25 Maret 2009
TRANSPARANSI
Anggaran dana ini perlu juga dijadikan rujukan. Dengan tanpa ragu-ragu, biaya cabis untuk sarang atau "tolak hujan" bagi sang pawang, juga ditampilkan
24 Maret 2009
Berita Bernasib Malang
Sang wartawan menulis berita bertema lingkungan hidup. Dia menulis "green force", padahal maksudnya "green peace" (saya ngerti karena yang pertama itu julukan Persebaya, sedang yang terakhir LSM).
Di lain kesempatan, pada berita tentang terbaliknya sebuah kapal cepat di perairan Sepudi (?), dalam berita tertulis "speed board" untuk "speed boat" (tahu, kan? Yang pertama itu papan luncur beroda, sedangkan yang kedua itu terjemahan Inggrisnya kapal cepat).
Lagi-lagi, wartawan bernasib malang ini menulis berita ringan tentang kegemaran remaja zaman sekarang dalam hal memodifikasi sepeda motornya. Dia menulis "shock biker" pada saat tidak seharusnya dia bermain plesetan pada frase "shock breaker".
Semua ini, dalam sementara anggapan saya, disebabkan oleh dominasi budaya nguping. Akibatnya, nulis berita pun kormeddal alias waton alias kor-ngocol alias asmuni (asal muni) alias asbun (asal bunyi). Berita pun menentang hukum berita: peristiwa terjadi di lapangan, bukan di meja redaksi.
WASPADALAH!!
Hati-hati dengan mazhab kormeddal. Karena kormeddal seperti senjata: berbahaya hanya di tangan yang tidak berpengalaman!
21 Maret 2009
PEMILU: 10 TAHUN YANG LALU
Menurut Aploh, cerita pendek ini tidak dimuat di rubrik budaya koran minggu, tapi benar-benar terjadi di sebuah TPS, pada Pemilu 1999 yang lalu:
“Mbah, kok lama?”
Dari bilik suara, seorang kakek-kakek yang hanya kelihatan kopyahnya tidak menoleh sedikit pun ke arah sumber panggilan. Si Embah ini sudah sangat lama berada di dalam bilik. Ukuran lamanya tentu jika diitung dengan waktu yang seharusnya dihabiskan untuk hanya sekadar mencoblos. Paling-paling, tidak sampai setengah menit,
“Mbah, sudah?”
“Sebentar, tinggal sedikit lagi. Nih saya coblos semua, satu-satu, kok sulit rasanya, ya?!!”
semoga, pemilu 9 April 2009 medatang tidak banyak terjadi kesalahan dan penipuan
Diskusi dan Debat
DISKUSI adalah tukar pendapat, berbagi ide untuk menemukan kesimpulan. Jika santai, maka diskusi dapat berlangsung tanpa moderator. Jika diskuis ilmiah, biasanya diskusi dipandu oleh seorang moderator. Moderator berfungsi sebagai pengatur lalu lintas arah pembicaraan.
Sedangkan …
DEBAT: juga berarti tukar pendapat, tetapi cenderung lebih mengutamakan adu argumen yang logis, memiliki acuan. Sedangkan "KUSIR", disebut juga sais, adalah pengemudi/sopir dokar (roda dua) atau andong (roda empat). Di suatu kantor polisi resor, tahun 1997 dulu saat ambil SIM A pertama kali, saya lihat ada brosur SIM-D, SIM untuk sais. Sekarang kok gak ada saya tidak tahu.
DEBAT KUSIR adalah kumpulan dua kata (debat dan kusir) yang telah memiliki makna baru; disebut frase. Debat jenis ini biasanya cenderung mengedepankan argumen dan kurang mempedulikan simpulan. Ciri-cirinya: 1.mengabaikan moderator; 2.tensi tinggi; 3.kata-kata yang sering terlontar antar lain adalah "pokoknya", dst. Debat kusir bukanlah debat yang direncanakan. Ia muncul di tengah perjalanan. Sejenis 'ashi fis safar, maunya pergi ziarah/silaturrahmi, tapi karena ada bis yang diparkir sendirian lengkap dengan kunci kontaknya, dicurilah bis itu (Curanbis). Debat kusir umumnya muncul karena salah satu penyaji/pemateri tidak memperhatikan tata tertib, seperti berjidal dengan alasan yang tidak masuk akal, keluar konteks, disertai pemojokan, dan bahkan bisa sampai pada ancaman kekerasan (fisik).
Ciri lain dari debat kusir adalah: argumen-argumen yang dipertaruhkan dan diadu lebih banyak unsur kormeddal-nya daripada ilmiahnya! Cokop.
