Respek adalah menaruh hormat. Respons adalah tanggapan, jawaban. Keduanya berasal dari English, respect dan response. Jika respek dan respon dibuat satu paket, maka jadilah ia bentuk tindakan untuk dua hal. Saya membuatnya sebagai sebuah konsep dalam bersikap. Saya menjelaskannya kepada para siswa SLTA. Supaya mudah, sebut saja ia “RR”.
Untuk mendedah, saya harus memulai penjelasan dengan meneguhkan posisi manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia tidak mampu hidup sendirian. Mereka harus berinteraksi, harus berkomunikasi, harus saling menanggapi. Hanya dengan cara seperti itulah mereka dapat mempertahankan kemanusiaannya, dapat hidup normal sebagai manusia. Tanpa sikap itu, manusia mirip robot yang bisa bergerak dan bekerja namun tanpa perasaan.
Masalah-masalah yang timbul dalam hubungan timbal balik antar-manusia atau antara manusia dengan lingkungannya diawali dari titik ini: RR. Ketika nilai sosialnya menipis, maka menipis pula respek seseorang yang artinya akan demikian pula responsnya. Kemenipisan sikap ini dimulai oleh munculnya satu energi berlebih (surplus energi) dalam diri seseorang sehingga ia merasa superior lalu memandang yang lain inferior. Ia merasa mampu, mandiri, lalu terbitlah arogansi. Ini bukan sekadar contoh bagi orang kaya dalam memandang orang miskin, bahkan bisa terjadi dalam pandangan orang pintar terhadap orang bodoh atau pada cara orang suci dalam melihat para fasik atau pendosa.
Arogansi adalah titik puncak dari anti-respek dan anti-respons. Arogansi dapat dimaknai sebagai hilangnya kemendalaman dan naiknya kewadagan dalam melihat dan terlibat dalam kehidupan. Semua tampak instan. Semua tampak jasmaniah, tidak perlu permenungan, seperti menimbang tanpa tafakur.
Sekarang, kita harus sepakat untuk satu hal, bahwa semua bentuk arogansi itu hanyalah keuntungan di satu pihak dan kerugian di pihak lain. Pada tahap berikutnya, kerugian di pihak lain pada dasarnya adalah kerugian pada diri sendiri dalam jangka panjang namun tidak segera disadari karena prosesnya lama.
Oleh sebab itu, untuk menjaga marwah kemanusiaannya, seseorang harus menjaga diri dari sikap ini, arogansi. Atas dasar itulah saya membuat program ini berjalan di sekolah-sekolah terdekat, dikhususkan untuk sekolah lanjutan atas (SMA, MA, SMK, dll). Saya menyampaikan materi ini di momentum singkat apel pagi. Dengan cara itu, kita dapat memanfaatkan kegiatan sosialiasi tanpa perlu banner, tanpa perlu minuman, tanpa perlu ruangan khusus, tanpa biaya besar untuk menyewa gedung, tanpa harus molor, dan hal-hal teknis lainnya.
Dalam pada itu, saya mengajak hadirin (pada siswa) untuk mengurai satu demi satu hal-hal yang terlewat dalam hidup keseharian kita, hal-hal penting yang tampak remeh, hal-hal ringan yang sebetulnya sangat prinsip dan berdampak banyak pada kehidupan kita sebagai makhluk sosial. Hal-hal remeh ini adalah pemicu awal arogansi yang sayangnya sulit kita sadari. Berikut ini contoh-contoh yang saya sampaikan.
Jika kamu tadi melintas di lorong sekolah lalu masuk ke dalam kelas dan ditanya, “Apakah tadi kamu melihat lampu pagar masih menyala?” namun kamu tidak menyadarinya, maka kamu berarti “tidak respek”. Artinya, kamu tidak peduli terhadap lingkungan di mana kamu hidup di situ setiap hari. Akan tetapi, jika jawaban kamu adalah “Iya, saya melihatnya”, tapi kamu hanya melihat namun kamu melintas saja, maka itulah yang disebut “respek”, dan jika kamu menekan saklar lampu itu, memadamkannya, karena tahu tukang kebun datang terlambat atau lupa, nah, itulah dia “respons” sebab kamu tahu bahwa lampu pagar yang menyala pada pukul 7 pagi di saat matahari sudah setinggi gedung sekolah itu adalah sia-sia.
Contoh yang lain yang saya sampaikan adalah “parkir di depan pintu gerbang sekolah dengan alasan cuman sebentar”. Jika kamu respek terhadap orang-orang yang akan merasa terganggu saat akan masuk karena ada sepeda motormu, maka kamu akan merespons tindakanmu sendiri dengan memindahkan sepeda motormu ke tempat yang aman, yang sekiranya tidak mengganggu orang lain. Kamu telah berpikir, menimbang, memutuskan (dalam waktu 2 atau 3 detik saja) bahwa “boleh jadi dalam momentum sebentar itu akan ada orang yang lewat”, misalnya kamu parkir hanya 1 menit namun muncul orang yang akan masuk pada detik ke 30.
Banyak sekali contoh seperti ini di dalam hidup keseharian, bahkan sangat banyak. Semuanya tampak receh, remeh, tapi ia sangat mengganggu, menumpuk, lalu diikuti oleh orang lain, diikuti oleh kebanyakan, lalu jadilah ia kebiasaan buruk bersama-sama, kebiasaan orang satu kampung, satu desa, hingga pada akhirnya jadi kebiasaan kita bersama. Contohnya? Pikir saja sendiri, banyak sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar