Di sebuah lajur, di kota kabupaten, terdapat beberapa deretan mobil diparkir paralel. Ada pula beberapa orang yang berjalan kaki di atas aspal karena trotoarnya tidak bisa lagi leluasa untuk digunakan karena ditempati pedagang kaki lima. Ketika itu, sebuah becak melaju. Posisinya pun jadi agak ke tengah karena mendahului para pejalan kaki yang juga agak ke tengah karena ada mobil-mobil yang parkir. Roda kanan becak itu bahkan melewati garis marka.

Beberapa puluh meter di belakang becak, ada sebuah mobil. Ketika sudah dekat, mobil mengerem sebab posisi becak masih di tengah. Lajur kanan di memang kosong tetapi mobil tidak bisa melaju karena ada becak di depannya dan terhalang separator. Mobil membunyikan klakson panjang. Tujuannya adalah agar becak segera minggir, padahal itu itu jelas tidak mungkin karena posisi becak juga sedang mendahului orang-orang yang sedang berjalan dan mobil yang diparkir.

Inilah contoh “membuang klakson ke sembarang telinga”. Memang cuma merenungkan penciptaan jagat raya saja yang harus mikir? Mencet klakson pun juga perlu berpikir, Bro!

Karena ketika kita membunyikan klakson itu merupakan pertanda bahwa kita sedang butuh perhatian dari orang lain, maka mari kita berpikir bahwa orang lain itu juga membutuhkan perhatian kita. Kurangi sifat arogan dengan cara tidak terlalu sering minta perhatian orang lain. Berikan sikap mengayomi dengan cara tidak terlalu sering minta perhatian, seperti ngebut di jalan sempit atau padat dan ramai sambil membunyikan klakson bertubi-tubi. Orang-orang itu jelas tidak suka jika disuruh mendengarkan bebunyian yang tidak merdu itu: bunyi klakson.


Labels: ,




Hubungan SMS dengan Homofon

Rabu, April 23, 2014


“Coba kamu SMS, tanyakan di mana lokasinya?”
“Lah, tadi kan sudah jelas dalam telepon, dekat tambal ban Torbang.”
“Coba SMS saja, biar pasti, sebelah mananya masjid Torbang, gitu?”
“Wah, sudah jelas, kok, Kak. Ditelepon lagi saja agar lebih jelas dan pasti, daripada SMS masih harus balas-balasan.”

Demikianlah sedikit ngotot-ngototan saya dengan istri.

Tak lama kamudian, ada telepon masuk. Tapi, sungguh saya kaget karena dikabarkan bahwa saya telah kebablasan. Tempat yang disepakati sebagai tempat saya bertemu dengan seseorang itu ternyata sudah lewat.

Telepon dari seberang:
“Tadi, kawan saya itu melambai-lambaikan tangannya saat Sampeyan lewat di dekatnya. Namun, Sampeyan bablas saja katanaya.”
Saya membalas:
“Torbang, to? Ini, Lenteng saja masih belum. Tentu saja saya tidak memperhatikan dia karena Torbang masih jauh, masih sekitar 8 kilometer lagi.”

Saya menepikan kendaraan, menelepon lagi orang itu, saudara jauh yang hendak mempertemukan saya dengan temannya di sebuah tempat yang lokasinya adalah “pertigaan, jalan kecil, dekat tambal ban”. Ah, terasa repot menentukan sebuah lokasi dengan ancer-ancer yang sangat mungkin berubah di zaman orang-orang sudah mengetahui alamat dengan kordinat.

Setelah 3 menitan menunggu, si temannya saudara itu pun datang. Rupanya, dia menyusul dengan sepeda motor. Saya bertanya, “Kok bisa tadi bilang Torbang padahal Torbang itu adalah nama desa di dekat Kota Sumenep?”
Dia tersenyum sambil menjelaskan, bahwa “Torbang” yang dimaksud adalah nama spot tempat dia menunggu.
“Dulu,” katanya sambil tersenyum, “Di sana ada sebuah kantor bank daerah. Orang-orang menyebutnya TOR BANK, kependekan dari ‘kantor bank’, begitu…”

Saya tertawa dan senang karena di dalam pikiran langsung muncul gagasan untuk membuat tulisan dengan tema soal homonim, ya, tulisan yang Anda baca ini. Dan sekarang, jika paragraf-paragraf di atas itu dijadikan sebuah narasi dalam ujian, akan muncul sebuah pertanyaan: ‘apa saja pelajaran yang dapat dipetik dari kasus di atas?’.

a) Kebiasaan memangkas kata (menggunakan sebagian sukukata), seperti juga terjadi pada STNKB menjadi STNK dan menjadi STN
b) homofon bisa membuat salah alamat
c) Terkadang, SMS (tulisan) lebih jelas daripada telepon (lisan)
d) Memperkenalkan nama (tempat) yang tidak populer kepada orang yang tidak yakin mengetahinya adalah payah


Labels:




Bencana Kemanusiaan dalam Pemilu

Rabu, April 09, 2014


Ungkapan “menerima serangan fajar”, “mana duitmu, ini suaraku”, atau “NPWP (nomor piro wani piro)” yang semua itu dimaksudkan sebagai guyonan atau lelucon satir menjelang pemilu begitu marak di jejaring sosial, bahkan ada pula yang dipasang di tempat umum. Bahwa suara dapat dibeli kini bukan lagi menjadi rahasia. Idealisme yang dulunya suci pun, kini, menjadi profan. Suara tak ubahnya sayur dan lauk-pauk di pasar tradisional yang bisa ditawar.

Ya, memang benar, semua ungkapan di atas (atau sejenisnya) hanyalah guyonan, sebuah kritik nan satir, hanya main-main. Itulah yang tersurat, namun yang tersirat tidaklah demikian. Redaksi frase/kalimat di atas yang mengandung unsur ‘tantangan namun main-main’ itu tampaknya bisa berubah menjadi sungguh-sungguh dalam situasi dan konteks yang juga berubah-ubah. Begitu seringnya teks itu muncul dan terbaca, sedikit banyak, tanpa disadari akan menciptakan persepsi dan pengaruh pada masyarakat yang melihat/membacanya. Apa bukti? Kini, masyarakat semakin permisif terhadap jual-beli suara, menyepelekan, dan bahkan tanpa merasa bersalah lagi jika menjual suara mereka untuk orang/wakil yang sebetulnya tidak mereka ketahui kapasitasnya, idealismenya, watak dan kepribadiannya, dan seterusnya.

Dibandingkan sekadar menerima uang untuk suara, sifat dan sikap permisif (dalam hal ini menganggap sogokan dan suap serta beli suara sebagai sesuai yang biasa) merupakan “salah di atas kesalahan”. Inilah musibah besar kemanusiaan. Harapan untuk untuk memperoleh wakil kita di parlemen selama 5 tahun ditukar dengan harga semangkok bakso atau setara dengan uang belanja dapur selama 1 hari. Sadis, bukan?

Berharap kepada seseorang yang akan menjadi wakil kita dalam menyampaikan ‘suara hati’ untuk kemakmuran dan keadilan itu haruslah ada, bahkan andaipun mereka akan berkhianat. Berharap agar mereka jujur atau bertobat setelah berdusta adalah obat pada saat tak punya harapan sama sekali adalah penyakitnya. Dan, pada saat kita memilihnya “hanya karena uang” dengan tanpa mempedulikan lagi siapa, visi-misi, serta kepribadiannya, maka itu artinya kita telah mengubur harapan ke dalam jurang putus asa yang dalam, jurang yang gelap dan tanpa penolong, kecuali kita sendiri yang sejak awal tak mau melakukannya.


Labels: ,




Entri Populer

Shohibu-kormeddaL

Foto saya

Saya adalah, antara lain: 6310i, R520m, Colt T-120, Bismania, Fairouz, Wadi As Shofi, Van Halen, Puisi, Hard Rock dll

Internet Sehat Blog Award

Internet Sehat

Pengikut

Label

666 (1) Abdul basith Abdus Shamad (1) adi putro (1) adsl (1) Agra Mas (1) air horn (1) akronim (1) Al-Husari (2) alih media (1) Alquran (1) Andes (1) Android (1) anekdot (1) aula asy-syarqawi (1) Bacrit (2) bahasa (3) Bambang Hertadi Mas (1) banter (1) Basa Madura (1) becak. setiakawan (1) benci (1) bis (3) bismania (2) BlackBerry (1) blogger (2) bodong (1) bohong (2) Buang Air Besar (BAB) (1) buat mp3 (1) buku (2) buruk sangka (2) chatting (1) chemistry (1) Cicada (1) Colt T 120 (1) curhat (4) dering (1) desibel (2) diary (1) ecrane (1) etiket (16) fashion (1) feri (1) filem (1) gaya (1) ghasab (1) google (1) guru (2) hadrah (1) handphone (1) Hella (1) hemar air (1) ibadah (2) identitas (1) ikhlas (1) indihome (1) jembatan madura (1) jembatan suramadu (2) jenis pekerjaan (3) jiplak (2) Jujur (3) Jujur Madura (1) jurnalistik (2) kansabuh (1) karcis (1) Karina (1) Karma (1) Kartun (1) kebiasaan (5) kehilangan (1) Kendaraan (2) khusyuk (1) kisah nyata (7) Kitahara (1) kites (1) klakson (1) klakson telolet (1) kode pos (2) kopdar (2) kopi (1) kormeddal (19) korupsi (2) kuliner (1) L2 Super (2) lainnya (2) lampu sein (1) layang-layang (1) lingkungan hidup (3) main-main (1) makanan (1) malam (1) mandor (1) Marco (1) masjid (1) Mazda (1) menanam pohon (1) mengeluh (1) menulis (1) mikropon (1) mitos (1) modifikasi (1) money politic (1) Murattal (1) napsu (1) narsis (1) ngaji (1) niat (1) Nokia (1) nostalgia (2) Orang Madura (1) Paimo (1) pangapora (1) paragraf induktif (1) parfum (1) partelon (1) pekerjaan idaman (1) pemilu (1) peminta-minta (1) pendidikan (1) pengecut (1) penonton (1) penyair (1) Perempuan Berkalung Sorban (1) perja (1) persahabatan (1) pertemanan (1) pidato (1) plagiasi (2) plastik (1) poligami (1) polisi (1) politik (1) polusi (1) polusi suara (2) ponsel (2) popok (1) popok ramah lingkungan (1) popok sekali pakai (1) preparation (1) profesional (1) PT Pos Indonesia (1) puasa (3) publikasi (1) puisi (2) pungli (1) Qiraah (1) ringtone (1) rokok (1) salah itung (2) salah kode (3) sanad (1) sandal (1) sarwah (1) sastra (1) senter (1) sepeda (3) sertifikasi guru (1) sertifikasi guru. warung kopi (1) shalat (1) shalat dhuha (1) silaturrahmi (1) siyamang (1) SMS (1) sogok bodoh (1) sopir (1) sound system (1) sugesti (1) Sumber Kencono (1) suramadu (1) syaikhona Kholil (1) tamu (2) Tartil (1) teater (1) teknologi (2) telkomnet@instan (1) tepat waktu (1) teror (3) tertib lalu lintas (21) The Number of The Beast (1) tiru-meniru (1) TOA (2) tolelot (1) Tom and Jerry (2) tradisi Madura (3) ustad (1) workshop (1) Yahoo (1) Yamaha L2 Super (1)

Arsip Blog