Perempatan Mangli, sebuah perempatan yang terletak di sebelah barat kota Jember, adalah perempatan paling—konon kata si warga lokal—menakutkan. Perempatannya lebar secara visual dan kenyataan, tapi untuk terlepas dari kemacetannya seorang pengemudi mobil bisa harus nunggu 4-5 kali ganti lampu merah. Entah mengapa volume kendaraan banyak sekali di perempatan ini. Saya menduga karena akses arah ke selatan, ke Jenggawah, relatif sempit padahal merupakan jalan wajib bagi kendaraan besar yang dilarang masuk kota.
Saya menyadari keadaan ini di bulan Februari tahun ini, 2026. Dulu, saya tidak menyadarinya. Bisa jadi ia disebabkan karena saya memang tidak menyadarinya atau karena selalu kebetulan untung tidak berjumpa macet horot seperti beberapa hari lalu itu. Alasan lain mungkin karena saya bukan warga Jember sehingga terjebak macetnya hanya setahun sekali atau bahkan dua tahun sekali. Lagi pula, seingat saya, saya lewat perempatan Mangli tersebut biasanya di waktu bukan jam sibuk atau malah sebelum Subuh saat volume kendaraan masih sangat sedikit yang melintas.
Yang menyeramkan dari perempatan ini adalah karena jika kita datang dari arah dari utara, dari Gebang atau Dukuh Mencek, kita akan menghadapai rel kereta api yang melintang di dekat perempatan tersebut. Di situ, lampu APILL-nya sampai harus dipasang di dua tiang: di utara palang kereta dan di sebelah selatannya. Konon, pernah suatu kali ada mobil Carry yang terseret kereta api sampai ke stasiun terdekat, namun untung semua penumpang selamat.
Saya mendengar, ada wacana akan dibuat jembatan layang (flyover) di situ. Tujuannya adalah agar kemacetan jauh berkurang terutama di saat ada kereta api lewat, seperti pembangunan jembatan layang di Janti, Jogjakarta, yang kemacetannya terbukti jauh berkurang setelah adanya pembuatan jembatan layang. Masalahnya, Jember saat ini sedang bermasalah. Kata si kawan, antara bupati dan wakilnya sedang tidak baik-baik saja, padahal baru saja mereka dilantik tidak lama ini. Nah, bagaimana mungkin akan membangun sebuah kota, apalagi kabupaten, di saat pucuk pimpinannya sedang baik-baik saja? Bisa, sih, iya, tapi coba bayangkan bagaimana pendapat anak-anak yang mungkin tetap bisa tumbuh dewasa namun diasuh oleh ayah-ibu bertengkar setiap hari?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar