Tadi pagi saya bayar pajak kendaraan yang angka akhirnya 77.000, tapi petugasnya bilang, “Sekian, sekian, 80.000…”. Saya pun membayar dan mendapat kembalian 20.000. Saya pikir, tarif pajaknya naik 3000 dibanding tahun lalu. Akan tetapi, setelah saya pergi dan mengeceknya kembali, barulah saya sadar kalau angka terakhir pajak yang terbayar adalah 78.000 (naik 1000 rupiah ketimbang tahun lalu), jadi bukan 80.000.
Sebetulnya, saya mau komplain dan menagih kembalian Rp2000 itu (saya pernah melakukan hal seperti ini di retribusi pelabuhan dan tiket kapal feri). Sayangnya, saya sudah terlanjur pergi dari depan petugas yang secara aturan biasanya tidak diperbolehkan ada komplain lagi. Bagaimanapun, 2000 itu harus saya ikhlaskan, ikhlas tapi terpaksa.
Saya benar-benar prihatin! Bagaimana begitu tidak berharganya Rp2000 di hadapan mereka! Betapa mudahnya mengambil uang orang lain tanpa merasa bersalah hanya karena ia berjumlah 2000. Mengapa saya yakin pola ini sistematis? Karena tidak ada permaafan, tidak ada permakluman, semisal ‘Maaf, Pak, kembaliannya tidak ada, biar kami bulatkan saja, ya!’ atau kalimat yang lain yang mirip sehingga jelas ijab-qabulnya. Yang ini mah main ambil saja.
Ternyata, setelah tiba di rumah, saya malah dapat tambahan cerita kalau pola-pola seperti itu banyak terjadi di mana-mana, seperti saat menimbang beras, misalnya. Dalam proses menimbang beras, sering kali pembeli beras (yang punya toko) menyebut angka di depan komanya, sementara di belakang koma dianggap tidak penting. Kurir paket konon juga ada yang demikian. Mereka membuat pembulatan secara karepe dhewe tanpa dikonfirmasi dulu terhadap pembeli. Celakanya, yang seharusnya dirugikan malah tidak merasa dirugikan, kalau menuntut ujung-ujungnya malah dianggap pelit atau terlalu perhitungan.
Segitu buruknyakah hukum dan nasib kita di sini, sehingga yang benar terkadang harus relah seperti yang bersalah untuk sekadar meraih kebenarannya?
Ini bukan soal 2000, tapi soal komitmen, soal kejujuran. Sikap tidak jujur yang dimulai dari 2000 akan mudah merebak ke angka 200.000 dan seterusnya. Lebih tidak dapat dibayangkankan lagi jika uang-uang dari sumber tidak jelas itu harus diberikan kepada anak, cucu, kepada istri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar