengan tokoh Mike Tyson, jalanan mendadak sepi. Sedikit kendaraan yang berseliweran. Kesimpulan: pertandingan tinju Mike Tyson banyak diminati masyarakat, sehingga mereka lebih senang tinggal di kamar untuk menonton dan menunda rencan kepergiannya.

Pada hari Ahad siang tanggal 19 Ramdhan lalu (24 Agustus 2010), saya pergi ke Pamekasan bersama paman untuk menghadiri sebuah acara. Kami berangkat sekitar jam 2 siang dari rumah. Saya duduk di belakang kemudi mobil sambil memperhatikan arus lalu lintas di jalan; sedikit sekali, dalam hitungan saya, mobil angkutan umum (orang Madura menyebutnya “taksi”) yang saya jumpai di sepanjang ruas jalan raya Prenduan hingga Pameksan. Kesimpulan: kebanyakan masyarakat Madura itu taat berpuasa.

Lalu, Sabtu lalu, tanggal 25 Ramadhan (4 September 2010), saya juga pergi ke Bangkalan bersama rekan-rekan. Kali itu, kami berangkat lebih awal, yakni sekitar jam 1 siang. Saya juga memperhatikan keadaan yang sama; arus lalau lintas di jalan raya yang sepi. Malamnya, habis shalat Isya’ di Kwanyar, kami langsung menuju Kemayoran, sebuah daerah di barat kota Bangkalan. Sepanjang jalan dari Kwanyar ke Bangkalan, yang kami tempuh kira-kira hampir 30 menitan (perkiraan masa taraweh), saya juga melihat situasi jalan yang sama. Sedikit sekali berpapasan dengan kendaraan. Kesimpulan: masyarakat Madura rajin shalat taraweh

KESIMPULAN DARI SEMUA KESIMPULAN:
ini kormeddal, bukan peneltian ilmiyah. Kekuatannya ada pada keisengannya, bukan pada ke-akurat-an datanya.

27 Agustus 2010

Pertanyaan Berbahaya

Ada kisah sedih yang baru saja saya terima dari seseorang. Adalah seorang India yang tinggal dan bekerja di Malaysia yang tega membunuh anak kecil seusia tiga tahun, di sebuah taman mainan. Ia melakukan itu atas alasan yang sepele bagi umum, tapi mendasar bagi dirinya.

Begini kisahnya.

Sebutlah lelaki itu Akhan dan si korban bernama Oci (Dua nama ini rekaan saya). Akhan hidup bersama seorang istri. Sepuluh tahun pernikahnnya dengan sang istri belum juga mendapat karunia anak. Sementara tetangga sebelahnya (karena ia tinggal di sebuah pemukiman, anggaplah itu rumah susun) adalah sepasang suami-istri yang baru menikah dan telah memiliki seorang putra yang lucu, Oci.

Setiap hari, dari balik jendela, atau dari balik dinding kamarnya, Akhan melihat pasangan suami-istri tetangga sebelah itu bermain-main riang dengan putranya, si Oci. Manja sekali kedengarannya. Acap kali Akhan mendengar anak kecil itu cekikian, tertawa tergeli-geli. Di kala Akhan murung karena dituduh mandul, tetangga sebelah justru bahagia bersama putranya; suatu impian yang tidak didapatkan Akhan. Ironis, bukan?

Keadaan ini berlangsung selama berbulan-bulan. Rupanya, tanpa sepengetahuan siapa pun, hati Akhan makin sakit terasa teriris. Hingga pada suatu hari, ia membujuk Oci ke sebuah tempat mainan. Ajakan itu bukanlah untuk memanjakannya, melainkan, sungguh tragis, justru untuk menghabisi nyawanya.

Kisah ini, dari sudut pandang berbeda, mirip kisah Mark Chapman yang tergila-gila pada sang idola, John Lennon. Karena tak tahan atas bayang-bayang si John yang begitu mengusik hari-harinya, Chapman nekat. Ia menembak mati John. Akhan dan Chapman sama-sama mengalami gangguan kecemburuan atas sebuah impian yang tidak tergapai.

Pergolakan batin seseorang yang tidak segera (ulang: “segera”) memiliki keturunan semacam itu juga saya alami selama beberapa tahun. Itulah mengapa, ketika berhadapan dengan seseorang yang baru saya kenal, atau teman yang tidak saya ketahui kabar terakhirnya kecuali ketika dia masih bujangan, saya tidak pernah mengajukan pertanyaan seperti “sudah punya putra berapa?”, dan apalagi guyon menyakitkan seperti “masa sudah lima tahun kok masih belum punya anak?” dan sejenisnya. Karena bagi mereka yang belum (diulang: "belum") dianugerahi keturunan, ucapan macam itu lebih tampak sebagai tamparan dan caci maki daripada sebuah pertanyaan biasa.

Ya Allah, sesungguhnya, semua itu adalah rahasia-Mu. Tanpa kehendak-Mu pula, tak ada kekuatan semena-mena apa pun yang dapat membuatnya menjadi nyata.

20 Agustus 2010

Hadrah ala Ahmad bin Ta'lab

Di Madura, khususnya di daerah saya (Sumenep), pembacaan shalawat nabi pada acara-acara tertentu selalu diiringi dengan pemukulan hadrah. Pemukulan hadrah biasanya dilakukan setelah pembacaan “shalawat bil julus” (dibaca sambil duduk, karena saat pemukulan hadrah semua hadirin berdiri). Hadrah sangat utama pada acara penting, seperti walimatul ursy, maulid nabi, dan molang are (selamatan anak yang baru lahir).

Nah, jika Anda penggemar hadrah, khususnya genre hadrah ala Sumenep-an, maka ia akan mengacu kepada sebuah nama yang sangat populer, yaitu Yik Ahmad bin Ta’lab. Beliau msayhur sebagai tokoh hadrah/rebana tidak saja di daerahnya (Sumenep), melainkan hingga ke beberapa tempat di daerah tapal kuda, yaitu Madura dan daerah pesisir Jawa bagian timur.

Hingga saat ini, hadrah masih populer di masyarakat. Namun, gempuran industri musik pop yang tak terelakkan telah menciptakan pergeseran selera pendengar dan pemain. Kesenian ini kiranya mulai menjauh dari leluri leluhurnya. Terbukti, kini, mudah ditemukan kaset dan cakram gambar bergerak yang berisikan “hadrah koplo”. Jika didengar sepintas, hadrah jenis ini lebih mirip dangdut yang diiringi hadrah dan bukan sebaliknya.

Sedikit di antara yang banyak, tersebutlah Mushawwir. Ia merupakan salah satu didikan Ahmad bin Ta’lab yang tetap berpegang teguh untuk tetap memainkan hadrah seperti yang ia dapat dari gurunya itu. Tentu, perubahan dan modifikasi, sedikit banyak pasti ia lakukan, tapi perubahan yang tidaklah mendasar. Video berikut ini menunjukan penampilan Mushawwir di langgar Al-Furqan, Sabajarin, Guluk-Guluk, Sumenep. Video diambil 8 Maret 2010.



Jika Anda berminat untuk menonton video ini sampai selesai, silakan tonton versi aslinya di YouTube

13 Agustus 2010

Ibadah yang Tenang

Suara tadarus Alquran di bulan suci terdengar di mana-mana. Pengeras suara, di bulan Ramadhan ini, berbunyi tidak saja pada jam-jam azan. Sehabis tarawih, umumnya, suara tadarus Alquran terdengar di mana-mana, ke mana-mana. Bahkan, tak jarang kutemukan, di tempat-tempat yang jauh, suara itu terus berkumandang sampai larut malam, bahkan hingga menjelang saat bersahur.

Di mushalla rumahku, hal semacam ini juga berlangsung selama bertahun-tahun. Meskipun yang mendaras Alquran tidak banyak, namun dari jumlah yang sedikit itu, yang patut diacungi jempol adalah kesiapan mereka untuk duduk bertahan di depan kitab suci Alquran selama berjam-jam.

Namun, sejak tahun yang lalu, atas permintaan beberapa pini sepuh, lantunan orang yang mendaras Alquran akhirnya tidak lagi dikumandangkan melalui loud speaker yang umumnya digantung di tiang penyangga khusus, atau menara. Alasannya, suara yang keras bukan tidak mungkin akan mengganggu ketengangan warga sekitar, apalagi jika salah seorang tetangga mushalla ada yang sakit dan butuh ketenangan.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) amplop (1) Andes (1) Android (1) anekdot (3) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (5) bahsul masail (1) baju baru (1) baju lebaran (1) Bambang Hertadi Mas (1) Bangkalan (1) bani (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) bau badan (1) bau ketiak (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bhasa Madura (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) Blega (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) bromhidrosis (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) budaya (1) buku (2) buruk sangka (2) catatan ramadan (4) celoteh jalanan (1) ceramah (1) chatting (1) chemistry (1) cht (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) corona virus (1) Covid 19 (1) cukai (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) durasi waktu (1) durno (1) ecrane (1) etiket (17) fashion (2) feri (1) fikih jalan raya (1) fikih lalu lintas (1) fiksi (2) filem (1) flu (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) guyon (1) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) horeg (1) humor (2) IAA (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) inferior (1) jalan raya milik bersama (1) jamu (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) jual beli suara (1) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalisme (1) jurnalistik (3) KAI (1) kansabuh (1) Karamaian (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kasokan (1) kebiasaan (5) kecelakaan (2) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) kereta api (1) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (3) KPK (1) kuliner (2) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lakalantas (1) lampu penerangan jalan (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) MC (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mimesis (1) mirip Syahrini (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) nahas (1) napsu (1) narasumber (1) narsis (1) Natuna (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pandemi (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) penata acara (1) pendidikan (1) pendidikan sebelum menikah (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) penyerobotan (1) Pepatri (1) perceraian (2) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) perjodohan (1) pernikahan (1) persahabatan (1) persiapan pernikahan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) Pondok Pesantren Sidogiri (1) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (5) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) rasa memiliki (1) rekaan (1) rempah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rokok durno (1) rumah sakit (1) Sakala (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) santri (1) sarwah (1) sastra (1) screenshot (1) sekolah pranikah (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturahmi (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) stereotip (1) stigma (1) stopwatch (1) sugesti (1) sulit dapat jodoh (1) Sumber Kencono (1) Sumenep (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (2) syawalan (1) takhbib (1) taksa (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tengka (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (28) The Number of The Beast (1) tirakat (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi (1) tradisi Madura (4) transportasi (1) ustad (1) wabah (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog