27 Mei 2009

Karcis

Barangkali, pengalaman ini juga sering Anda alami: setiap keluar dari area parkir, saya merasa betapa karcis parkir nyaris tidak ada gunanya lagi. Mereka, para jukir itu, menarik uang, mulai dari Rp500 hingga Rp1.000 tanpa perlu menyerahkan karcis kepada kita. (biasanya, baru untuk tarip parkir di atas 1000 rupiah yang ada karcisnya).

Pengalaman gerah soal karcis ini bermula ketika saya hendak menyeberang di dermaga Ujung-kamal. Waktu itu hujan deras. Sementara itu, dermaga I dalam tahap perbaikan. Beberapa calon penumpang dialihkan ke dermaga darurat yang cause way-nya direkayasa dari sebuah kapal ferry Ro-Ro yang dipatok dan disandarkan ke pelabuhan. Dengan cara itu, ferry pengangkut dapat menaikkan/menurunkan kendaraan melalui dari ferry Ro-Ro yang dimodifikasi itu.

Waktu itu hujan deras, para calon pemumpang berseliwer, tergesa-gesa, juga panik karena hujan mendadak turun dan deras menderu. Bahkan, saat membayar uang tiket kapal untuk 1 mobil roda empat dengan 5 penumpang, saya tak diberi karcis. Tetapi, untunglah saya sempat memintanya kembali kepada petugas meskipun saya harus turun kembali dari mobil yang telah diparkir di dalam ferry dengan resiko basah kuyup terkena hujan.

(Dalam hati saya membatin, betapa banyak orang yang membayar ongkos penyeberangan dan tidak meminta karcis? Wah, pada ke mana tuh uangnya? Tidak jelas, kan?)

Tetapi, ini masih mending:

Kisah serupa terjadi di tempat yang sama, pada waktu berbeda. Persiotegngan terjadi satui-lawan satu antara calon penyeberang yang ngotot meminta uang kembalin Rp300 melawan petugas retribusi yang kawannya banyak dan dianggap telah menyepelekannya.

Alaah, Pak haji, tiga ratus rupiah saja kok diminta..”

Orang tua berpeci haji itu mencak-mencak dan marah besar. Katanya, “Saya bukannya kikir. Ngasih Anda sepuluh ribu pun saya oke. Tetapi cara Sampeyan ini yang gak betul! Ng├ęco’ (artinya: mencuri/korupsi)! Mana, kembalikan uang kembalian saya, 300!”

Petugas itu bersungut-sungut tanpa perlawanan, entah mangkel entah nyadar.


Saya merasa baik setelah tiket penumpang untuk penyeberangan sekali jalan Ujung-Kamal kini menjadi Rp3.700 (setelah sebelumnya Rp 4.000). Bayangkan, saat dulu tiket ini ditarip Rp 1.950 per penumpang. Nah, pada pergi ke mana tuh uang Rp.50,-an untuk uang kembalian dari setiap dua lembar uang ribuan yang dibayarkan? Sungguh hampir mustahil ada orang membayar 1.950 dengan uang pas. Yang lumrah mereka membayar 2 ribu rupiah dan terus melenggang. Bayangkan jika terjadi korupsi Rp.50 dalam setiap 5 detik, tinggal kalikan saja selama 24 jam, kalikan lagi selama sepekan, kalikan lagi, kalikan lagi...


9 komentar:

partelon mengatakan...

Merespon papakon...

Jika setiap 5 detik terjadi pencopetan yang nyata se-BESAR Rp. 50,- maka:

dlm 1 menit (50x60:5)= 600,-
dlm 1 jam (600x60)= 36.000,-
dlm 12 jam (36.000x12)= 432.000,-
dlm 24 jam (36.000x24)= 864.000,-

Nyaris 1 juta, Men!!!

Tapi, jgn2 gara2 kalkulasi ini, yang tergoda 'kegenitan' artikel di atasnya, pendaftar profesi tukang karcis jadi membludak yak? :)

partelon mengatakan...

Ra, apakah tidak ada rencana bagi2 "wa bil fa-i fauzan wa falahan" pada komentator paling rajin? :)

partelon mengatakan...

ca' madhuyenah: mintaa peccenah caya... (sambil bergerak ala Bruce Lee:, "woaaaa", "ooooh", lalu menyingsingkan celana di bagian pangkal paha, sebelum mengusap ujung hidung dengan jempol dan berseru keras: ERSY!)

Dinoe mengatakan...

Benar juga ya sob...jika 50 x sekian,wah lumayan juga.,nice post..salam,

Ijoroyoroyo mengatakan...

Hikmah, yang cerah...

Gurnying mengatakan...

Memberi kesempatan parapencopet, maling, pejabat untuk beraksi dengan dalih membuka lapangan pekerjaan, demokrasi.
Memberi kesempatan pada pelanggar etika dengan dalih mencerdaskan bangsa, mmembuka keterbukaan pikiran, al-akhdu bi-al-jadid al as-lah, sementara kesiapan mental manusia menjadi urutan pembenahan nomor xxxx, inilah penyebabnya, saya kira

M. Faizi mengatakan...

kemarin saya saya markir di jalan jokotole, Pamekasan. bgt mau pergi dan minta karcis, pak jukir masuk ke sebuah warung utk ngambil karcis, lamaa...sekali, krn dia tdk menyimpannya di tas pinggang.
Jangan2, betul-2 jarang orang yang minta karcis parkir, bgt pikirku.
@ Partelon: Qemb!
@ Dinoe: salam kenal
@ Gurnying : ya, betul-betiul gurnying

M. Faizi mengatakan...

@ Ijo: trims jika kisah itu ada hikmahnya...

Ijoroyoroyo mengatakan...

Terimakasih juga.

Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (2) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) basabasi (1) batuk (1) becak. setiakawan (1) belanja ke toko tetangga (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) bolos (1) bonceng (1) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) celoteh jalanan (1) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (5) defensive driving behavior development (1) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) fiksi (1) filem (1) gandol (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) Hiromi Sinya (1) humor (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jalan raya milik bersama (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) kenangan di pondok (1) Kendaraan (2) keselamatan (1) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) laka lantas (1) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makan (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) musik (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pasar (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) penerbit basabasi (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) PLN (1) pola makan (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) PP Nurul Jadid (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rock (1) rokok (1) rumah sakit (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) soto (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) TDL (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (24) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog